Minggu, 02 Agustus 2009

Melawan Teroris

09Jul/20 Tafsir Tematis Kontemporer

MELAWAN TERORIS

Al-Quran S.23 Al-Mu;minun 71
وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُم ْبِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ(71)(المؤمنون)
Artinya:
“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”(S.23 Al-Mu’minun 71).
Tema dan sari tilawah
1. Dalam dunia ilmu terkandung ajaran tentang benar dan salah
2. Dalam ilmu jiwa terkandung sifat-sifat jiwa, Instink atau nafsu-nafsu.
3. Nafsu itu ialah dorongan jiwa untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia secara baik dan makin baik sampai maksimal.
4. Dalam instink tercakup instink religios untuk menyembah Tuhan, jika instink religios ini diabaikan namanya melawan kebemaran.
5. Jika instink religios sudah dikalahkan oleh instink lainnya maka semua lahan hidup manusia akan hancur.
6. Allah sudah memberikan peringatan ini, tetapi manusia melawan.
Masalah dan analisa jawaban
1. Apa dan bagaimana batas yang benar dari yang salah itu? Jawaban sementara: Yang benar itu ialah apa yang dibenarkan secara universal oleh seluruh umat manusi, dimana saja dan kapanpun juga, jika tidak demikian maka benarnya berkurang atau memang tidak benar.
2. Apakah yang dimaksud dengan baik dan tidak baik secara maksimal itu? Jawaban sementara: Baik itu ialah sesuatu yang menyenangkan secara universal semua umat dimana saja dan kapanpun juga, jika tidak demikian namanya buruk sebab akan membawa kesengsaraan di dunia dan neraka di akhirat.
3. Bagaimanakah pandangan Islam terhadap Teroris itu? Jawaban sementara: Teror dan teroris itu bertentangan dengan kebenaran dan kebaikan dalam pandangan Allah yang Maha Benar dan Baik.
Pendalaman dan penelitian
BAB SATU
Mana yang benar mana yang salah
Masalah ke-1: Apa dan bagaimana batas yang benar dari yang salah itu? Jawaban sementara: Yang benar itu ialah apa yang dibenarkan secara universal oleh seluruh umat manusi, dimana saja dan kapanpun juga, jika tidak demikian maka benarnya berkurang atau memang tidak benar.
a.Ukuran benar dan tidak benar
Sejak jaman dahulu kala ahli pikir sudah membahas tentang apa yang dikatakan benar dan apa yang tidak benar itu. Para filosuf telah membuat rumusan bagaimana kita mencari yang benar yang hakiki, melalui beberapa teori:
@ Tingkat-tingkat dan skala prioritas Kebenaran
Sebagaimana terurai berkali-kali, disini diulang bahwa kebenaran ditinjau dari sumber datangnya pernyataan itu bertingkat-tingkat melalui skala prioritas dari yang paling bawah dalam arti yang paling lemah dikalahkan oleh kebenaran yang lebih tinggi atau yang lebih kuat karena lebih mendekati kebenaran yang hakiki, yaitu:
i Kebenaran indrawi
Info atau pernyataan yang datang dari hasil tangkapan pancaindera, dinilai benar jika dia sesuai dengan data faktual dan bila alat indera itu dalam keadaan sehat , bekerja dengan normal. Sehingga jika alat indera itu sakit atau kerjanya tidak normal, maka hasil penginderaan itu tidak dijamin kebenarannya.
ii. Teori ilmiah
Jika info hasil dari pengamatan panca indera diatas itu memang benar kemudian dikembangkan lagi melalui penelitian dengan menepati Ilmu Metodologi Penelitian Ilmiah sehingga teori ini berlaku umum atas semua kasus, bahkan sudah diuji dihadapkan kepada suatu majelis ilmiah misalnya di S-1, S-2, S-3, maka info atau pernyataan tersebut dinilai benar. Selanjutnya jika dikonfrontasikan terhadap kebenaran inderawi, maka Teori Ilmiah lebih kuat mengalahkan kebenaran hasil tangkapan yang sifatnya inderawi. Tetapi jika Ilmu Metodologi Penelitian Ilmiah atau Proses ujiannya tidak menepati sistem ilmiah, maka dia diragukan kebenarannya alias lemah kurang benar atau memang tidak benar.
