Minggu, 02 Agustus 2009

Al-Quran Jalan Mutlak

(5) Tafsir Tematis Kontemporer

Al-Quran Jalan Mutlak
I. S.17 Al-Isra` 9
إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا (9)(الاسراء)
II. Artinya:
“Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”(S.17 Al-Isra ` 9).
III. Tafsir dan analisa
A.Tema dan sari Tilawah
Dari jalinan kalimat dan pengertian kata-katanya maka tema dan sari tilawah S.17 Al-Isra` 9 di atas dapat disusun sebagai berikut:
1. Allah menurunkan beberapa Kitab Suci dan yang terakhir ialah Al-Quran
2. Al-Quran itu memberikan pelajaran menuju kebenaran yang paling lurus paling benar
3. Al-Quran juga memberikan kabar gembira kepada orang yang beriman
4. Al-Quran pun menjanjikan pahala yang besar kepada mereka yang beramal soleh
B. Masalah dan analisa jawaban
Dari tema dan sari tilawah S.17 Al-Isra`9 di atas masih tersimpan beberapa masalah yang perlu ditelusuri lebih mendalam lagi melalui pertanyaan-pertanyaan berikut, yaitu:
1. Bagaimanakah pengertian istilah kebenaran yang paling lurus itu?
+ Kebenaran yang paling tinggi ialah kebenaran mutlak dari Allah.
2. Bagaimana buktinya bahwa Al-Quran itu merupakan jalan yang lurus?
+Kebenaran jalan Al-Quran dapat ditelusuri dari sisi sejarah dan isi kandungannya.
3. Bagaimana buktinya bahwa Al-Quran kitab suci terakhir sehingga berlaku universal atas semua umat, segala jaman dan seluruh tempat?
+ Sifat universal benarnya Al-Quran dapat direnungkan dari bahasa, isinya mendorong akal manusia berpikir ilmiah, logis filosufis.
C. Pendalaman dan penelitian
Bab I Mencari kebenaran
Hidangan yang menjadi garapan akal manusia ialah semua keadaan yang ada di hadapan manusia. Hasbullah Bakry (1986:17) menyatakan bahwa lahan yang dipikir oleh akal manusia itu ada 3 bidang, yaitu: Logika, Metafisika dan Etika. Logika ialah jalan berpikir yang sehat. Metafisika ialah apa-apa yang dibelakang alam dalam bahasa Arab disebut (ماَ وَرَاءُ الطَّبِِيْعَةِ ). Etika ialah ilmu yang membicarakan soal moralitas, yaitu apa yang harus kita perbuat. Dengan keterangan bahwa Logika itu pendahuluan, metafisika itu macam yang dibicarakan dan Etika itu tujuan pembicaraan.
Manusia itu adalah makhluk yang suka bertanya, suka berpikir dan mencari jawaban artinya ialah manusia itu makhluk pencari kebenaran., demikian catatan Endang Saifuddin dalam bukunya Ilmu, Filsafat dan Agama (1991:17) mengambil pendapat Aresto, Descartes, Mulder, Sartre. Masalahnya ialah bagaimana cara mencari kebenaran itu?
Ada 3 teori untuk menguji sesuatu itu benar ataukah salah, yaitu teori koresponden, koherensi dan pragmatik, lihat tulisan Titus dalam bukunya Persoalan Filsafat (1984:236).
1.Teori Koresponden yaitu cocok tidaknya suatu pernyataan dengan fakta
2.Teori Koheren atau Konsistensi, yaitu suatu pernyataan konsisten sesuai dengan kebenaran pernyataan yang ada sebelumnya.
3. Teori pragmatika, yaitu berguna apakah tidak teori itu.
Para ahli pikir masih membuat istilah-istilah lagi dialektika, logika, epistimologi, metafisika, etika dan estetika. Maksudnya ialah sebagai berikut:
~Dialektika ialah cara mencari kebenaran melalui pembicaraan yang teratur.
~Logika ialah pikiran yang sehat, alur pikiran yang dapat dipakai untuk menetapkan bukti yang benar sekaligus mengalahkan yang tidak benar
~Epistimologi ialah cara meneliti dari mana kebenaran itu datang dan apakah ada dunia di luar akal serta bagaimana cara menguji validitas ilmu itu benar apa keliru.
~ Metafisika ialah apa-apa yang dibelakang alam atau “Beyond nature’ dalam bahasa Arab disebut (َما وَرَاءُ الطَّبِِيْعَةِ ). Adapun problem yang dibicarakan oleh metafisika ialah: a) Tentang wujud Tuhan; b) Soal hubungan akal dengan benda; c) Soal hidup sesudah mati.
~ Etika ialah ilmu yang membicarakan soal moralitas, yaitu apa yang harus kita perbuat
~ Estetika ialah ilmu tentang nilai yang baik, paling indah dalam lapangan seni budaya.
Dapat ditambahkan di sini bahwa Socrates (399SM) adalah orang yang mengembangkan dialektika yaitu cara yang paling baik untuk mendapatkan kebenaran yaitu melalui pembicaraan yang teratur atau dengan seseorang yang dapat memberi rangsangan untuk melahirkan pengetahuan yang terpendam dalam pikirannya. Dialektika dimulai dengan dialog antara dua pendirian yang bertentangan. Melalui cara dialektika diharapkan orang akan mendapat jalan yang lebih mendekati kebenaran. Dan dengan cara dialektika maka semua pihak berusaha mengoreksi pikiran-pikiran yang tidak sempurna atau tidak tepat. Dialektika di dalam bahasa Arabnya ialah Al-Manthiqu ( ( اَلْمَنْطِقُ yaitu usaha untuk mencari kebenaran melalui argumen dan logika.
