Rabu, 05 Oktober 2011

CURHAT BISIK-BISIK KEPADA ALLAH

011(9)7 Tafsir Tematis Kontempore

011(8)23 Tafsir Tematis Kontemporer

Berbisik-bisik (Curhat)
Kepada Allah
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة 186)
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”(S.2 Al-Baqarah 186).
Latar belakang turunnya Q.s2a186
Latar belakang turunnya Qs2a186: Dari Ash-Shalt dari ayah dari kakeknya bahwa seseorang dari pelosok dusun bertanya kepada Nabi Saw tentang di mana Tuhan itu jauh atau dekat, jika dekat dia akan berbisik-bisik saja apabila jauh dia akan berteriak-teriak kepada Tuhan. Kemudian Allah menurunkan Al-Quran S.2 Al-Baqarah 186 bahwa Allah itu dekat dan mengabulkan do’a hamba (HR Ibnu Abi Hatim juz 6halaman 309 dan Tsiqat Ibnu Hibban juz 8 halaman 436).
Tma dan sari tilawah
0. Pada dasarnya seluruh umat manusia itu mengakui dan percaya adanya Tuhan.
0. Pengakuan dan kepercayaan mereka itu sesuai kadar situasi dan kondisi mereka masing-masing.
0. Sebagian manusia belum mengetahui sifat-sifat Tuhan yang benar, sehingga mempertanyakan apakah Tuhan itu dekat atau jauh.
0. Oleh karena itu Allah menjawab bahwa Allah itu dekat dan mengabulkan do’a permohonan hamba yang berdo’a kepada Allah.
0. Secara logika wajarlah bahwa keseimbangan itu adalah hukum yang berlaku umum seluruh permasalahan, mencakup soal bahwa do’a itu akan dikabulkan Allah jika hamba yang berdo’a itu sendiri memenuhi permintaan Allah
0. Hukum kesimbangan ini akan lebih menjamin terwujudnya hukum kebenaran yang sesungguhnya.
Masalah dan analisa jawaban
Dari banyaknya masalah maka yang mendesak ialah:
1. Bagaimana nasib mereka yang tidak mengetahui sifat Allah yang benar? Jawaban sementara: Allah akan memperhatikan situasi dan kondisi masing-masing hamba-Nya.
2. Apa saja sifat-sifat Allah yang wajib kita ketahui dan kita yakini? Jawaban sementara: Allah itu mempunyai sifat wajib 20 dan Al-Asmaul Husna 99 macam yang merupakan sifat Allah juga.
3. Bagaimana ikhtiar kita agar supaya kita sebagai makhluk yang sangat lemah memenuhi permintaan Allah dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 186 di atas. Jawaban sementara: Ikhtiar untuk memenuhi Qs3a185 di atas ialah dengan sepenuhnya taqarrub atau mendekatkan diri sungguh-sungguh kepada Allah memohon kasih sayang Allah yang Maha Rahman..
Pendalaman dan penelitian
BAB SATU
Agama Islam itu universal
@Masalah ke-1: Bagaimana nasib mereka yang tidak mengetahui sifat Allah yang benar? Jawaban sementara: Allah akan memperhatikan situasi dan kondisi masing-masing hamba-Nya.
Orang yang beriman dalam situasi dan kondisi normal wajib melaksanakan syari’at Islam sepenuhnya menurut hukum Islam sebagaimana ketentuan dari Allah dan Rasulullah Saw. Tetapi kepada mereka yang berada dalam situasi dan kondisi tertentu Allah telah menetapkan Rukhshah atas mereka:
(1)Shalat bagi musafir boleh di-jamak dan Qashar, jika sakit shalat dapat dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi, yaitu: berdiri, duduk atau berbaring, bahkan semampunya. Rasulullah Saw bersabda:
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ )رواه البخاري 1050)
“Dari 'Imrah bin Hushain r.a. berkata: "Suatu kali aku menderita sakit wasir lalu aku tanyakan kepada Nabi Saw tentang cara shalat. Maka Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Shalatlah dengan berdiri, jika kamu tidak sanggup lakukanlah dengan duduk dan bila tidak sanggup juga lakukanlah dengan berbaring pada salah satu sisi badan"(HR Bukhari no.1050)

(2)Puasa bagi musafir, sakit atau keadaan tertentu dapat dihutang atau diganti dengan bentuk-bentuk tertentu.
Puasa itu khusus milik Allah untuk memberi balasan yang sangat mendambakan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ (رراه البخاري  لمسلم 1945 )
“Dari Abu Hurairah dari Nabi Saw, beliau bersabda: "Allah Azza wa Jalla berfirman: 'Puasa adalah milik-Ku, dan Aku sendirilah yang mengganjarinya, orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwatnya, makan dan minumnya karena Aku. Puasa adalah perisai, dan bagi orang yang berpuasa mendapat dua kegembiraan, kegembiraan ketika ia berjumpa dengan rabbnya. Dan sungguh, bau mulut orang yang berpuasa jauh lebih wangi di sisi Allah daripada bau minyak kesturi”(HR Bukhari no. 6938, Muslim1945).
(3)Zakat diwajibkan kepada orang yang memiliki harta dalam ukuran tertentu (nishab), kepada mereka yang tidak memiliki harta dalam jumlah yang ditentukan itu maka tidak wajib zakat atas dia, bahkan mungkin malah berhak menerima zakat.
5563 عَنْ أَبِي بُرْدَةَِ عَنْ أَبِيه قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَجِدْ قَالَ فَيَعْمَلُ بِيَدَيْهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَوْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ فَيُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ فَيَأْمُرُ بِالْخَيْرِ أَوْ قَالَ بِالْمَعْرُوفِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ فَيُمْسِكُ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهُ لَهُ صَدَقَةٌ (رواه البخاري ومسلم 1676)ملهوف=كسمفيتان ياع سوليت
“Dari Sa'id bin Abu Burdah bin Abu Musa Al Asy'ari dari Ayahnya dari Kakeknya dia berkata; Nabi Saw bersabda: "Wajib bagi setiap muslim untuk bersedekah." Para sahabat bertanya; "Bagaimana jika ia tidak mendapatkannya? ' Beliau bersabda:: 'Berusaha dengan tangannya, sehingga ia bisa memberi manfaat untuk dirinya dan bersedekah.' Mereka bertanya; 'Bagaimana jika ia tidak bisa melakukannya? ' Beliau bersabda: 'Menolong orang yang sangat memerlukan bantuan.' Mereka bertanya; 'Bagaimana jika ia tidak bisa melakukannya? ' Beliau bersabda: 'Menyuruh untuk melakukan kebaikan atau bersabda; menyuruh melakukan yang ma'ruf' dia bertanya; 'Bagaimana jika ia tidak dapat melakukannya? ' Beliau bersabda: 'Menahan diri dari kejahatan, karena itu adalah sedekah baginya”(HR Bukhari no.5563 dan Muslim no.1676)
(4) Ibadah haji diwajibkan kepada yang memenuhi syarat rukun, bekal dan kesehatan.Yang tidak mampu naik haji dapat ditutup dengan amal lain, Nabi Saw bersabda:
1422 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ جِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ (رواه البخاري1422 ومسلم118)*
“Dari Abu Hurairah r.a. berkata; Ditanyakan kepada Nabi Saw: "'Amal apakah yang paling utama?". Beliau menjawab: "Iman kepada Allah dan rasul-Nya". Kemudian ditanya lagi: "Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Al Jihad fii sabiilillah". Kemudian ditanya lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Hajji mabrur"(HR Bukhari no.1422 dan Muslim no.118)
Yang tidak mampu naik haji dapat diganti amal lain
1422 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ جِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ (رواه البخاري1422 ومسلم118)*
“Dari Abu Hurairah r.a. berkata; Ditanyakan kepada Nabi Saw: "'Amal apakah yang paling utama?". Beliau menjawab: "Iman kepada Allah dan rasulNya". Kemudian ditanya lagi: "Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Al Jihad fii sabiilillah". Kemudian ditanya lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Hajji mabrur"(HR Bukhari no.1422 dan Muslim no.118)
Dari sisi lain Islam adalah agama universal artinya Islam berlaku dan menjamin kehidupan seluruh umat manusia, dimana saja dan kapanpun juga, jelasnya sebagai berikut:
A Wanita dan pria mempunyai hak yang sama di dalam pahala dan ibadah, Allah berfirman:
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (الاحزاب 35)
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”(S.33 Al-Ahzab 35).