iii.Filsafat
Definisi filsafat yang perlu kita pegang ialah definisi dari Sidi Ghazalba (1990:24) bahwa filsafat ialah usaha mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran tentang segala sesuatu yang dimasalahkan dengan berpikir secara radikal, sistematis dan universal. Oleh karena itu kebenaran filsafat tingkatnya lebih tinggi dan lebih kuat mengalahkan kebenaran teoritis ilmiah, asalkan kebenaran filsafat itu memang hasil dari kebenaran ilmiah lalu dikembangkan lagi benar-benar dilakukan dengan renungan yang sangat radikal, sistematis dan universal. Maksudnya sampai tuntas kepada ujung paling akhir, teratur, logis dan umum seluruh umat manusia, di semua tempat dan di segala waktu, menepati sistem filsafat dialektika, logika dan epistimilogi. Dengan demikian maka kebenaran filsafat lebih kuat mengalahkan kebenaran teori ilmiah lebih-lebih yang inderawi. (Menurut Hindro Priyono mantan Kepala BIN bahwa penumpasan Teroris harus dilakukan dengan data secara indrawi, ilmiah dan filosofis).
iv..Kebenaran wahyu
Bagi para pemeluk agama, maka ketiga kebenaran inderawi, teori ilmiah maupun filsafat itu dinilai sebagai hasil kerja otak manusia, sehingga pernilaian itu tidak lepas dari sifat manusia yang spekulatip, untung-untungan dan hipotetis artinya benar sementara selama belum ada koreksi, jika timbul koreksi atau pembatalan maka kebenaran inderawi, ilmiah dan filsafat tadi termasuk info yang benar tetapi tidak absolut, tidak mutlak. Oleh karena itulah maka kebenaran yang mutlak hanyalah kebenaran wahyu sebagai ilmu dari Allah Ta’ala yang mutlak serba Maha, Maha Tahu, Maha Benar mengalahkan kebenaran inderawi, teori ilmiah dan fisafat.
Untuk ini Allah berfirman di dalam Al-Qura>n, yaitu:
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ()وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (البقرة ( 147 -148)
Artinya: “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”(S.2 Al-Baqarah 147-148).
Kita sebagai umat Muh}ammad Saw. harus beriman kepada peringkat sumber hukum yang benar menurut ajaran Islam Al-Qura>n S.4 An-Nisa>‘ 59 dan hadis Mu’a>dz ibnu Jabal, maka tingkat-tingkat kebenaran hukum itu adalah sebagai berikut:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (النساء 59)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”(s.4 An-Nisa>‘ 59).
Rasulullah Swa. bersabda di dalam hadis berikut:
عَنْ رِجَالٍ مِنْ أَصْحَابِ مُعَاذٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ كَيْفَ تَقْضِي فَقَالَ أَقْضِي بِمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه الترمذي1249 وابوداود3119)*
Artinya: “ Dari orang-orang teman dekat Mu’a>dz memberitakan bahwa Rasulullah Saw. telah mengutus Mu’a>dz ke Yaman, maka beliau bertanya: “ Bagaimana engkau memutuskan perkara ?” Mu’a>dz menjawab: “Aku menetapkan sesuatu berdasarkan Al-Qura>n” Beliau bertanya: “Jika di dalam Al-Qura>n itu tidak diketemukan keputusannya?” Mu’a>dz menjawab: “Aku tetapkan berdasarkan Sunnah Rasulillah Saw.” Beliau bertanya: “Jika di dalam Sunnah Rasul Saw. tidak diketemukannya bagaimana?” Mu’a>dz menjawab: “Aku berijtihad dengan akalku”. Beliau bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada Mu’a>dz utusan Rasulullah Saw”(HR. Turmudzi> no.1249 dan Abu> Da>wud no.3119).