HM Rasyidi mengartikan Logika itu ialah usaha untuk berpikir yang sehat dan benar dengan mempertandingkan atau mengadu-dalil dengan argumen yang mendukung kebenaran yang dituntut sekaligus menolak apa yang dipandang keliru. Argumentasi dan dialektika merupakan alat untuk menetapkan mana argumen yang benar mana yang salah. Arestoteles dengan bukunya Organon dinilai para pakar sebagai pelopor penulis rumusan kaidah berpikir yang benar
Lebih mendalam lagi maka logika dibagi menjadi 2, yaitu: Logika Formal dan Logika Material; Logika Formal ialah mempelajari asas, aturan hukum berpikir untuk dipatuhi agar supaya seseorang berpikir yang benar dan menghasilkan kebenaran. Logika material ialah mempelajari langsung hasil berpikir dan menguji, asal usul, sumber dan proses ilmu pengetahuan.
@ Tingkat-tingkat dan skala prioritas Kebenaran
Kebenaran ditinjau dari sumber datangnya info itu bertingkat-tingkat melalui skala prioritas yang paling bawah dalam arti yang paling lemah dikalahkan oleh kebenaran yang lebih tinggi atau yang lebih kuat karena lebih mendekati kebenaran, yaitu:
1.Kebenaran indrawi
Info atau pernyataan yang datang dari hasil tangkapan pancaindera, dinilai benar jika dia sesuai dengan data faktual dan bila alat indera itu dalam keadaan sehat , bekerja dengan normal. Sehingga jika alat indera itu sakit atau kerjanya tidak normal, maka hasil penginderaan itu tidak dijamin kebenarannya.
2.Teori ilmiah
Jika info hasil dari pengeinderaan itu memang benar kemudian dikembangkan lagi melalui penelitian dengan menepati Ilmu Metodologi Penelitian Ilmiah sehingga teori ini berlaku umum atas semua kasus, bahkan sudah diuji di dalam suatu majelis ilmiah misalnya di S-1, S2, S3, maka info atau pernyataan tersebut dinilai benar. Selanjutnya jika dikonfrontasikan terhadap kebenaran inderawi, maka Teori Ilmiah lebih kuat mengalahkan kebenaran hasil tangkapan yang sifatnya inderawi. Tetapi jika Ilmu Metodologi Penelitian Ilmiah atau Proses ujiannya tidak menepati sistem ilmiah, maka dia diragukan kebenarannya.

3. Filsafat
Definisi filsafat yang perlu kita pegang ialah definisi dari Sidi Ghazalba dalam Sistematika Filsafat (1990:24) bahwa filsafat ialah usaha mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran tentang segala sesuatu yang dimasalahkan dengan berpikir secara radikal, sistematis dan universal. Oleh karena itu kebenaran filsafat itu tingkatnya lebih tinggi dan lebih kuat mengalahkan kebenaran teoritis ilmiah, jika kebenaran filsafat itu memang berasal dari kebenaran ilmiah lalu dikembangkan lagi benar-benar dilakukan dengan renungan yang sangat radikal, sistematis dan universal. Maksudnya sampai tuntas kepada ujung paling akhir, teratur, logis dan umum seluruh umat manusia, di semua tempat dan di segala waktu. Dengan demikian maka kebenaran filsafat lebih kuat mengalahkan kebenaran teori ilmiah lebih-lebih yang inderawi.
4. Kebenaran wahyu
Bagi para pemeluk agama, maka ketiga kebenaran inderawi, teori ilmiah maupun filsafat itu dinilai sebagai hasil kerja otak manusia, sehingga pernilaian itu tidak lepas dari sifat manusia yang spekulatip, untung-untungan dan hipotetis artinya benar sementara selama belum ada koreksi, jika timbul koreksi atau pembatalan maka kebenaran inderawi, ilmiah dan filsafat tadi termasuk info yang meragukan. Oleh karena itulah maka kebenaran yang mutlak hanyalah kebenaran wahyu sebagai ilmu dari Allah Ta’ala yang serba Maha, Maha Tahu, Maha Benar mengalahkan kebenaran inderawi, teori ilmiah dan fisafat. Allah berfirman di dalam Al-Quran:
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ(147)وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(148)(البقرة)
Artinya: “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”(S.2 Al-Baqarah 147-148).
Bab II Al-Quran jalan kebenaran paling tinggi
Kita sebagai umat Muhammad Saw. harus beriman kepada peringkat sumber hukum yang benar menurut ajaran Al-Quran terutama S.4 An-Nisa` 59 dan hadis Mu’adz ibnu Jabal, maka tingkat-tingkat kebenaran itu ialah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا(59)(النساء)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”(s.4 An-Nisa` 59)
3119 عَنْ أُنَاسٍ مِنْ أَهْلِ حِمْصَ مِنْ أَصْحَابِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا أَرَادَ أَنْ يَبْعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ قَالَ كَيْفَ تَقْضِي إِذَا عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ قَالَ أَقْضِي بِكِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي وَلَا آلُو فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدْرَهُ وَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ اللَّهِ (رواه ابو داود والترمذي 1249)
Artinya: “Dari orang-orang teman dekat Mu’adz dari Himsha bahwa Rasulullah Saw. ketika hendak mengutus Mu’adz ke Yaman, maka beliau bertanya:
“ Bagaimana engkau memutuskan jika ada perkara dihadapkan padamu?” Mu’adz menjawab: “Aku menetapkan sesuatu berdasarkan Al-Quran”
Beliau bertanya: “Jika di dalam Al-Quran itu tidak diketemukan jawabannya?” Mu’adz menjawab: “Aku tetapkan berdasarkan Sunnah Rasulillah Saw.”
Beliau bertanya: “Jika di dalam sunnah Rasul Saw. Dan Al-Quran juga tidak diketemukan di dalam Kitabullah bagaimana?” Mu’adz menjawab: “Aku berijtihad dengan akalku dan tidak aku tunda”.
Lalu beliau menepuk dada Mu’adz dan bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah menyesuaikan utusan Rasulullah Saw cocok dengan apa yang disukai Rasulullah”(HR. Abu Dawud no.3119 dan Turmudzi no.1249).