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (النحل 97)
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”(S.16 An-Nahl 97).
B. Wanita dan pria menanggung kewajiban sama dalam akidah, hukum dan akhlak, Allah berfirman::
ياأَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (الممتحنة 12)
“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(S.60 Al-Mumtahanah 12).
C. Islam untuk seluruh umat manusia dan segala bangsa, Rasulullah Saw bersabda:
3193 عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ النَّاسَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَتَعَاظُمَهَا بِآبَائِهَا فَالنَّاسُ رَجُلَانِ بَرٌّ تَقِيٌّ كَرِيمٌ عَلَى اللَّهِ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ هَيِّنٌ عَلَى اللَّهِ وَالنَّاسُ بَنُو آدَمَ وَخَلَقَ اللَّهُ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ قَالَ اللَّهُ ( يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ) (رواه الترمذي)*
“Dari Ibnu Umar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam berkhutbah saat penaklukkan Makkah, beliau bersabda: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kebanggaan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyangnya dari kalian. Manusia terbagi dua; baik, bertakwa, mulia bagi Allah dan keji, sengsara, hina bagi Allah. Manusia adalah anak cucu Adam dan Allah menciptakan Adam dari tanah. Allah berfirman: "Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al Hujuraat: 13) Abu Isa berkata: Hadits ini gharib, kami hanya mengetahuinya dari hadits Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dari jalur sanad ini. Abdullah bin Ja'far dilemahkan oleh Yahya bin Ma'in dan lainnya. Abdullah bin Ja'far adalah ayah Ali bin Al Madini. Abu Isa berkata: Dalam hal ini ada hadits serupa dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas”(HR Turmudzi no.3193)

22391 عَنْ أَبِي نَضْرَةَ حَدَّثَنِي مَنْ سَمِعَ خُطْبَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَسَطِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى أَبَلَّغْتُ قَالُوا بَلَّغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا قَالُوا يَوْمٌ حَرَامٌ ثُمَّ قَالَ أَيُّ شَهْرٍ هَذَا قَالُوا شَهْرٌ حَرَامٌ قَالَ ثُمَّ قَالَ أَيُّ بَلَدٍ هَذَا قَالُوا بَلَدٌ حَرَامٌ قَالَ فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ بَيْنَكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ قَالَ وَلَا أَدْرِي قَالَ أَوْ أَعْرَاضَكُمْ أَمْ لَا كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا أَبَلَّغْتُ قَالُوا بَلَّغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ (رواه اجمد)*
Telah menceritakan kepada kami Isma'il Telah menceritakan kepada kami Sa'id Al Jurairi dari Abu Nadhrah telah menceritakan kepadaku orang yang pernah mendengar khutbah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam ditengah-tengah hari tasyriq, beliau bersabda: "Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu, ingat! Tidak ada kelebihan bagi orang arab atas orang ajam dan bagi orang ajam atas orang arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan ketakwaan. Apa aku sudah menyampaikan?" mereka menjawab: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam telah menyampaikan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Hari apa ini?" mereka menjawab: Hari haram. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Bulan apa ini?" mereka menjawab: Bulan haram. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Tanah apa ini?" mereka menjawab: Tanah haram. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: " Allah mengharamkan darah dan harta kalian diantara kalian -aku (Abu Nadhrah) Berkata; Aku tidak tahu apakah beliau menyebut kehormatan atau tidak- seperti haramnya hari kalian ini, di bulan ini dan di tanah ini." Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Apa aku sudah menyampaikan?" mereka menjawab: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam telah menyampaikan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir”(HR Ahmad no.22391)
D. Hak atas pahala berlaku atas seluruh kasta, strata, tingkat, derajat seluruh umat manusia:
(1) Keringan dalam bidang jihad
لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَى وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ(91)وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ ( التوبة 91-92)
Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu", lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan"(S.9 At-Taubat 91-92).
3534 عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزَاةٍ فَقَالَ إِنَّ بِالْمَدِينَةِ لَرِجَالًا مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ (رواه مسلم وابن ماجة 2755 واحمد 14148)*
“Dari Jabir dia berkata."Kami pernah ikut berperang bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam suatu peperangan, ketika itu beliau bersabda: "Ada beberapa orang laki-laki di Madinah yang mereka tidak ikut serta dalam peperangan, biasanya jika kalian pergi berperang sedangkan kalian melewati suatu lembah, mereka tetap turut bersama-sama kamu, namun mereka sekarang terhalang karena sakit." Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Abu Mu'awiyah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Abu Sa'id Al Asyaj keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Waki'. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Isa bin Yunus semuanya dari Al A'masy dengan sanad ini, namun dalam haditsnya Waki' disebutkan; "Melainkan mereka juga mendapatkan pahala seperti kalian”(HR Muslim no.3534, Ibnu Majah no.2755 dan Ahmad no.14148).
عَنْ أَنَسٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي غَزَاةٍ فَقَالَ إِنَّ أَقْوَامًا بِالْمَدِينَةِ خَلْفَنَا مَا سَلَكْنَا شِعْبًا وَلَا وَادِيًا إِلَّا وَهُمْ مَعَنَا فِيهِ حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ (رواه البخاري2627 والن ماجة 2754) *
“Dari Anas radliallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam suatu peperangan pernah bersabda: "Sesungguhnya ada kaum yang berada di Madinah tidak ikut berperang bersama kita, tidaklah kita mendaki bukit, tidak pula menyusuri lembah melaikan mereka bersama kita (dalam mendapat) pahala berperang karena mereka tertahan oleh udzur (alasan) yang benar". Dan berkata Musa telah bercerita kepada kami Hammad dari Humaid dari Musa bin Anas dari bapaknya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda. Berkata Abu 'Abdullah Al Bukhariy; "(Sanad) yang pertama lebih benar"
2574 عَنْ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى مِيقَاتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَسَكَتُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي (وراه البخاري2574 ومسلم 120)*
Telah bercerita kepada kami Al Hasan bin Shobbah telah bercerita kepada kami Muhammad bin Sabiq telah bercerita kepada kami Malik bin Mighwal berkata; aku mendengar Al Walid bin Al 'Ayzar menyebutkan dari Abu 'Amru Asy Syaibaniy berkata 'Abdullah bin Mas'ud radliallahu 'anhu berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aku katakan: "Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Sholat pada waktunya". Kemudian aku tanyakan lagi: " Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Kemudian berbakti kepada kedua orang tua". Lalu aku tanyakan lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah". Maka aku berhenti menyakannya lagi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Seandainya aku tambah terus pertanyaan, Beliau pasti akan menambah jawabannya kepadaku"

Yang tidak mampu bisa ditutup dengan beramal soleh, sedaqah dll.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللَّهِ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ (وراه البخاري) *
“Dari Jabir ra.dari Nabi Saw beliau bersabda: "Setiap perbuatan baik adalah sedekah”(HR Bukhari no.5562).