Dari semua catatan tersebut di atas maka ternyata kebenaran itu bertingkat-tingkat dari yang tertinggi sampai yang paling rendah maka kebenaran yang lebih tinggi mengalahkan kebenaran yang di bawahnya sebaliknya kebenaran yang tingkat rendah tidak dapat mengalahkan apa yang benar tingkat di atasnya berturut-turut sampai yang paling tinggi. Khusus bagi orang yang beriman, tingkat-tingkat kebenaran itu tersusun sebagai berikut:
i. Kitabullah Al-Qura>n, kebenarannya bersifat mutlak tidak terkalahkan
ii. Sunnah Rasul Saw. maka nabi dan rasul itu dijamin oleh Allah dia Ma’shu>m artinya suci dari kesalahan dan dosa, maka kebenarannya satu tingkat di bawah Kitabullah. Memang nabi dan rasul itu mendapat hidayah, penjagaan dan koreksi ketat dari Allah sendiri
iii. Ijtihad akal, ijtihad artinya betul-betul berpikir sangat mendalam, ketat sekali menjunjung tinggi hukum berpikir berusaha keras mencari kebenaran. Hasil ijtihad disini mencakup kitab-kitab fiqh bahkan semua buku-buku dari seluruh cabang disiplin ilmu dalam Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi (IPTEK) sampai kepada ilmu filsafat sekaligus.
Dari peringkat dan prioritas kebenaran yang pertama sampai terakhir terurai di atas, maka usaha untuk mencari ukuran tentang baik dan benar itu tidak lain kecuali mengikuti aturan Allah yang mempunyai sifat Absolut Maha, lebih-lebih mengenai soal-soal alam gaib soal apa yang ada dibalik alam yang serba inderawi ini tidak ada jalan lain kecuali harus mencari penjelasan dari wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla. Seluruh umat manusia wajib berpegang teguh kepada Al-Qura>n dan Sunnah Nabi
BAB DUA
Mana yang baik mana yang tidak baik
Masalak le-2:Apakah yang dimaksud dengan baik dan tidak baik itu? Pokoknya yang baik itu ialah sesuatu yang menyenangkan secara universal semua umat dimana saja dan kapanpun juga, jika tidak demikian namanya buruk sebab akan membawa kesengsaraan di dunia dan neraka di akhirat.
@ Ukuran baik atau buruk
Para ahli piker samapi filosuf semua mencari ukuran apa yang dimaksud dengan baik dan baik secara maksimal itu?
Dari jaman Yunani teori Epicuros, Jeremy Bentham, John Stuart Mill, sampai aliran rasionalis Islam Mu’tazilah bahkan Muh}ammad ‘Abduh dapat disimpulkan bahwa yang disebut baik itu ialah sesuatu yang membawa manusia kepada kelezatan dan kebahagiaan, sebaliknya yang disebut buruk itu ialah sesuatu yang membawa akibat yang tidak enak dan menyengsarakan manusia.
Adat (adat kebiasaan) berasal dari bahasa Arab yang juga disebut dengan “Al-‘Urfu” Para ulama dan ahli piker Ibnul Manzhu>r, Al-Ghazali>, Al-Jurja>ni>, Al-Yas>su>‘i>, Ar-Ra>ghib al-Asfiha>ni>, Az-Zamakhsyari>> semua memberikan kesimpulan bahwa istilah Adat atau “Al-‘Urfu” itu mengandung muatan unsur BAIK, artinya suatu tingkah laku yang sudah menjadi adat kebiasaan orang banyak, adat itu dilakukan karena dirasakan baik, artinya dia membawa manusia kepada kesenangan dan kelezatan.
Para pakar Hukum Adat mulai dari Moh. Koesnoe, Kusumadi Pujosewoyo, Muh}ammad Abu> Zahrah, Al-Khayya>th, van Vollenhoven, Ibnu ‘A>bidi>n, bahkan hadis riwayat Ah}mad ibnu H}anbal sampai kepada Al-Qura>n S.6 Al-An’a>m 199 menyinggung makna bahwa Adat kebiasaan itu mengandung unsur kebaikan atau faktor yang dipandang BAIK oleh orang banyak.