Dalam suatu masalah yang sudah jelas dan tegas ditentukan oleh Al-Quran dan hadis maka umat Islam tidak ada jalan lain kecuali wajib tunduk dan taat kepada ketentuan ini. Dan jika terjadi perbedaan pendapat karena di dalam Al-Quran dan hadis tidak ada ketentuan yang jelas, maka penyelesaiannya harus melalui Al-Quran dan hadis juga, yaitu melalui Ijma’ atau Qiyas.
Dari catatan dalam bab I di atas dapat dirumuskan tingkat-tingkat kebenaran yang lebih tinggi (no.I) mengalahkan kebenaran yang di bawahnya (no.II-III) sebaliknya kebenaran yang di bawah (No.III-II) tidak dapat mengalahkan kebenaran yang benar yang di atasnya sampai yang paling tinggi, yaitu sebagai berikut:
i.Kitabullah-Al-Quran, kebenarannya bersifat mutlak paling tinggi
ii.Sunnah Rasul Saw. maka kebenarannya satu tingkat di bawah Kitabullah. Sunnah Rasul diyakini Kebenarannya sebab nabi dan rasul itu dijamin oleh Allah Ma’sum artinya suci dari kesalahan dan dosa. Memang nabi dan rasul itu mendapat hidayah, penjagaan dan koreksi ketat dari Allah sendiri
iii.Ijtihad akal, ijtihad artinya betul-betul berpikir sangat mendalam, ketat sekali menjunjung tinggi hukum berpikir mencari kebenaran, maka tingkat benarnya di bawah Sunnah dan Al-Quran. Hasil ijtihad disini mencakup kitab-kitab fiqh bahkan semua buku-buku dari seluruh cabang disiplin ilmu dalam Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi (IPTEK) sampai kepada ilmu filsafat sekaligus.
A. Tantangan Al-Quran
Al-Quran itu mukjizat dari Allah, tidak mungkin makhluk manusia mampu membuat kitab suci seperti Al-Quran itu. Al-Quran sendiri sudah sejak awal meminta kepada mereka yang masih meragukan kebenaran Al-Quran mereka diminta supaya membuat kitab yang mengalahkan kebenaran Al-Quran, sebagaimana disebut di dalam beberapa ayat berikut:
i.Mula-mula mereka diminta untuk membuat satu kitab disebut dalam S.17 Al-Isra` 88, waktu itu baru ada 47 surat, karena mereka tidak mampu memenuhi tuntutan itu maka turun tantangan kedua:
ii.Mereka diminta mendatangkan 10 surat saja disebut dalam S.11 Hud 13, Tetapi 10 surat inipun mereka tidak mampu membuatnya, maka turun tantangan yang ketiga, yaitu:
iii.Mereka diminta untuk membuat satu surat saja yang nilainya mengalahkan satu surat Al-Quran disebut dalam S.2 Al-Baqarah 23. Akan tetapi membuat satu surat inipun mereka tidak bisa. Oleh karena itu terbuktilah maka Al-Quran itu mukjizat dari Allah Swt.(Lihat juga Ibnu Katsir 1966:1 \ 104).
@ Al-Furqan karangan DR A.Shorosh
Belum lewat terlalu lama ini tersebar apa yang disebut THE TRUE FURQAN, yaitu sebuah kitab yang ditulis mirip seperti Al-Quran yang dimaksudkan untuk menggoyang iman dan pandangan kaum muslimin terhadap Al-Quran, penulisnya diduga seorang Evangelis penyebar Injil, penyiar agama Nasrani.
THE TRUE FURQAN itu disiarkan ke seluruh dunia melalui internet oleh Baptis News sekitar tg.17 April 1999. Diduga kuat penulisnya ialah Dr.Anis Shorrosh, seorang Evangelis-Penginjil Amerika. Buku ini tebalnya 368 halaman, dikarang selama 7 th diterbitkan oleh Wine Press Publishing, berisi 77 surat diantaranya ialah surat Al-Mujassad, Al-Muslimun, Al-Washaya dan Al-Iman. Al-Quran karangan Shorrosh ini disiarkan lewat Home Page America On Line (AOL), Al-Furqan ini disambut dengan antosias oleh kaum Nasrani sebagaimana pernyataan gereja Baptis tgl. 27 Mei 1999 yang lalu.
M.Syamsi Ali, Imam Masjid Al-Hikmah New York bulan Juli 2001, memberi komentar bahwa melihat susunan bahasa dan substansinya buku ini tidak lebih dari “sampah” yang menggambarkan rasa iri dan kebencian penulis melawan kebenaran Al-Quran. Salah satu ayatnya berbunyi “Bismil ab al kalimah ar ruuh al ilaah al waahid al awhad” menurut Syamsi Ali, bunyi (tanpa huruf wawu=dan) ini merupakan data bahwa penulis kitab itu telah berkhianat kepada Injil, sebab Kalimat itu hanya mengakui Tuhan Bapak tidak ada “DAN”, jadi Yesus dan Roh Kudus, bukan oknum Tuhan.
DR. Ahsin, Nadirsyah MA dan Dekan Syari’ah IIQ Jakarta telah menyaksikan 4 surat dari The True Furqan (surat Al-Iman ayat 1) itu meniru Al-Quran (S.19 Maryam 16;41;54 dan 56) sementara Al-Furqan palsu Surat Al-Muslimun dan Al-Washaya di sana meniru Al-Quran (S.1 Al-Baqarah 1 ,S.12 Yusuf 1 dan S.7 Al-A’raf 1), kemudian ayat 11 Al-Washaya berbunyi: “Qul li’ibadiya-lladzina amanu yaghzu man aradu wa yaqtulu min ajli rizqihim” . Ayat ini bertentangan dengan prinsip semua agama, tidak ada agama yang menyuruh membunuh siapa saja yang diinginkan. Pada surat Washaya ayat ke-8-9 bahwa hukum yang sangat kecil dengan dosa besar ini tidak dilakukan oleh Al-Quran. Oleh karena itu Kitab Al-Furqan al-Haq ini sama sekali tidak bisa disamakan dengan Al-Quran yang ada ditangan kaum muslimin.