1181 عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى(رواه مسلم وابو داود 1092)سلامي= اوغل-اوغل
“Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Jika iqamat telah dikumandangkan, maka tidak ada shalat selain shalat wajib." Telah menceritakan kepada kami Abd bin Humaid telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Zakariya bin Ishaq dengan sanad seperti ini. Telah menceritakan kepada kami Hasan Al Hulwani telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari 'Amru bin Dinar dari Atha` bin Yasar dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seperti hadits di atas. Hammad mengatakan; "Aku pernah menemui 'Amr, lalu dia Menceritakan kepadaku, namun dia tidak memarfu'kannya”(HR Muslim no.1181 dan Abu Dawud no. 1092).
(2)Penerima pahala tidak dimonopoli orang tertentu
Rasulullah Saw. sendiri menetapkan bahwa orang yang modalnya air mata pahalanya sama dengan yang modalnya besar dan hebat bahkan harta dengan nyawa.
4071عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجَعَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ فَدَنَا مِنَ الْمَدِينَةِ فَقَالَ إِنَّ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ قَالَ وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ (رواه البخاري)
Artinya: “Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw. suatu hari pulang dari perang Tabuksaat dekat Madinah beliau bersabda: “Sungguh di kota ada beberpa orang yang mana betul-betul pada setiap kalian menempuh suatu perjalanan, setiap kalian menyeberang lembah sungguh mereka itu beserta kalian” Mereka bertanya: “Ya Rasulullah mana mungkin mereka di dalam kota?” Beliau bersabda: “Mereka terhalang”(HR Bukhari no.4071 dan Muslim no.3534).
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَهُوَ قَاعِدٌ فَقَالَ مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ نَائِمًا عِنْدِي مُضْطَجِعًا هَا هُنَا)رواه البخاري 1049)
“Bahwa 'Imran bin Hushain r.a. berkata: Aku pernah bertanya kepada Nabi Saw tentang seseorang yang melaksanakan shalat dengan duduk. Maka Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Siapa yang shalat dengan berdiri maka itu lebih utama. Dan siapa yang melaksanakan shalat dengan duduk maka baginya setengah pahala dari orang yang shalat dengan berdiri dan siapa yang shalat dengan tidur (berbaring) maka baginya setengah pahala orang yang shalat dengan duduk". Berkata, Abu 'Abdullah; "Menurutku yang dimaksud dengan tidur adalah berbaring”(HR Bukhari no.1049).
Dan menurut riwayat Ahmad no.12409 beliau bersabda: إِلَّا شَرَكُوكُمْ فِيهِ “Mereka betul-betul bersekutu dengan kalian” yang dapat kita terjemahkan: Pahalanya dibagi bersama dengan mereka.
Orang yang dapat dikelompokkan kedalamkategori ini ialah orang-orang yang menderita musibah, jompo, buta, pincang, melarat, tidak ada dosa baginya, tidak berangkat perang sabil, syaratnya ialah azam yang kuat, Lillahi Ta’ala yang diistilahkan Al-Quran ( إِذَ ا نَصَحُواْ للَّهِ وَرَسُولِهِ} bonek dalam arti yang luhur, seperti kisah Mash’ab bin ‘Umair pemegang bendera perang putus tangan kanannya dipedang tentara kafir, lalu bendera dipegang tangan kirinya dan ditebas lagi oleh musuh, ‘Amr bin Jamuh tangannya invalid terkena pedang orang kafir.
Ats-Tsa’alibi mencatat bahwa QS9a91-92 turun berkaitan dengan ‘Abdullah, ‘Abdurrahman, ‘Uqail, Nu’man, Suwaid dan Sinan=6 orang mereka semua pernah ikut dalam perang Khandaq.
@ Tafsir Ibnul Jauzi, mencatat ada 3 sebab mengapa tidak berangkat perang Tabuk, yaitu: idak mempunyai kendaraan,bekal dan spatu.
@Syaratnya ialah niat yang tulus suci, jihad menguras kekuatan
Hadis Buklhari-Muslim di atas merupakan penegasan Rasul Saw. bahwa orang yang modalnya hanya air mata pahalanya sama dengan yang berkorban harta dan nyawa. Zakat emas dan uang iala 2,5% dengan ini maka orang seperti Habibi mempunyai uang 40 milar dia wajib membayar zakat satu milyar. Maka jika seorang buruh (tandur,nutu, matun, cuci) dapat membayar 2,5 % uang yang dimilikinyA maka pahalanya menurut saya sama Habibi membayar satu milyar, bahkan mungkin lebih besar sebab si miskin ini menunaikan sunat sebab hartanya tidak mencpai satu nishab.
Berdalil dengan s9a91-92 dan hadis Bukhari no.4071-Muslim 3534 di atas maka seorang guru ngaji alif bak tak dipucuk gunung penduduk suku terasing primitif maka pahalanya tidak kurang dari pahala Prof. DR. Alwi Syihab mengajar agama Islam di Perguruan Tinggi di Washington DC.
Puasa adalah ibadah yang pahalanya dapat direbut oleh orang yang melarat, orang jompo, orang pincang,orang buntung, orang yang lumpuh dan pahanya tidak kalah dengan pahala puasa seorang Mike Tyson atau Muhammad Ali juara tinju klas berat dunia.
Berdasarkan hadis Bukhari-Muslim ini pula maka seorang yang melarat yang berusaha menabung uang ingin naik haji, maka pahalanya tidak akan kalah dengan mereka yang naik haji setiap tahun karena kekayaannya melimpah. Oleh karena itulah orang Madura bakul rokok kaki lima menabung sedikit-sedikit akhirnya bisa berangkat haji, orang Blitar petani ikan lele, orang Banyuwangi menjual sabut-bathok kelapa semua bisa naik haji maka pahalanya sama dengan milyarder haji plus dengan bekal dolar atau dinar berlimpah-limpah.
@ Jihad menjadi ukuran
Syarat yang sangat menentukan ialah Jihad dan berkurban fi Sbilillah, yaitu maksimalisasi, memeras tenaga atau menguras harta kekayaan yang sangat dicintai untuk sarana &prasarana perjuangan menjunjung tinggi Kalimatillahi hiyal ‘Ulya seperti yang tercatat dalam Al-Quran s9a92 dengan hadis Bukhari no.4071 dan Ahmad no1240 bahwa 6-7 orang yang sangat melarat ingin sekali ikut jihad perag sabil tidak terkabul selain hanya curahan air mata mereka.
@Instink Religios
Allah menciptakan manusia disertai instik disamping akal dan perasaan dengan resep dan ukuran apa saja yang diperlukan oleh manusia, agar supaya mereka tetap dapat melangsungkan kehidupannya dan memenuhi kebutuhannya serta dapat hidup secara lebih baik lagi.