Manusia karena mempunyai akal dan perasaan hati maka timbullah bermacam-macam pendapat mengenai ukuran baik-buruk, yaitu sebagai berikut:: .
(1) Penganut teori Darwin mengunggulkan bahwa yang baik itu ikut yang kuat, yang berkuasa. Celakanya ialah timbulnya perebutan kekuasaan dan orang yang dipandang kuat ini dikalahkan oleh orang baru yang langkah tindakannya jauh berbeda dari yang dikalahkan tadi.
(2) Pengikut teori Sosiologi mengajukan pendapat bahwa yang baik itu ikut orang banyak. Hanya saja teori ini tidak bisa dipegangi sebab selalu berubah-ubah.
(3) Sebagian pemikir mengemukakan pendapat bahwa yang baik itu ialah apa yang timbul dari alam bawah sadar (subcinscious), sebab semua langkah kita itu timbul dari endapan pengalaman yang lewat.
(4) Di sisi lain ada orang yang berpendapat bahwa yang baik itu ialah apa yang sesuai dengan tempat, jaman dan nuansa kehidupan. Tersimpul dari aliran ini ialah bahwa nilai baik atau buruk ini kabur bahkan tidak ada aturan mana yang baik mana yang buruk, sebab tiap tempat dan waktu serta situasi selalu berbeda-beda.
(5) Suatu aliran lagi mengatakan bahwa yang baik itu ialah yang disukainya sebaliknya yang tidak baik itu ialah yang tidak disukai yaitu teori Like and dislike. Kesulitan akan datang karena masing-masing orang bertikai satu sama lain mana yang disukai mana yang dibenci, sehingga nilai baik dan buruk itu menjadi tidak ada kesepakatan.
(6) Aliran Utilitarianisme mengatakan bahwa yang baik itu ialah yang enak. John Stuart Mill (1873M) memperbaiki teori ini menyatakan bahwa yang terbaik ialah yang enak maksimal, yang memberi nikmat kepada orang sebanyak-banyaknya, nikmat lahir dan batin, The Greatest happiness of the greatest numbers, kelezatan jasmani maupun rohani dan bersifat universal.
(7) Madzhab teori idealis menyatakan bahwa baik dan buruk itu mengukurnya melalui 3 nilai, yaitu kebenaran, kebaikan dan keindahan. Namun bagaimanapun idealnya suatu ukuran, semua itu tetap bersumber dari akal manusa dan tidak ada satupun manusia di alam ini yang sempurna, sehingga semua nilai yang mereka ajukan inipun bersifat spekulatip untung-untungan dan hipotetis artinya nilai sementara yang sewaktu-waktu akan berobah atau menjadi salah..
@ Yang paling ideal yaitu bahwa yang baik itu ialah yang enak, lezat, menyenangkan, memuaskan mutlak universal membawa manusia kepada kelezatan yang tertinggi, kepuasan untuk semua orang, segala tempat dan seluruh jaman. Manusia tidak mungkin mengetahui manakah sesuatu yang memberikan kelezatan yang paling tinggi, yang juga dinikmati oleh semua orang, segala tempat dan seluruh jaman, yang Maha Mengetahui hanyalah Allah.
Oleh karena itulah maka menurut Al-Ghazali> yang baik itu ialah mengikuit ketentuan Allah, apa yang dipandang baik oleh Allah itulah yang baik dan sebaliknya yang buruk ialah yang dipandang buruk oleh Allah, sebab Allah itu Maha Mengetahui secara mutlak mana sesuatu yang akan membawa kepada kenikmatan yang hakiki bahagia untuk seluruh umat mausia secara universal siapa saja, dinamapun berada dan kapanpun juga bahkan di dunia sampai akhirat kelak. Allah berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ( 14)
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”(S.3 Ali ‘Imran 14).