Bab III Al-Quran berlaku universal
A. Akurasi dan Otentisitas dokumen Al-Quran
Tafsir Ar-Razi (Juz X, h.151) mencatat bahwa kelebihan Al-Quran yang mengalahkan kitab suci yang lain ada 3 hal, yaitu: (1)Tidak terkalahkan nilai sastra Arabnya; (2)Dia membawa berita gaib yang terbukti nyata; (3)Al-Quran isinya tidak mengandung pertentangan.
Terhadap ketiga hal ini Al-Quran S28a49; S17a88; S11a13; S2a23 sudah menawarkan kepada orang kafir untuk mengalahkanya dan ternyata sampai sekarang tidak ada manusia yang mampu mengalahkan Al-Quran.
Dapat ditambahkan di sini dua sifat mukjizat Al-Quran, yaitu:
Bunyi ayat-ayat Al-Quran itu dihafalkan oleh milyaran kaum muslimin dalam shalat, sejak pertama kali turun 10 Agustus 610 M sampai sekarang dan selama-lamanya.
Para ulama sudah menghitung jumlah huruf Al-Quran seluruhnya ada 325.245 buah huruf masih utuh, sekarang tulisan dan bunyinya sudah disimpan dalam Compac Disk (CD), otentik orisinil asli selama-lamanya dapat disaksikan dalam komputer.
i. Dokumen dan sastra Arab Al-Qutan tidak ada yang menandingi. Al-Quran sejak awal sudah dihafal orang banyak, ditulis oleh para sahabat dan dibukukan oleh khalifah Abu Bakar, khalifah Usman dan para ulama, lebih rinci adalah sebagai berikut:
(1) Al-Quran ditulis dan dihafalkan
Al-Quran turun pertama kali tgl. 17 Ramadlan tahun ke-satu Bi’tsah bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 M, Al-Quran di jaman awal telah dihafal oleh semua pihak sebab sangat aneh bin ajaib dan 4 tahun setelah itu, saat Umar masuk Islam, Al-Quran sudah ditulis dan sempat dibaca sendiri oleh Umar. Selanjutnya tiap tahun Jibril melakukan ujian-ulangan wahyu Al-Quran yang sudah diturunkan kepada Rasulullah Saw. itu kemudian pada tahun terakhir turunnya Al-Quran, maka Jibril melakukan ulangan dua kali kepada hafalan Al-Qurab Rasul Saw. selanjutnya Al-Quran di samping ditulis juga dihafal oleh para sahabat.
As-Suyuthi mencatat dalam Al-Itqan (1973I\50) bahwa sahabat yang hafal Al-Quran yang gugur-mati syahid dalam pertempuran di Bi`ru Ma’unah saja ada70 orang. Al-Qurthubi menambahkan bahwa sejumlah 70 sahabat itu pula yang gugur syahid dalam perang Yamamah. Muhammad Ali ash-Shabuni dalam At-Tibyan (1980:47) mencatat bahwa para sahabat yang hafal Al-Quran yang gugur mati syahid di dalam pertempuran di Yamamah dan Bi`ru Ma’unah jumlahnya 140 orang sahabat. Sehingga orang yang hafal Al-Quran yang masih hidup pasti jauh lebih banyak berlipat ganda jumlahnya.
2) Pembukuan Al-Quran di jaman Abu Bakar dan Usman
Pada masa kekhalifahannya maka Abu Bakar melakukan pembukuan Al-Quran ditulis oleh sebuah panitia, Zaid ibnu Tsabit ditunjuk menjadi ketua. Pembukuan kembali Al-Quran ini didasarkan atas tulisan para penulis wahyu dan diuji melalui hafalan para Ahlul Qurra` wal Huffazh dan hasil pembukuan ini ditulis lagi dengan penuh ketelitian dan benar-benar sangat cermat oleh panitia pembukuan Al-Quran yang dibentuk oleh khalifah. Zaid ibnu Tsabit ditunjuk lagi oleh ‘Utsman menjadi ketua Panitia Pembukuan Al-Quran yang kedua jaman Usman ini, seluruhnya ditulis kembali dan disempurnakan oleh Panitya ini dengan sangat hati-hati, otentik sepenuhnya Mutawatir.
As-Suyuthi dalam Al-Itqan mengutip riwayat dalam kitab Syarhus Sunnah yang ditulis oleh Al-Baghawi, terjemahnya sebagai berikut:Artinya: ”Sungguh Zaid ibnu Tsabit telah menyaksikan ulangan (Jibril kepada Nabi Saw.) yang terakhir. Jibril menjelaskan di sana mana yang dihapus, mana yang benar tetap. Maka Zaid ibnu Tsabit menuliskannya untuk Rasulullah Saw. dia bacakan kepada beliau dan beliau membacakan naskah itu kepada orang banyak, demikian sampai beliau wafat. Maka oleh karena itulah Abu Bakar dan Umar berpegang kepada Zaid itu kemudian mengumpulkan Al-Quran itu. Demikian juga ‘Utsman telah menunjuk Zaid menjadi Ketua Panitya Pembukuan Mushaf Al-Quran itu”( Al-Itqan 1973:1/50).
Zaid ibnu Tsabit melaksanakan amanat itu dengan penuh ketelitian dan kesungguhan bersama dengan Ubay ibnu Ka’ab, Mu’adz ibnu Jabal, Mu’awiyah. Kemudian naskah hasil pembukuan Al-Quran ini disebarkan ke seluruh wilayah Islam jaman itu, sedangkan naskah yang belum diuji belum dites dan tidak sama dengan Mushaf ‘Utsman ini dibakar dan dilenyapkan.