Para ahli sosiologi-antropologi telah mengadakan penelitian mengenai kebutuhan hidup manusia secara universal sama siapa saja dimanapun juga kapanpun jamannya, yaitu:
@. Ralph Piddington dalam bukunya “An Introduction to Social Anthropology” (1950:221) mencatat kebutuhan manusia secara universal (Human Needs):
i. Kebutuhan primer
Kebutuhan primer ialah kebutuhan yang sama antara manusia dengan makhluk hewan, yaitu:(1) Makan, minum, bernafas.(2)Membersihkan diri, istirahat, ketahanan diri dari serangan atau cuaca, demikian juga kesehatan.(3)Pemenuhan hawa nafsu seks/birahi dan anak keturunan.
ii. Kebutuhan sekunder
Kebutuhan sekunder atau kebutuhan sosial terdiri dari: (1)Pengembangan kebudayaan dan pendidikan.(2)Menggerakkan kegiatan bersama, berkomunikasi dengansesama. (3)Kepuasan akan pemilikan atas harta kekayaan. (4) Terselenggaranya ketertiban sosial, hukum dan adat.
iii. Kebutuhan integratip:Kebutuhan integratip ini sangat berkaitan dengan soal perasaan moral, kepercayaan dan kesempurnaan hidup.(1)Melakukan kegiatan ritual keagamaan (Magico religious system)(2)Kebutuhan akan hiburan, permainan dan kepuasan dalam bidang seni serta keindahan.

@ Abraham Maslow dalam bukunya “Motivation and Personality” (1954:15) mengemukakan ada 5 kategori kebutuhan hidup manusia secara universal itu, yaitu:
i. Kebutuhan dasar jasmani
ii. Kebutuhan akan ketertiban dan keamanan
iii. Kegiatan bersama dan rasa sosial
iv. Kehormatan dan penghargaan
v. Puncak kepuasan dan kesempurnaan
@Abu Zahrah dalam kitabnya Ushul Fiqh (1958:291) mencatat apa yang disebut dengan “Maslahah yang hakiki” yang merupakan teori ahli hukum Islam mengenai kebutuhan hidup manusia secara universal, menurut teori ini ialah: 1) Kebutuhan terjaganya syariat Tuhan; 2)Kebutuhan terpeliharanya kelangsungan hidup jiwa;3) Kebutuhan terjaganya hak atas harta kekayaan;4) Kebutuhan terpeliharanya akal yang sehat;5) Kebutuhan terpeliharanya anak keturunan
Jika dianalisa secara mendalam maka teori Piddington dan Maslow seluruhnya dapat tertampung dalam teori ahli hukum Islam secara khusus disebut “Adl-Dlaruriyatul Khamsah”. Maka manusia yang wajar memerlukan terpenuhinya kebutuhan penyembahan kepada Tuhan, kebutuhan hidup, keperluan akan harta, kesehatan dan anak keturunan.
Maslahah yang hakiki ialah suatu sistem kehidupan bermasyarakat yang serba terpenuhi jaminan hidup yang 5 macam, yaitu:(1)Terjaminnya kelangsungan syari’at Tuhan, suatu kehidupan yang berjiwa agama;(2)Terjaminnya hak hidup setiap insan;(3)Terjaminnya hak pemilikan atas harta kekayaan; (4)Terjaminnya perkembangan akal yang sehat; (5)Terjaminnya hak berkeluarga dan berketurunan;
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ( الاعراف172)
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"(S.7 Al-A’raf 172).
@ Ashabul A’raf
Ashabul A’raf ialah sejumlah umat manusia yang kelak tidak masuk surga juga tidak masuk neraka, mereka menangis jika melihat surga tetapi berbesar hati ketika melihat neraka:
الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا وَهُمْ بِالْآخِرَةِ كَافِرُونَ()وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ()وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ()وَنَادَى أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ قَالُوا مَا أَغْنَى عَنْكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ ( الاعراف 45-48)
"” (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat." Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A`raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga:" Salaamun `alaikum". Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu". Dan orang-orang yang di atas A`raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: "Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfa`at kepadamu"(S.7 Al-A’raf 45-48).
Masalah bagaimana nasib mereka yang memang betul-betul belum pernah mendengar dakwah Islam maka dapat diduga bahwa Allah akan menentukan Qudrat-Iradat-Nya kepada mereka apakah akan mendapat azab neraka atau mendapat rahmat yang lain, misalnya seperti kaum Ashabul A’raf itu..
Berdasarkan beberapa nash Al-Quran dan hadis dalam berbagai bidang tersebut di atas maka

BAB DUA
Sifat Allah
@Masalah ke-2:. Apa saja sifat-sifat Allah yang wajib kita ketahui dan kita yakini? Jawaban sementara: Allah itu mempunyai sifat wajib 20, sifat Mustahil 20 dan Al-Asmaul Husna 99 macam yang merupakan sifat Allah juga.
I. Sifat wajib bagi Allah
Ahli pikir dan tokoh Multazilah Allah itu hanya mempunyai satu sifat yaitu Mutlak Maha Esa, sedangkan ulama Asy’ariyah Allah itu mempunyai sifat 20, yaitu: 1. Wujud : Artinya Ada2. Qidam : Artinya Sedia yang terbahagi kepada empat bagian :3. Baqa’ : Artinya Kekal, 4. Mukhalafatuhu Ta’ala Lilhawadith. Artinya : Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu.5. Qiyamuhu Ta’ala Binafsihi : Artinya : Berdiri Allah Ta’ala dengan sendirinya 6. Wahdaniyyah. Artinya : Esa Allah Ta’ala pada zat, pada sifat & pada perbuatan.7. Al – Qudrah : Artinya : Kuasa qudrah Allah SWT.8. Iradah : Artinya : Menghendaki Allah Ta’ala.9. ‘Ilmu : Artinya : Allah Maha Mengetahui 10. Hayat . Artinya : Hidup Allah Ta’ala..11. Sama’ : Artinya : Mendengar Allah Ta’ala.12. Bashar : Artinya : Melihat Allah Ta’ala .13 .Kalam : Artinya : Berkata-kata Allah Ta’ala.14. Kaunuhu Qadiran : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkuasa Mengadakan Dan Mentiadakan.15.Kaunuhu Muridan : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Menghendaki dan menentukan tiap-tiap sesuatu.16.Kaunuhu ‘Aliman : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Mengetahui akan Tiap-tiap sesuatu.17.Kaunuhu Hayyun : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Hidup.18.Kaunuhu Sami’an : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Mendengar akan tiap-tiap yang Maujud.19.Kaunuhu Bashiran : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Melihat akan tiap-tiap yang Maujudat ( Benda yang ada ).20.Kaunuhu Mutakalliman : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkata-kata. . II. Sifat Mustahil artinya tidak mungkin; . Wajib atas tiap-tiap mukallaf mengetahui sifat-sifat yang mustahil bagi Allah yang menjadi lawan daripada dua puluh sifat yang wajib baginya. Maka dengan sebab itulah di nyatakan di sini sifat-sifat yang mustahil satu-persatu :1. ‘Adam; berarti “Tidak ada”.2. Huduth; berarti “Baharu”.3. Fana’; berarti “Binasa”.4. Mumathalatuhu Lilhawadith; berarti “Menyerupai makhluk”.5. Qiyamuhu Bighayrih; berarti “Berdiri dengan yang lain”.6. Ta’addud; berarti “Bberbilang-bilang”.7. ‘Ajz; berarti “Lemah”.8. Karahah; berarti “Terpaksa”.9. Jahl; berarti “jahil/Bodoh”..10. Maut; berarti “Mati”.11. Samam; berarti “Tuli”.12. ‘Ummy; berarti “Buta”.13. Bukm berarti “Bisu”.14. ‘Ajizan; berarti “keadaannya Yang lemah”.15. Karihan; berarti “keadaannya Yang terpaksa”.16. Jahilan; berarti “keadaannya Yang jahil/bodoh”.17. Mayyitan; berarti “keadaannya Yang mati”.18. Shammum; berarti “keadaannya yang tuli”.19. A’ma; berarti “keadaannya Yang buta”.20. Abkam; berarti “keadaannya Yang bisu”