Manusia memang memandang harta, tahta dan nafsu birahi yang memberi kelezatan sesaat itulah sebagai ukuran baik dan buruk, lebih enak lebih bail, yang tidak enak itu jelek. Mestinya baik dan buruk itu harusnya diukur menurut ukuran Allah Ta’ala (s2a177).
Analisa: Tokoh aliran yang paling rasional ahli pikir Islam, Mu’tazilah yaitu An-Nazhzha>m bahkan Muh}ammad ‘Abduh menyatakan bahwa akal manusia memang dapat mengetahui kewajiban memilih perbuatan yang baik dan benar yang membawa diri hidup yang bahagia, tetapi manusia tidak mampu mengetahui seluruh masalah yang lebih rinci mendetail mana sesuatu yang baik mana yang tidak baik, mana yang benar mana yang tidak benar, sehingga menurut para ahli pikir, manusia ketika tidak mengetahui sesuatu itu baik atau tidak, benara atau salah, dia harus berlindung di bawah wahyu dan mencari petunjuk dari Allah yang Maha Mengetahui.
Allah Ta’ala memang berkehendak agar supaya manusia dapat hidup dan hidup terus, hidup yang lebih baik lagi, makin lama makin baik, hidup yang selamat, jauh dari penderitaan, selamat dari kesengsaraan, hidup sejahtera serba kecukupan segala kebutuhan hidup secara universal, aman sentosa, damai bahagia untuk seluruh umat manusia, di mana saja dan kapanpun juga, kekal abadi, dunia akhirat maka Allah memberi wahyu sebagai petunjuk hidup supaya diikuti dan ditaati oleh manusia.
Allah itu Mutlak Maha Mengetahui mencakup apa saja yang dikerjakan oleh orang seorang maupun masyarakat, sebaliknya manusia dan masyarakat tidak mengetahui akibat dari perbuatan atau adat kelakuam mereka apakah dia akan membawa diri kepada hidup yang selamat sejahtera, bahagia lahir batin untuk semua orang semua bangsa segala tempat abadi untuk selama-lamanya atay tidak Maka dari itu Allah mengirim nabi dan rasul utusan-Nya guna membimbing umat manusia untuk mengikuti petunjuk Tuhan ke arah hidup yang selamat, sejahtera bahagia dunia akahirat.
BAB TIGA
Islam menentang Teror dan Teroris
Masalah ke-3: Bagaimanakah pandangan Islam terhadap Teroris itu? Jawaban sementara: Teror dan teroris itu bertentangan dengan kebenaran dan kebaikan menurut pandangan Allah yang Maha Benar dan Baik.
Teror adalah suatu kondisi yang sangat miris menakutkan yang menimbulkan perasaan luar biasa datangnya bahaya yang mungkin terjadi. Teroris ialah pelaku yang membuat teror itu.
Dapat diduga bahwa pelaku pembuat terror ini melkukan perbuatan terror karena didorong oleh kenyataan bahwa usaha keinginannya tidak mungkin tercapai sebab ada pihak yang melawan atau menghadangnya yang mempunyai daya kemampuan yang terlalu jauh sehingga tidak mungkin keinginannya itu dilakukannya secara ilmiah, baik dan benar. Tetapi disebabkan karena keinginan atau keyakinan hatinya itu sangat kuat maka si pelaku mengambil jalan yang hanya diaku benar oleh dirinya atau pihaknya sendiri.
Disebabkan karena jaringan komunikasi telah didominasi oleh lawan-lawan Islam maka hampir semua jalur komunikasi dan mass-media apa saja beramai-ramai menyebarkan berita bahwa Islam itu adalah teroris. Padahal menurut penelitian yang jujur teroris itu dilakukan oleh kaum di luar Islam, sebagaimana semua negara anti Amerika menyatakan bahwa Amerika dan sekutrunya adalah negara teroris telah memerangi negara lain dan menyebarkan tuduhan bahwa teroris ialah mereka yang melawan serangan Amerika dan sekutunya itu.