Abu Bakar Atjeh dalam bukunya Sejarah Al-Quran (1956:25)
mengutip catatan bahwa para ulama sudah menghitung isi Al-Quran dan bagian-bagiannya bahkan sampai huruf-hurufnya. Tercatat di sana bahwa Al-Quran itu terdiri dari 325.345 huruf, yang paling banyak ialah huruf alif, yaitu 48.772, yang paling sedikit ialah huruf Zha` yaitu 842 huruf. Rincian jumlah hurufnya sebagai berikut:
Jumlah huruf isi Al-Quran=325 345 huruf (Alif48772h,zha`842h)
Alif = 48772h Ba` =11 428h Ta` = 3205h Tsa` = 2404h
Jim=3422h Ha` = 4130h Kha` = 2505 h Dal=5978h
Dzal =4930h Ra` = 12246h Zay = 1680h Sin = 5996h
Syin = 2115h Shad = 2037h Dhat=1682h Tha` = 1274h
Zha`= 842h ‘Ain = 9417h Ghain =1217h Fa= 8419h
Qaf = 6613h Kaf =10552h Lam =33520h Mim= 26955h
Nun=45190h Wawu =2586h Ha`= 1670h LamAlif=1970h
Ya` = 4919h ------------------ ------------------- --------------------
As-Suyuthi dalam Al-Itqan (1973:1/70) mencatat bahwa Al-Quran itu berisi 77.943 buah kalimat, 6236 ayat, sekarang masih utuh-lengkap.
Dengan meledaknya kemajuan tehnologi elektronika, khususnya sistem komputerisasi tulis menulis dan dokumentasi, maka sekarang Al-Quran bukan hanya disimpan di dalam kaset, tetapi Al-Quran sudah disimpan dalam bentuk CD-DVD dengan CD-ROM, sehingga bunyi dengan lagunya dan tulisan sekaligus dapat didengar bunyinya dan dilihat tulisannya.
Sekarang negara-negara Islam mempunyai Al-Quran Pusaka yang sangat besar, demikian juga Pemerintah Indonesia mempunyai Al-Quran Pusaka yang berukuran 2 x l meter yang permulaannya ditulis oleh Presiden Ir. Soekarno dan wakil Presiden RI. Drs. Moh.Hatta. Ditulis pertama kali pada tanggal 17 Ramadlan 1369H bertepatan dengan tanggal 23 Juni 1948 dan selesai sekaligus diresmikan pada tanggal 17 Ramadlan 1376H. Allahu Akbar!!! Subhanallah!!! mulai dari huruf, tulisan, bunyi, lagu, isi kandungan makna Al-Quran itu seluruhnya terjaga tersimpan betul-betul sangat ketat, jauh dan suci dari perbuatan tangan-tangan kotor, Al-Quran tetap terjaga dari makna yang paling halus sampai materi yang terlihat oleh indera kasar dan memang Allah sendiri yang menjaganya, Allah telah befirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (الحجر9)
Artinya: “ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (S 15 Al-Hijr 9)
Dapat ditambahkan di sini dua sifat mukjizat Al-Quran, yaitu: (1) Bunyi ayat-ayat Al-Quran itu dihafalkan oleh milyaran kaum muslimin dalam shalatnya, sejak pertama kali turun 10 Agustus 610 M sampai sekarang dan selama-lamanya. (2) Para ulama sudah menghitung jumlah huruf Al-Quran seluruhnya ada 325.245 buah huruf masih utuh, sekarang tulisan dan bunyinya sudah disimpan dalam Compac Disk (CD), otentik orisinil asli selama-lamanya dapat disaksikan dalam komputer.
3) Faktor Bahasa Arab sebagai bahasa Kitab Suci
Sebagaimana maklum, maka Al-Quran melalui bahasa Arab
ternyata telah lolos dari ujian revolusi dan evolusi perkembangan bahasa selama ribuan tahun. Al-Quran sejak diturunkan tgl. 6 Agustus tahun 610 M sampai sekarang masih segar dapat difahami isinya, bahkan tata bahasa atau gramatika bahasa Arab sendiri mengacu dan merujuk kepada sastra Arab Al-Quran sebagai bahasa standar yang benar dan yang paling ideal. Potensi ini sama sekali tidak dapat ditiru oleh bahasa-bahasa yang dipergunakan oleh kitab suci yang lain. Sekarang ini mungkin sudah tidak ada orang yang mampu membaca dan memahami bahasa Ibrani Purba dan bahasa Ibrani Baru, bahasa Mesir Kuno, bahasa Sangsekerta Kuno, bahasa Jowo Kuno dan bahasa-bahasa yang lain yang sudah mati, yang sudah lenyap.
Lebih aneh bin ajaib lagi ialah bahwa Al-Quran itu harus berbahasa Arab, jika ada yang mirip-mirip dengan kitab ini yang tidak menggunakan bahasa Arab bukanlah Al-Quran, mungkin terjemah mungkin tafsirnya. Bahasa Arab Al-Quran itu adalah bahasa Arab masa Jahiliyah ratusan tahun sebelum Muhammad dibangkitkan menjadi nabi. Ternyata bahasa Arab Al-Quran itu sampai sekarang masih segar dapat dibaca mudah difahami menjadi bahasa yang hidup sampai Hari Kiamat. Berbeda sekali dengan bahasa-bahasa Kitab suci agama selain Islam, bahasa yang dipergunakan oleh kitab suci agama di luar Islam itu adalah bahasa jaman purba yang sudah mati, tidak bisa dibaca lagi, orang tidak dapat memahaminya sama sekali, sehingga setiap jaman kitab suci itu harus diterjemahkan ke dalam bahasa yang hidup di jaman yang bersangkutan dan aslinya tidak dilampirkan sehingga tidak dapat diuji kebenarannya.