III. Asmaul Husna Secara singkat Al-Quran menyebutkan nama-nama Allah itu:
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ(22)هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ(23)هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ(24)
Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana"”(S.59 Al-Hasyr 22-24). Lengkapnya adalah sebagai berikut: . Yang Maha Pemurah;2. Yang Maha penyayang;3. Yang Maha Kuasa;4. Yang Maha Suci;5. Yang Maha Sejahtera;6. Yang memberikan rasa aman;7. Yang Maha Memelihara;8. Yang Maha Perkasa;9. Yang Maha Memaksa;10. Yang Memiliki kebesaran;
11. Yang Maha Mencipta;12. Yang Maha Melepaskan;13.Yang menciptakan rupa makhluk;14. Yang Maha Mengampuni;15. Yang Maha Perkasa;16. Yang Maha Pemberi Karunia;17. Yang Maha Pemberi Rizki;18.Yang Maha Pembuka;19.Yang Maha Mengetahui Segalanya;20.Yang Maha Menyempitkan kenikmatan;21.Yang Maha Melapangkan Rizki;22. Yang Maha Merendahkan makhluknya;23. Yang Meninggikan Martabat makhluknya;24. Yang Maha Memuliakan makhluknya;25. Yang Maha Menghinakan makhluknya;26. Yang Maha Mendengar;27. Yang Maha Melihat;
28.Yang Maha menetapkan;29. Yang Maha Adil;30. Yang Maha penyantun;31. Yang Maha Mengetahui Segala Rahasia;32. Yang Maha Penyantun, lembut;33. Yang Maha Agung dari segalanya;34. Yang Maha pengampun;35. Yang Maha Membalas jasa atas amal baik hamba-Nya;36. Yang Maha Tinggi;37. Yang Maha Besar;38. Yang Maha Menjaga; 39. Yang Maha Memelihara;40. Yang Maha PembuatPerhitungan;41., Yang memiliki segala keagungan;42. Yang Maha Mulia;43. Yang Maha Mengawasi;44. Yang Maha Mengabulkan;45. Yang Maha Luas;46. Yang Maha Bijaksana;47. Yang Maha Pengasih;48. Yang Maha Mulia;49. Yang Maha Membangkitkan;50.Yang Maha Menyaksikan;51. Yang Maha Benar;52., Yang Maha Memelihara;53. Yang Maha Kuat;55. Yang Maha Melindungi;56. Yang Maha Terpuji;57. Yang Maha Menghitung dan mengetahui jumlah dan ukuran segala sesuatu;58., Yang Maha Memulai;59. Yang Maha Mengembalikan kehidupan makhluk-Nya;60. Yang Maha Menghidupkan;61. Yang Maha Mematikan;62. Yang Maha Hidup;63.Yang Maha Mandiri; 64. Yang Maha Menemukan apa yang dikehendaki;65. Yang Maha Mulia;66. Yang MahaEsa/Tunggal;67. Yang Maha Esa;68. Yang Maha dibutuhkan;69. Yang Maha Kuasa;70. Al-Muqtadir, Yang Maha Berkuasa;71. Yang Maha Mendahulukan;72. Yang Maha Mengakhirkan; 73. Yang Maha Permulaan;74. Yang Maha Akhir;75. Yang Maha Nyata;76. Yang Maha Ghaib;77. Yang Maha Memerintah; 78. Yang Maha Tinngi;79. Yang Maha Derma;80. Yang Maha Menerima Taubat hamba-Nya;81. Yang Maha Penyiksa;82. Yang Maha Pemaaf;83. Yang Maha Pengasih;84. Malikul Mulk, Yang Maha Merajai Kerajaan;85. Yang Maha Memiliki kebesaran dan kemuliaan;86. Yang Maha Adil;87. Yang Maha Pengumpul;88. Yang Maha Kaya;89. Yang Maha Berkecukupan;90. Yang Maha Mencegah;91. Yang Maha Pemberi Derita;92. Yang Maha Pemberi Manfaat;93. Yang Maha Bercahaya;94. Yang Maha Memberi Petunjuk;95. Yang Maha Pencipta;96. Yang Maha Kekal;97. Yang Maha Pewaris;98. Yang Maha Pandai;99. Yang Maha Sabar.


BAB TIGA
IKTIKAF
Curhat kepada Allah
Masalah ke-3. Bagaimana ikhtiar kita agar supaya kita sebagai makhluk yang sangat lemah memenuhi permintaan Allah dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 186 di atas: Jawaban sementara: Ikhtiar untuk memenuhi Qs3a185 di atas ialah sungguh-sungguh taqarrub atau mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah melalui sifat Rahman Rahim-Nya memohon kasih sayang Allah.
Shalat nabi Saw sangat khusyuk dan lama sekali
@Tafsir Al-Baghawi (5h116) dalam menganalisa Qs17a79 (sebagaimana tercantum d awal makalah diatas) mencatat hadis bahwa Abu Salamah bertanya kepada ‘Aisyah tentang shalat Nabi Saw dijawab bahwa beliau shalat dibulan Ramadhan dan semua bulan di luar Ramadhan tidak lebih dari 11 rakaat, (4+4+3 rakaat), tetapi jangan tanya khusyuk dan lamanya luar biasa
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي (رواه البخاري 1874)
“Dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman bahwasanya dia bertanya kepada 'Aisyah radliallahu 'anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka 'Aisyah radliallahu 'anha menjawab: "Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (melaksanakan shalat malam) di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka'at, Beliau shalat empat raka'at, maka jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka'at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian Beliau shalat tiga raka'at. Lalu aku bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?" Beliau menjawab: "Wahai 'Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur" (HR Bukhari no.1874 dan Muslim no.1219).
@Tafsir Al-Khazin (4h275) dalam menganlisa Qs17a77-79 tersebut mencatat hadis bahwa Nabi Saw karena lamanya sampai kaki beliau bengkak:
عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى حَتَّى انْتَفَخَتْ قَدَمَاهُ فَقِيلَ لَهُ أَتَكَلَّفُ هَذَا وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا (رواه مسلم 5044 (
“Dari Al Mughirah bin Syu'bah nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam shalat hingga kedua kaki beliau bengkak, dikatakan pada beliau: Apa Tuan memaksakan ini padahal Allah telah mengampuni dosa yang terlalu dan yang dikemudian. Beliau menyahut: "Apakah aku tidak menjadi hamba yang bersyukur?")HR Muslim no.5044 dan Bukhari n0.377).