Fuller seorang peneliti di Barat melalui sample sebanyak 498 data serangan teror tahun 2006 dia menyatakan sbb:
1. Sebanyak 424 kali dilakukan oleh kelompok separatis,
2. Sejumlah 55 kali dilakuakan oleh kaum ekstremis kiri,
3. 18 kali dilakukan oleh kekuatan teror lainnya,
4. Hanya satu teror yang dilakukan oleh kelompok Islamis.
Tetapi, karena Islam telah dijadikan agama tertuduh, akibat ulah sekelompok kecil pemeluknya, maka segala macam keganasan yang terjadi di berbagai negara langsung saja-dikaitkan-dengan-Islam.
Pandangan Islam terhadap terror dan teroris
Teror dan teroris itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam.
Teror adalah suatu kondisi yang sangat menakutkan dan menimbulkan perasaan miris akan bahaya yang mungkin terjadi sedangkan Teroris ialah pelaku yang membuat teror itu.
Teror dan teroris itu bertentangan dengan ajaran Islam, dalam berbagai bidang, yaitu:
1. Memilih dalil yang disukai dan menolak dalil yang lain,
2. Bertentangan dengan jaminan Islam atas Hak Asasi Manusia
3. Bertentangan dengan Hukum Perang dalam Islam,
4. Bertentangan dengan Hukum Qishash,
5. Bunuh Diri itu bertentangan dengan Nash Al-Quran
6. Tidak sesuai dengan Hukum Jihad fi Sabilillah
Ad 1 Memisah-misahkan dalil dari kaitannya.
Pelaku terror itu mengunggulkan dalil yang disukai dan meolak dalil yang lain Contohnya:
@يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ(التحريم9)
“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali”(S.66 At-Tahrim 9).
@ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِين َ(النحل125)
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”(S,15 An-Nahl 125).
S.66 At-Tahrim 9 mengandung perintah memerangi orang kafir dan orang munafik dengan sangat leras. Tetapi S.16 An-Mahl 125 memerintahkan kita untuk berdakwah dengan sangat bijak, dengan cara yang menyenangkan dan harus dengan modal yang serba lebih sehingga dapat mengalahkan lawan.
Memilih dalil yang disukai dan menolak dalil lain dapat terjebak meniru perbuatan kaum Ahli Kitab, Allak nerfirman”
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ(85 )
“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”(S.2 Al-Baqarah85).
Kita wajib mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh, tidak tanggung-tanggung serta tidak pilih-pilih dalil untuk dipegang teguh dan mengabaikan dalil yang lain, sesuai dengan firman Allah berikut:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ( البقرة 208)
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”(/S,2 Al-Baqaram 208).
Jadi kita semua harus berusaha sungguh-sungguh mempelajari landasan untuk seluruh gerak dan tindakan kita bahkan dengan wawasan yang luas segala asas dan dalil Al-Quran-Hadis maka kita akan menjadi orang yang bijak dengan sikap yang menyenangkan semua pihak sehingga lawan akan salut menerima Islam dengan senang hati.

Ad 2 Hak Asasi Manusia (HAM)
Abu> Zahrah dalam kitab Ushu>l Fiqh (1958:289) menyatakan bahwa tujuan syari,at Islam (Maqashidu sy-Syari’ak) itu ada tiga pokok utama, yaitu:
1.Menciptakan tiap pribadi sebagai sumber amal soleh
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ(النور55)
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”(S.23 An-Nur 55).
2.Keadilan yang merata seluruh umat, sesuai dengan firman Allah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ(الماءدة 8)
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan}(S/5 Al-Maidah 8). Lihat juga s17a70-s16a90-s49a13, 2a228
3.Masyarakat yang menikmati maslahah yang hakiki, yaitu terjaminnnya 5 macam kebutuhan hidup secara universal dan pengayoman akan hak asasinya (HAM).
Kebutuhan manusia yang universal menurut para Fuqaha` tercakup dalam firman Allah:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ ( الانباء107)
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”(S.21 Al-Anbiya` 107).