Prof.DR. Hamka pada tahun 1952 melihat sendiri dengan mata kepala hasil kerja panitya penterjemah Kitab Bibel bahasa Inggris jamannya King James 1612M disamping kitab-kitab Bibel yang berusia 200-600 tahun bahkan 800 tahun sebab bahasanya sudah kuno tidak dapat difahami lagi, harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris jaman baru, yaitu tahun 1952 di Yale University-Amerika,. Penterjemahannya dilakukan dengan steman suara, jika dijumpai kemusykilan, maka jumlah suara yang banyak dinyatakan menang, biar salah-pun jadilah dianggap suci, tidak ambil pusing. Kepada buku Pelajaran Agama Islam tulisan Hamka (1961,h.164) ini dapat ditambahkan bahwa dampak akibat wafatnya suatu bahasa kitab suci, maka jika dibuat kamus bahkan Encycolpedinya, maka kamus/ensiklopedi ini harus dirombak total diselaraskan dengan bahasa dari bahasa yang sudah mati ke dalam bahasa yang masih hidup.
@ Bahasa Arab Al-Quran tidak bisa dikalahkan oleh bahasa apapun juga, lebih-lebih sasra Arabnya tidak pernah dapat ditandingi oleh pakar sastra Arab manapun mulai jaman Jahiliyah sampai sekarang. Sastra Arab dari Al-Quran mempunyai nilai yang memang sangat tinggi, jalinan prosa dan puisi sekaligus diselingi filsafat yang sangat dalam telah mendapat pujian dari Masignon seorang filosuf Prancis. Masignon seperti yang dikutip oleh Yusuf Musa dalam Al-Quran wal Falsafah (1966:4) dia berkata (terjemahnya) sebagai berikut:
“Al-Quran itu jauh berbeda dengan syair dan qashidah, yaitu bahwa Al-Quran mengemukakan qashidah sekaligus filsafat dan berbagai metode pembuktian Ilmu Filsafat”..
Zainal Arifin Abbas dalam bukunya Peri Hidup Muhammad (1956:I\ 687) mencatat bahwa Umar ibnul Khaththab saat dia masuk Islam, maka sebagai salah satu sebabnya ialah karena rasa haru dan takjub kepada bacaan Al-Quran oleh Fathimah adiknya diperkuat lagi saat dia membaca sendiri dengan mata kepala naskah ayat-ayat Al-Quran yang dipinjam dari adiknya tadi, Umar sangat terpesona oleh tingginya nilai sastra Arab dalam ayat-ayat Al-Quran yang dibacanya itu.
Tingginya mutu sastra Al-Quran ini dicatat oleh Al-Al-Wahidi dalam Asbabun Nuzul (1984:.476) sebagai data latar belakang turunnya Al-Quran S.74 Al-Muddatstspr 11, bahwa Al-Walid ibnu Mughirah seorang pujangga pakar sastra Arab jamana Jahiliyah terpesona oleh keajaiban Al-Quran dan terkesimah untuk masuk Islam.
4) ‘Ulumul Quran menjamin kebenaran Al-Quran
‘Ulumul Quran ialah ilmu-ilmu yang terkait dengan Al-Quran, As-Suyuthi dalam Al-Itqan (1973:I\7) mencatat 80 macam ilmu ini dan jika diurai lagi bisa menjadi 300 cabang disiplin ilmu. TM.Hasbi mengambil 16 pokok ilmu ini, intinya ialah ilmu yang menjaga kebenaran Al-Quran dengan sangat ketat sekali mencakup hal-hal berikut:
a) Jumlah isi Al-Quran, hurufnya, kata-kata, kalimat, ayat, surat.
b)Cara membaca dengan makhraj yang fasih dan yang dibenarkan.
c) Arti kata, kalimat, maksud ungkapannya, skala prioritas cara memilih arti yang paling jelas sampai yang paling tersembunyi.
d) Data kronologis turunnya ayat, materi ayat yang turun, detik-detik turunnya, tempat, situasi dan kondisi, siapa-siapa terlibat dalam peristiwa turunnya, relevansi-keterkaitan antar kalimat, ayat dan surat.
e) Skala prioritas sumber hukum, metode penelitian dalil hukum (Istidlal).
f) Metode pengujian riwayat penafsiran, fungsi dan peringkat kedudukan riwayat penafsiran terhadap ayat, hikmah rahasia, semua peristiwa yang terkait dan seluruh masalah yang sangat rumit dan jeli sekali berkaitan dengan Al-Quran.
Seluruh ilmu-ilmu yang terkait dengan Al-Quran ini sudah ditulis lengkap sekali, dimulai sejak jaman-jaman pembukuan Al-Quran di masa khalifah Usman (25H=646M), makin lama makin teliti makin jeli. Semua ilmu-ilmu tersebut pada awalnya disusun dengan menggunakan sistem ilmu hadis, yaitu penelitian atas data dari sumber primer dan sumber skunder, sampai setiap penyambung dan perantara dari sumber primer, dari guru kepada murid, muridnya lagi, muridnya lagi dan semua yang terlibat dalam estafet jalannya berita (data) itu telah diteliti oleh ulama ahli hadis Bukhari, Muslim, Turmudzi, Nasai,Abu Dawud, Ibnu Majah, sangat cermat sekali. Semua itu telah dibukukan dan dirangkum oleh para ulama dalam kitab-kitab ‘Ulumul Quran oleh As-Suyuthi, Az-Zarkasyi, Az-Zarqani, Al-Qaththan, Shubhi Shalih dan lain-lain.
Jika kemudian muncul suatu kitab yang dimaksudkan untuk meniru Al-Quran, seperti The True Furqan di atas, maka dia harus diuji melalui ilmu-ilmu dari ‘Ulumul Quran dengan 80 sampai 300 macam disiplin ilmu tersebut di atas bagaimana ukuran syarat nilai itu.
Oleh karena itu Dr.A.Shorrosh, penulis Quran palsu itu harus menulis 80-300 cabang disiplin ilmu persis seperti 80-300 cabang ‘Ulumul Quran, untuk membuktikan dan menunjukkan data riwayat hadis yang shahih berkaitan dengan turunnya 77 surat dari The True Furqan karangan DR. A.Shorosh itu, bagaimana turunnya, waktunya kapan, tempatnya di mana, siapa yang menyaksikan, siapa yang terlibat, bagaimana situasi dan kondisi saat itu, arti kata, ayat, kalimat, prioritas pemilihan makna, metode pengujian dalil, relevansi tafsir antar ayat dan surat dan semua rincian ilmu-ilmu dari ‘Ulumul Quran minimal 80-300 macam disipilin ilmu yang telah dibukukan oleh para ulama yang telah dicetak dan diterbitkan serta tersimpan dalam gedung-gedung perpustakaan besar di seluruh dunia.