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ ثُمَّ مَضَى فَقُلْتُ يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ فَمَضَى فَقُلْتُ يَرْكَعُ بِهَا ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ ثُمَّ رَكَعَ فَجَعَلَ يَقُولُ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحْوًا مِنْ قِيَامِهِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ثُمَّ قَامَ طَوِيلًا قَرِيبًا مِمَّا رَكَعَ ثُمَّ سَجَدَ فَقَالَ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى فَكَانَ سُجُودُهُ قَرِيبًا مِنْ قِيَامِهِ قَالَ وَفِي حَدِيثِ جَرِيرٍ مِنْ الزِّيَادَةِ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ (رواه مسلم 1291 والترمذي 243 والنسائي 999)
" Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dan Abu Mu'awiyah -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim semuanya dari Jarir mereka semua dari Al A'masy -dalam jalur lain- telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair -dan lafazh ini adalah darinya- telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Sa'id bin Ubaidah dari Al Mustaurid bin Al Ahnaf dari Shilah bin Zufar dari Hudzaifah ia berkata; Pada suatu malam, saya shalat (Qiyamul Lail) bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau mulai membaca surat Al Baqarah. Kemudian saya pun berkata (dalam hati bahwa beliau) akan ruku' pada ayat yang ke seratus. Kemudian (seratus ayat pun) berlalu, lalu saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan shalat dengan (surat itu) dalam satu raka'at. Namun (surat Al Baqarah pun) berlalu, maka saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan segera sujud. Ternyata beliau melanjutkan dengan mulai membaca surat An Nisa` hingga selesai membacanya. Kemudian beliau melanjutkan ke surat Ali Imran hingga selesai hingga beliau selesai membacanya. Bila beliau membaca ayat tasbih, beliau bertasbih dan bila beliau membaca ayat yang memerintahkan untuk memohon, beliau memohon, dan bila beliau membaca ayat ta'awwudz (ayat yang memerintahkan untuk memohon perlindungan) beliau memohon perlindungan. Kemudian beliau ruku'. Dalam ruku', beliau membaca: "SUBHAANA RABBIYAL 'AZHIIM " Dan lama beliau ruku' hampir sama dengan berdirinya. Kemudian beliau membaca: "SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH" Kemudian beliau berdiri dan lamanya berdiri lebih kurang sama dengan lamanya ruku'. Sesudah itu beliau sujud, dan dalam sujud beliau membaca: "SUBHAANA RABBIYAL A'LAA " Lama beliau sujud hampir sama dengan lamanya berdiri. Sementara di dalam hadits Jarir terdapat tambahan; Beliau membaca: "SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH RABBANAA LAKAL HAMDU, Ya Tuhan kami bagi-Mu segala puji(HR Muslim no.1291 dan Turmudzi no.243
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ قَالَ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقَرَأَ حَتَّى بَلَغَ رَأْسَ الْمِائَةِ فَقُلْتُ يَرْكَعُ ثُمَّ مَضَى حَتَّى بَلَغَ الْمِائَتَيْنِ فَقُلْتُ يَرْكَعُ ثُمَّ مَضَى حَتَّى خَتَمَهَا قَالَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ قَالَ ثُمَّ افْتَتَحَ سُورَةَ آلِ عِمْرَانَ حَتَّى خَتَمَهَا قَالَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ قَالَ ثُمَّ افْتَتَحَ سُورَةَ النِّسَاءِ فَقَرَأَهَا قَالَ ثُمَّ رَكَعَ قَالَ فَقَالَ فِي رُكُوعِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ قَالَ وَكَانَ رُكُوعُهُ بِمَنْزِلَةِ قِيَامِهِ ثُمَّ سَجَدَ فَكَانَ سُجُودُهُ مِثْلَ رُكُوعِهِ وَقَالَ فِي سُجُودِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى قَالَ وَكَانَ إِذَا مَرَّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا عَذَابٌ تَعَوَّذَ وَإِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَنْزِيهٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سَبَّحَ (رواه احمد 22175)
“Dari Hudzaifah bin Al Yaman berkata; Aku shalat bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam pada suatu malam. Beliau memulai dengan surat Al Baqarah, beliau membacanya hingga sampai penghujung ayat seratus, aku berkata; Setelah ini pasti beliau melakukan ruku', beliau terus membaca hingga sampai ayat duaratus, aku berkata; Setelah ini pasti beliau melakukan ruku', beliau terus membaca hingga sampai khatam, aku berkata; Setelah ini pasti beliau melakukan ruku', lalu beliau membaca surat 'Aali 'Imraan hingga mengkhatamkannya, aku berkata; Setelah ini pasti beliau melakukan ruku', lalu beliau membaca surat An Nisaa`, beliau membacanya kemudian ruku'. Saat ruku' beliau membaca: SUBHAAANA RABBIYAL 'ADHIIM. Berkata Hudzaifah bin Al Yaman: Lamanya beliau ruku' beliau sama seperti saat berdiri, lalu beliau sujud seperti lamanya saat ruku'. Saat sujud beliau membaca: SUBHAANA RABBIYAL A'LAA. Bila beliau membaca ayat rahmat, beliau berdoa, bila membaca ayat adzab beliau meminta perlindungan dan bila ada ayat penyucian untuk Allah 'azza wajalla beliau bertasbih”(HR Ahmad no.22175)*Lamanya rukuk dan sujud seimbang dengan lamanya brerdiri.
@Tafsir Al-Khazin (4h275) dalam menganlisa Qs17a77-79 mencatat
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا فَلَمَّا كَثُرَ لَحْمُهُ صَلَّى جَالِسًا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَقَرَأَ ثُمَّ رَكَعَ(واه البخاري 4460, 1062 ومسلم 5044))
“Dari Aisyah radliallahu 'anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat malam hingga kaki beliau bengkak-bengkak. Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, kenapa Anda melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu dan yang akan datang? Beliau bersabda: "Apakah aku tidak suka jika menjadi hamba yang bersyukur?" Dan tatkala beliau gemuk, beliau shalat sambil duduk, apabila beliau hendak ruku' maka beliau berdiri kemudian membaca beberapa ayat lalu ruku’(HR Bukhari no.4460, 1062 dan Muslim no.5044).