Kel;ima macam kebutuhan itu ialah jamianan dan perlindungan atas hak-hak berikut:
i. Jaminan hidup dan hidup yang lebih baik lagi
ii.Jaminan hidupnya syari’at Tuhan
iii.Jaminan hak atas harta kekayaan
iv. Jaminan atas hak pengembangan akal dan kebebasan berpikir
v. Jaminan hak atas pengembangan jenis dan keturunan.
Asy-Syathibi dalam Kitabnya Muwafaqat (tth:2\8) menyatakan bahwa jaminan terpenuhinya tujuan syari’at Islam tersebut dalam pelaksanaannya melalui tiga peringkat, yaitu:
i. Sangat mendesak (Adh-Dharu>riya>t), yaitu kebutuhan hidup yang benar-benar sangat diperlukan, jika tidak terpenuhi akan membayakan hidupnya
ii. Diperlukan (Al-H}a>jiya>t). yaitu kebutuhan hidup yang melengkapi kebutuhan pokok.
iii. Penyemourba (At-Tah}si>niya>t), yaitu kebutuhan hidup yang sifatnya meningkat ke taraf kehidupan yang maik menjadi lebih baik lebih sempurna.

Ad. 3 HUKUM PERANG
Hukum perang dalam nash Al-Quran dan hadis ditentukan sebagai berikut:
~Tidak mendahului dan tidak boleh melampaui batas
(1)وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (البقرة 190)
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”(S.2 Al-Baqarah 190).
(2) وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ (النحل 126)
“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar”(S.16 An-Nahl 126).
(3) ذَلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوقِبَ بِهِ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ(الحج60)
“Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya lagi, pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pema`af lagi Maha Pengampun)S.22 Al-Hajji 60)
5. وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ (الشوري40)
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa mema`afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”(S.42 Asy-Syura 40).
21334 عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ (1)مَنْ قَتَلَ صَغِيرًا (2)أَوْ كَبِيرًا(3) أَوْ أَحْرَقَ نَخْلًا(4) أَوْ قَطَعَ شَجَرَةً مُثْمِرَةً(5) أَوْ ذَبَحَ شَاةً لِإِهَابِهَا لَمْ يَرْجِعْ كَفَافًا (رواه احمد)*
“Dari Tsauban maula Rasulullah Saw bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa membunuh anak, orang sudah tua, mrmbakar pohon kurma, memotong pohon yang sedang berbuah atau menyembelih kambing milik orang lain maka dia pulang tidak akan cukup tidaka lebih”(HR Ahmad no.21334).
@ Perangi sampai tuntas
(5) فَإِذا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّى إِذَا أَثْخَنْتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّى تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ (محمد4)
“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka”(S.47
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ(التحريم9)
“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali”(S.66 At-Tahrim 9).
@ Dilarang membunuh orang perempuan dan anak-anak
2792 عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا قَالَ وُجِدَتِ امْرَأَةٌ مَقْتُولَةً فِي بَعْضِ مَغَازِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَتْلِ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ (رواه البخاري2792 ومسلم 3279)*
“Dari Ibnu ‘Umar r.a.katanya: “Dalam beberapa peperangan Rasulullah Saw tercatat ada wanita yang mati maka beliau melarang membunuh wanita dan anak-anak”(HR Bukhari 2762 dan Muslim 3279).
@. Dilarang memotong pohon-pohonan keculai dengan ijin yang di atas/
37276 عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّهم عَنْهمَا قَالَ حَرَّقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَخْلَ بَنِي النَّضِيرِ وَقَطَعَ وَهِيَ الْبُوَيْرَةُ فَنَزَلَتْ ( مَا قَطَعْتُمْ مِنْ لِينَةٍ أَوْ تَرَكْتُمُوهَا قَائِمَةً عَلَى أُصُولِهَا فَبِإِذْنِ اللَّهِ ) (رواه البخاري (
مَا قَطَعْتُمْ مِنْ لِينَةٍ أَوْ تَرَكْتُمُوهَا قَائِمَةً عَلَى أُصُولِهَا فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيُخْزِيَ الْفَاسِقِينَ ( الحشر5)
“Dari Ibnu ‘Umar-r.a bahwa Rasulullah Saw membakar pohon kurma kaum Banin Nadhir di Buwairah dan memotong batangnya maka turun Al-Quran S.59 Al-Hasyr 5(HR Bukhari no.2727).