ii. Terbuktinya berita gaib dari Al-Quran
Al-Quran membawa berita gaib dan terbukti nyata, salah satunya dicatat Al-Quran s10a92 bahwa badan jasmani Fir’aun yang hidup 2000 tahun sebelum Masehi yang lalu itu masih utuh diketemukan oleh para pakar arkeologi beberapa tahun yang lalu di Laut Merah, disebutkan dalam Al-Quran Indonesinya sebagai berikut:
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami” (S.10 Yunus92).
iii. Ayat atau kalimat yang musykil
Al-Quran tidak mengandung pertentangan antar kata, ayat dan nash di dalamnya dan jika di sana terdapat nash yang terasa musykil lalu diduga sebagai bertentangan, maka metode pemahamannya ada dua teori:
(a) Rajih-Marjuh, yang jelas lawan yang tidak jelas
Abu Zahrah dalam Ushul-Fiqh (tth:90) menjelaskan bahwa nash yang kurang jelas harus tunduk kepada nash yang mudah dan lebih jelas. Nash itu dikatakan jelas jika orang awam mengerti maknanya dan menurut Abu Zahrah ada 8 tingkat yang paling jelas sampai yang sangat tersembunyi maknanya, yaitu:
(1) Al-Muhkam ialah suatu nash yang mempunyai satu-satunya arti yang mudah difaham, jelas sekali, sangat tegas dan tidak bisa diartikan lain.
(2) Al-Mufassar ialah suatu nash yang menunjuk makna langsung dari jalinan kata-katanya tanpa Ta’wil atau Tafsir walaupun bisa terkena nasakh.
(3)An-Nash ialah suatu lafal yang memberi makna secara langsung yang timbul dari bentuk dan jalinan kata-katanya, namun dimungkinkan adanya Ta’wil dan Nasakh terhadap lafal ini.
(4).Azh-Zhahir ialah suatu lafal yang sekilas memberi arti langsung dari kata-kata itu sendiri, tanpa adanya klausul dari luar yang menambah atau memperjelas
(5)Al-Khafiyyu merupakan lawan istilah Zhahir, yaitu suatu dalil yang kabur dan tidak jelas maknanya.
(6) Al-Musykilu yaitu lafal yang tidak jelas artinya disebabkan karena mempunyai makna lebih dari satu, sehingga memerlukan klausul penjelasan arti mana yang dikehendakinya.
(7) Al-Mujmal yaitu suatu lafal yang maknanya sangat luas mencakup apa saja, sehingga dia memerlukan rincian yang menunjukkan kepada arti bagiannya yang dimaksud.
(8)Al-Mutasyabih yaitu suatu lafal yang arti maksudnya tersembunyi sangat rahasia, sulit sekali untuk menelusuri maksud yang dikehendakinya.
(b) Ta’wil, yang tersirat lawan yang tersurat
Disarikan dari Az-Zarkasyi dalam Al-Burhan (1988: ii\162) maka yang disebut Ta’wil terhadap Al-Quran adalah suatu metode pendekatan kepada Al-Quran dengan mengambil makna dari Al-Quran yang tersirat, bukan yang tersurat-leterlijk sebab ada dalil yang sangat kuat.
M.M.Syarif dalam History of Muslim Philosophy (1963:ii\546) mengutip pendapat Ibnu Rusyd, bahwa yang berhak melakukan Ta`wil hanyalah kaum filosuf bukan ulama fiqh dan hasil Ta’wil boleh diberikan hanya kepada kaum filosuf saja tidak boleh diberikan kepada orang awam, lagi pula nash yang di-Ta`wil memang bagian yang boleh di-Ta’wil.
@ Ilmu Ta`wil ini tidak mungkin diterapkan kepada kitab selain Al-Quran, sebab bunyi asli kitab-kitab itu bukan dari wahyu Allah tetapi terjemahan, kata-kalimatnya buatan manusia. Ta`wil hanya diterapkan kepada bunyi asli wahyu.
Sebagai kesan dan kesimpulan, maka memang Allah sendiri yang menjaga keaslian dan keabadian kebenaran Al-Quran itu, Al-Quran itu mukjizat dari Allah, tidak mungkin makhluk manusia mampu membuat kitab suci seperti Al-Quran itu, Allah berfirman dalam Al-Quran “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya Kami-lah yang memeliharanya”(S.15 Al-Hijr 9).
Sifat universal Al-Quran selain dapat diteliti dari terjaganya dokumen arsip Al-Quran, bahasanya yang tetap hidup dapat difahami setiap jaman maka isi ajarannya mencakup Hak Asasi Manusia (HAM) kebutuhan hidup di dunia dan akhirat, tidak bertentangan dengan perkembangan pikiran dan peradaban umat manusia.
iv. Hak asasi Manusia
Muhammad Abu Zahrah mencatat dalam kitabnya Ushulul Fiqh (tth:289) bahwa para ahli hukum Islam menepis isi Al-Quran, menyimpulkan bahwa proyek yang digarap oleh syari’at Islam dibuat melalui program dengan tiga target berikut:
Pertama: Agar supaya setiap pribadi umat Islam itu menjadi sumber amal soleh, bukan sumber malapetaka kesengsaraan orang lain (Lihat Qs21 Al-Anbiya` 107, S.29 al-‘Ankabut 45).
Kedua : Menegakkan keadilan yang merata bagi seluruh umat manusia (S.4 An-Nisa` 135, S.5 Al-Maidah 38).