88888888888888888888888888888888888
عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُمْ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ (رواه البخاري 3883 ومسلم 4873)
“ Dari Abu Musa Al Asy'ari r'a ia berkata; “Ketika Rasulullah Saw melihat orang-orang menuruni lembah sambil mengeraskan suara bertakbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar laa ilaaha illallah (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah), maka Rasulullah Saw bersabda: "Rendahkanla suara kalian, karena kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan Dzat yang ghaib. Sesungguhnya kalian menyeru Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia selalu bersama kalian". Saat itu aku berada di belakang hewan tunggangan Rasulullah Saw dan beliau mendengar apa yang aku ucapkan. Saat itu aku membaca; "laa hawla wa laa quwwata illa billah (Tidak ada daya dan upaya melainkan dari Allah) ", maka beliau berkata kepadaku: "Wahai Abdullah bin Qais". Aku jawab; "Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah." Beliau melanjutkan: "Maukah aku tunjukkan kepadamu satu kalimat yang termasuk perbendaharaan surga?". Aku jawab; "Tentu wahai Rasulullah, demi bapak ibuku sebagai tebusan tuan." Beliau bersabda: "laa hawla wa laa quwwata illa billah” (HR Bukhari no.3883 dan Muslim no.4873)
Melihat nyata-nyata bahwa Rasulullah Saw shalat Qiyamul Lail baik di bulan Ramadhan maupun seluruh malam di luar Ramadhan, shalatnya terlalu lama terlalu khusuk, membaca surat Al-Baqarah, surat An-Nisa` dan surat Ali ‘Imran dalam SATU RAKAAT shalat malam beliau. Demikian lamanya shalat beliau dalam shalat malam ini bukan hanya dalam berdiri saja tetapi mencakup rukun-rukun dalam rukuk dan sujudnya yang lain, maka disana terdapat hadis-hadis yang dapat meneladani sedikit dari contoh shalat malam beliau salah satunya ialah Shalam Qiyamul Lail dengan membaca 300 Tasbih dalam shalat yang ada kemungkinan kita semua masih mampu melaksanakannya dank karena analan 300 Tasbih ini maka shalat ini dinamakan Shalat Tasbih sebagaimana uraian berikut:
*Curhat kepada Allah*
@Qiyamul Lail:
0. Persiapan : Bangun jam o1.45 siap-siap bersuci dsb.
2.I’tikaf: Masuk Masjid cari tempat yang paling aman dari suara dan sinar, tidak ada yang mengetahui dirinya kecuali Allah. #Pengertian Malam:
Aslinya malam itu ialah suatu keadaan yang gelap-pekat, sunyi senyap, tidak ada suara, tidak ada sinar, semua makhluk pada tidur semua. Nuansa demikian juga dirasakan oleh orang-orang pelaku sejarah: Nabi Zakariya, Nabi Yunus, Ashabul Kahfi bahkan Rasulullah Saw sebelum diutus menjadi nabi saat beliau ‘Uzlah di
guwa Khira` dan ketika dikejar kaum musyrikin beliau bersembunyi 3 malam di dalam guwa Tsaur, ini dicatat dalam Al-Quran dan disinggung oleh hadis di bawah ini:
عَنْ عَلِيٍّ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَقَ وَقَدْ تَكَلَّمَ بَعْضُ أَهْلِ الْحَدِيثِ فِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَقَ هَذَا مِنْ قِبَلِ حِفْظِهِ وَهُوَ كُوفِيٌّ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَقَ الْقُرَشِيُّ مَدَنِيُّ وَهُوَ أَثْبَتُ مِنْ هَذَا وَكِلَاهُمَا كَانَا فِي عَصْرٍ وَاحِدٍ (رواه الترمذي 1907)
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr, telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir dari Abdurrahman bin Ishaq dari An Nu'man bin Sa'd dari Ali ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya." Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, "Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?" Nabi menjawab: "Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari diwaktu manusia pada tidur." Berkata Abu Isa: Ini merupakan hadits gharib yang tidak kami ketahui kecuali dari haditsnya Abdurrahman bin Ishaq dan sebagian ahli hadits telah mengomentari Abdurrahman bin Ishaq dari segi hapalannya, dia berasal dari Kufah. Adapun Abdurrahman bin Ishaq Al Qurasyi dia berasal dari Madinah dan hapalannya lebih kuat dari yang tadi, dan keduanya hidup sezaman”(HR Turmudzi no.1907).
~ Nabi Zakariya dalam kesedihan memohon penerus perjuangan Jihad fi Sabilillah, beliau berdo’a dalam Mihrab dlam nuansa sunyi senyap, gelap gulita, termaktub dalam Al-Quran:

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا()إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا( مريم -)
“(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakariya, yaitu tatkala ia berdo`a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut”(S.19 Maryam 2-3)
~ Nabi Yunus berdo’a dalam gelap pekat luar b iasa dalam perut ikan yang berada di dasar laut. Tercatat dalam Al-Quran:
وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ( الانبياء 87)
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim."(S.21 Al-Anbiya` 87).
Maka Allah mendorong kita semua untuk bangun malam shalat Tahajjuj, maka Allah menjanjikan suatu kemuliaan:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا( الاسراء79)
" Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”(S.17 Al-Isra` 79).
~ Anak remaja Ashabul Kahfi berdo’a di dalam Guwa dalam gelap sekali sampai tertidur selama 350 tahun, tercatat dalam Al-Quran:
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا(الكهف10)
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”(S.17 Al-Isra` 79).
~ Ketika Rasulullah Saw dikejar-kejar kaum musyrikin dalam rangka hijrah beliau maka beliau istirahat di dalam Guwa Tsaur selama 3 malam, diabadikan Allah dalam Al-Quran:
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ( التوبة 40)
“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo`a: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)"”(S.18 Al-Kahfi 10).

3.Shalat Iftitah: 2 rakaat: Rakaat ke-1 membaca Alfatihah+surat 97 Al-Qadar, memohon pahala 1000 bulan . Rakaat ke-2 membaca Alfatihah +surat 110 An-Nashr, memohon pertolongan dan berhasil mengejar cita-cita
ِS.97 Al-Qadar sangat menjanjikan pahala 1000 bulan.Qs110 mencatat kemenangan besar Nabi Saw merebut Kota Makkah
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ(3)تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ(القدر4)
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan”(S.97 Al-Qadar 3-4)
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (النصر 1)
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”(S.110 An-Nashr 1)

4.Shalatul Lail /Tahajjuj 8 rakaat dibagi 2, yaitu 4 rakaat+4 rakaat
--(A) Empat rakaat-I membaca Tasbih 300 kali sebelum gerak berganti rukun dibagi 4, tiap rakaat 75 kali: Berdiri 15x,Ruku’10x,I’tidal:10x,Sujud 10x,Duduk 10x,Sujud 10x,Duduk 10x-yaitu……
# Kitab Mushannaf 'Abdur Razzaq (3h124) mencatat bahwa hadis shalat Tasbih dishahihkan oleh Shahih Ibnu Khuzaimah (2h223); Imam Al-Albani menyatakan Hasan karena ada hadis musyahid yang memperkuat riwayat Sunan Abu Dawud itu; Kitab Subulus-Salam.
# Ibnu Khuzaimah (4h442) dalam shahihnya no.1149 meriwayatkan hadis shalat Tasbih melalaui jalur 'Ikrimah-Ibnu 'Abbas.
# Kitab Tanzihusy-Syari'ah (2h106) Abu Dawud mengatakan hadis yang paling shahih dari shalat Tasbih ialah yang diterima oleh Ibnu Ma'in, Nasa`i, Ibnu Hibban, (Bukhari mentakhrij dalam bab Qiraat).
Sebaliknya Al-'Uqaili menyatakan tidak ada yang shahih tidak ada yang hasan terutama nama Shidqah bin .Yazid, Musa bin 'Abdul 'Aziz dan Musa bin 'Abdul Aziz yang dinilai Tsiqqah oleh Ibnu Ma'in, Nasa`i, para ulama menilai shahih atau hasan.
Yang menilai shahih atau menilai hasan Ibnu Mandah, Al-Khathib, As-Sam'ani, Abu Musa al-Madini, Abul Hasan al-Mufadhdhal, Al-Mundziri, Ibnush-Shalah, An-Nawawi, As-Subki.