"”Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik”(S.59 Al-Hasyr 5).

Ad 4. Hukum Bunuh diri
Bunuh diri itu dilarang keras dalam Islam, disebutkan dalam hadis:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا (رواهالبخاري 5333 ومسلم 158)
:”Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Saw bersabda: "Barang siapa terjun dari gunung bunuh diri maka besuk di neraka Jahanam akan terjun denikian kekal diabadikan selama-lamanya, barang siapa membunuh diri dengan barang siapa meminum racun maka racunnya itu di tangannya di neraka Jahanam kekal diabadikan selama-lamanya dan barang siapa bunuh diri dengan sepotong besi maka besinya itu di tangannya ditusuk-tusukkan atas perutnya di neraka jahanam kekal diabadikan selama-lamanya”(HR Bukhari 5333 dan Muslim 158)/

Ad 5 Hukum Qishash
Barang siapa melakukan delik pembunuhan, dihukum bunuh secara adil dan sangat jeli, Allah berfirman dalam Al-Quran:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا(92) وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا( البقرة 92-93)
“Dan tidak layak bagi seorang mu'min membunuh seorang mu'min (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan
barangsiapa membunuh seorang mu'min karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah.
Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mu'min, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin.
Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin
. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”(S.4 An=Nisa` 92-93).
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَى بِالْأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ (178)
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh;(1) orang merdeka dengan orang merdeka,(2) hamba dengan hamba dan (3)wanita dengan wanita.
Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar (diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula).
Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih”(S.2 Al-Baqarah 178)
@ Tentang orang-orang yang mati syahid
Tentang mati syahid para ulama membedakan mati syahid yang paling terpuji ialah mati syahid di medan perang, kemudian ada beberapa orang yang matinya disamakan dengan mati syahid dalam perang sabilyaitu orang-orang yang matinya disebabkan karena sebab-sebab khusus, karena sakit, kecelakaan atau karena membela hak yang benar, yaitu:
(1) 2617 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ (1) الْمَطْعُونُ (2)وَالْمَبْطُونُ(3) وَالْغَرِقُ (4)وَصَاحِبُ الْهَدْمِ (5)وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ (رواه البخاري)*
“Dari Abu Hurairah- r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Mati syahid itu ada 5 macam, terserang wabah penyakit (pes), terserang penyakit perut, terserang bencana alam, mati dimedan perang sabil”(HR Bukhari no.2617) Dalam Bukhari no.3143 tercatat mati tenggelam, kebakaran, gila, ibu mati sebab melahirkan.Di Bukhari no.2300 tercatat:mati membela hartanya 4025 tercatat mati karena dizalimi orang. Di Turmudzi 341 tercatat mati karena membela diri, membela keluarga,membela agama. Semua ini dinamakan mati syahid
Disamping bertentangan dengan hokum-hukum di atas terror dan teroris juga sangat bertentangan dengan hokum moral, bahwa yang dinamakan baik itu ialah sesuatu yang menyenangkan orang lain, di mana saja dan kapanpun juga. Maka siapa yang membuat orang lain menjadi tidak enak namanya tidak baik lebih menyusahkan, lebih menyakitkan orang namanya sangat jelek dan jelek sekali lebih-lebih menimbulkan korban meninggal yang cukup banyak. Na’dzu billah bagaimana jika korban yang mati itu sampai 200 orang atau lebi bagaiman Hukum Qishash-nya????
…………………….…………-=o0o=-………………………….………
(*) Hubungi kami di : http://imam-muchlas.blogspot.com
ketik kirim kepada: h.imam.muchlas @gmail.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Pengunjung Ke-

Ada kesalahan di dalam gadget ini

About Me

Template by KangNoval & Abdul Munir | blog Blogger Templates