Ketiga : Terselenggaranya suatu masyarakat yang penuh maslahah yang hakiki, yaitu tercukupinya kebutuhan hidup manusia secara universal, kebutuhan primer, sekunder dan integratip menurut Ralph Piddington dalam An Introduction to Social anthropology (1950:200. Dan menurut Syathibi dalam kitabnya Al-Muwafaqat (tth:II\10) kebutuhan hidup manusia secara universal itu ialah terjaminnya lima perlindungan hak atas 5 macam kebutuhan hidup, yaitu:
(1)Hak untuk menyembah kepada Tuhan.
(2)Hak untuk menjaga kelangsungan hidup.
(3)Hak atas kesehatan dan pengembangan akal.
(4)Hak untuk pengembangan jenis.
(5) Hak pemilikan atas harta
v. Menghargai akal dan IPTEK
Ayat-ayat Al-Quran atau lafal dan kalimatnya dapat dibagi dua, yaitu Muhkam, Mutasyabih.
a) Muhkam, ialah suatu lafal atau ayat yang mempunyai arti yang gampang difaham, sangat jelas dan tegas sekali, bahkan tidak bisa diartikan lain, contohnya ialah S.42 Asy-Syura` 11, S.112Al-Ikhlash1-4.
b) Mutasyabih, ialah suatu lafal atau ayat yang mengandung arti lebih dari satu makna dan sangat sulit menetapkan makna yang dikehendaki. ContohnyaS 2 Al-Baqarah 228, S 89 Al- Fajri 22. Ternyata bagian yang Mutasyabih ini jumlahnya terlalu banyak berlipat ganda dibanding yang Muhkam.
‘Abdul Wahhab Khallaf dalam Ushulul Fiqh-nya (1956:35) menghitung bahwa ayat yang dispekulasikan sebagai Muhkam diperkirakan hanyalah 8% atau kira-kira 500 ayat saja, sisanya 92 % kira-kira 5736 ayat adalah Mutasyabih. Dari jumlah ini dapat disimpulkan bahwa Al-Quran itu menyuruh manusia untuk berpikir seribu kali. Dari dasar itu pulalah maka di sini dapat ditarik hikmah rahasia bahwa Al-Quran itu mendorong manusia ke kemajuan berpikir dan Al-Quran itu sesuai dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi (IPTEK). Faktor inilah yang membuktikan bahwa Al-Quran itu bersifat universal, berlaku sepanjang jaman dan tempat.
Berkaitan dengan ayat-ayat yang Mutasyabih yang sukar dimengerti maknanya bahkan menjadi hidangan pemikiran akal filosuf tersebut mengandung hikmah yang tersembunyi, maka Yusuf Musa mencatat pernyataan Ar-Razi bahwa hikmah rahasia mengapa Al-Quran mengandung bagian yang bersifat Muhkam dan bagian yang bersifat Mutasyabih disana, sebabnya ialah bahwa Al-Quran itu menyuruh manusia untuk mengasah otak dan mendorong manusia berlomba mencari kebenaran. Muhammad ‘Abduh menambahkan bahwa banyaknya ayat-ayat yang bersifat Mutasyabih ini akan memberikan ketenangan hati kaum yang berpikir sederhana sekaligus menggugah akal pemikiran kaum cerdik cendekia dan para filosuf untuk menggali isi dan kandungan makna Al-Quran.
Harun Nasution dalam salah satu makalahnya menyatakan bahwa dengan banyaknya jumlah ayat yang Mutasyabih berlipat ganda dibanding ayat yang Muhkam, sementara yang Muhkam identik dengan mutlak, sedang yang mutasyabih identik dengan relatif, maka di sana tersimpan hikmah rahasia yang sangat idial, yaitu:
(1) Jika Al-Quran itu terlalu banyak ayat-ayat yang bersifat Muhkam, keras dan mutlak, maka dampak akibatnya ialah bahwa Al-Quran dan agama Islam akan ditinggalkan oleh pemeluk-pemeluknya. Sebab segala masalah sudah dibatasi sangat ketat, tidak boleh berpikir tidak boleh mengemukakan pendapat pemikiran akal.
(2)Jika Al-Quran itu di dalamnya demikian banyak ayat-ayat yang bersifat Mutasyabih, maka akan memberi peluang alternatif yang menggerakkan semangat kemajuan berpikir sehingga penganut agama Islam akan merasa kerasan bahkan lebih mantap untuk tetap menganut agama Islam ini dengan Al-Quran sebagai kitab sucinya itu. Memang Al-Quran itu tidak memuat suatu keraguan sama sekali.
vi. Sifat dinamis, elastis, filosofis Al-Quran
Isi Al-Quran mudah diterima oleh akal yang sederhana sekaligus merupakan bahan pemikiran akal filosof terutama bagian yang Mutasyabih, yaitu. Suatu lafal atau ayat yang mengandung arti lebih dari satu makna dan sangat sulit mencari makna yang dikehendaki. Contohnya ialah ayat berikut:
وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا (الفجر22)
Artinya: ”Dan datanglah Tuhanmu, sedang malaikat berbaris bersap-sap” (S 89 Al- Fajri 22)
Redaksi ayat 22 Al-Fajri begitu mudah diterima oleh mereka yang berpikir primitip-sederhana, yaitu dengan bayangan arti sebagai berikut: Konon dalam suatu upacara kebesaran suatu unit makhluk Tuhan, salah satu susunan acara dalam upacara mereka adalah acara berikut:
“Tuan Inspektur datang, maka seluruh barisan disiapkan, siaaaaaap grak”!!!
Memang Al-Quran itu tidak memuat suatu keraguan sama sekali. Allah berfirman dalam Al-Quran:
لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ (فصلت42)
Artinya: “Yang tidak datang kepadanya (Al Qur'an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (S 41 Fushshilat 42).
…………………….…………-=o0o=-………………………….………
(*) Hubungi kami di : http://imam-muchlas.blogspot.com
ketik kirim kepada: h.imam.muchlas @gmail.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Pengunjung Ke-

Ada kesalahan di dalam gadget ini

About Me

Template by KangNoval & Abdul Munir | blog Blogger Templates