Ad-Dailami mengataan bahwa shalat Tasbih memuji hadis itu shahih, demikian juga Daraquthni, Baihaqi, Muslim, Al-Hakim. Ibnu Hajar. Daraquthni meriwayatkannya yang nilainya hasan. 'Abdul 'Aziz bin Abi Dawud mengatakan siapa ynag ingin masuk surga harus shalat Tasbih.
# Kitab Minhajus Sunnah (7h238) mencatat Shalat Tasbih ada 2 masalah, yang lebih kuat ialah dusta, Ahmad bin Hanbal mengatakannya makruh karena hadisnya cacat, pengikut madzhab Maliki, Hanafi, Syafi'i, melainya mustahap.
# Kiab Syarhus Sunnah (3h439) menukil hadis Tasbih riwayat Abu Dawud yang berumber dari 'Ikrimah dari Ibnu 'Abbas dengan fadhilahnya. Ibnul Mubarak ditanya soal shalat Tasbih mengatakan bacaan Tasbih sebelum dan sesudah Al-Fatihah masing-masing 15 kali sebelum berdiri tidak usah, tetapi 300 kali harus dipenuhi.
# Al-Ba'its 'ala Inkaris Sunnah (1h66) membolehkan membaca ayat dan Tasbih banyak-banyak di dalam shalat berdasarkan hadis .shalat.
#Dikutip pula bahwa slata Tasbih dinamakan Shalat Ar-Raghaib yang disyari'atkan karena banyaknya sunat yang disukai.
#Dalam Shahih Ibnu Khuzaimah (2h223) tercatat no.1216 hadis shalat Tasbih bersumber dari Ibnu 'Abbas. Imam Al-Albani menyatakannya Dha'if, tetapi ada musyhid yang memperkuat dari Sunan Abu Dawud.
# Al-Mustadrak Al-Hakim (3h214) no.1140 meriwayatkan hadis itu melalui sumber Anas bin Malik dari Ummu Sulaim melalui sanad ini shihih menurut syarat Muslim dengan musyahidnya lewat Al-Yamaniyyin. Di halaman lain (1h462) no.1191 mencatat hal yang sama.
# Sunan Baihaqi al-Kubra (3h51) no.680 meriwayatkan hais tentang 10 rakaat shalat Tathawwu' -Nabi Saw dan shalat Tasbih yang bersumber dari Ibnu 'Abbas. (10 rakaat, yaitu:4 seebelum Zhuhur, 2sesudahnya, 4 sebelum 'Ashar).
# Kitab Mushannaf 'Abdur Razzaq (3h124) mencatat bahwa hadis shalat Tasbih dishahihkan atau hasan oleh Ibnu Mandah, Al-Hakim, Al-Mundziri, Ibnush Shalah.
Yang menyatakan mustahab ialah ulama Syafi'iyah berdasarkan hadis dari Ibnu 'Abbas dengan mutabi' oleh hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Rahawaih, Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim, karena ada Mutab i' yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Abu Nu'aim, Ath-Thabrani lewat Abul Jauza` dan Daraquthni dengan 6 jalur.
#KItab Al-Fawaidul Majmu'ah tulisan Ay-Syaukani (1h19) meriwayatkan hadis shalat Tasbih jalur Al'Abbas diriwayatkan oleh Daraquthni marfu' lewat Ibnu 'Abbas dan Abu Rafi', Ad-Dailami juga meriwayatkannya.
# Ibnu Hajar menilai ( لَا بَأسَ) "Tidak ada masalah"
#Kitab Shahihut Targhib wat-Tarhib (1h165) menilai hadis shalat Tasbih melalui jalur 'Ikrimah-Ibnu 'Abbas Shahih li Ghairihi (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Al-Hafizh mengatakan hadis telah diriwayatkan melalui jalur yang banyak oleh Jamaah dari Sahabat yang dinilai shahih. Muslim bin Hajjaj mengatakan bahwa tidak ada yang lebih baik dari pada jalur lewat Ibnu 'Abbas-'Ikrimah ini.
# Kitab Shahih&Dha'if Sunan Turmudzi (1h481) ada tercatat dua jalur: 1) Dari Anas – Ummu Sulaim. 2) Ibnu 'Abbas-Abu Rafi' maka Imam Al-Albani menilai hasan.
# Kitab Tanzihusy Syari'ah (2h107) mencatat bahwa Adz-Dzahabi yang sanadnya lewat Ibnu 'Abbas bernilai hasan*).
-----------------------------------o---------------
~Rakaat ke-1 membaca Alfatihah+S.19 Maryam 1-9 memohon penerus perjuangan mencapai cita-cita Jihad fi Sabilillah dalam arti yang luas, lalu membaca Tasbih lengkap 15 kali, sambil mengingat kembali dosa dan kesalahan sejak remaja dahulu.
~Rakaat ke-2 membaca Alfatihah+surat 26 Asyu’ara`69-85 memohon kesembuhan dari penyakit jasmani dan rohani, sambil ber-Tawashshul anamalan yang berat pernah dilakukan,
~Rakaat ke-3 membaca Alfatihah+surat 81 Atakwir 15-29 memohon taufiq dan ridho Allah supaya keinginan cita2nya aesuai dengan Qudrat-Iradat Allah, sambil mengenang nikmat dari Allah yang pernah dirasakan,tidak mungkin diri dapat menggapainya sampai berhasil.
~Rakaat ke-4 membaca Alfatihah + surat 55 Arrahman 1-17 memohon sih-kawelasan (belas kasihan Allah) atas semua rencana,program dan target sehingga dapat diselesaikan, sambil mengadu bahwa Allah itu Maha Besar tidak ada yang menyamai. Setelah Salam sujud lagi.
5. Sujud membaca do’a didahului dengan shalawat dan hamdalah serta do’a yang dirasakan paling bagus….. lalu curhat, mencurahkan seluruh uneg-uneg seluruh isi hati kesusaha, kesedihan, penderitaan, sakit yang terlalu berat, masalah yang melanda diri, keluarga, sanak kerabat, tetangga, kaum muslimin dan mukminin semua.

--(B) Empat rakaat kedua, Shalatullail-Tahajjuj tidak dengan bacaan Tasbih dengan bacaan:
~Rakaat ke-1 membaca Alfatihah+surat 17 Al-Isra` 78-82 mohon rahmah-barokah obat-hati dari bacaan Al-Quran .
~ Rakaat ke-2 membaca Alfatihah+surat 20 Thaha 25-35 mohon kemuhadahan dalam menghadapi tugas dan ujian yang paling berat, agar tidak menyimpang dari dzikir memuji Allah.
~ Raakt ke-3 membaca Alfatihah+surat 59 Al-Hasyr 22-24 mohon rahmah-barokah yang terucap karena Allah adalah serba Maha dan Mutlak Maha Sempurna.
~ Rakaat ke-4 membaca Alfatihah+ surat 35-41 mohon kepada Allah yang Maha Mendengar isi hati yang tersembunyi dan yang terucap mohon kabulnya do’a untuk diri, ibu-bapak dan seluruh kaum musimin mukminin.
6. Shalat Witir 3 rakaat:
~ Rakaat ke-1 membaca Alfatihah+ surat 87 Al-A’la dengan memuji Allah itu Maha Suci tidak ada kekurangan apapun juga.
~ Rakaat ke-2 membaca Alfatihah + Al-Kafirun mengaku diri manjadi seorang-hamba yang mukmin bukan orang kafir.
~ Rakaat ke-3 membaca Alfatihah + S. 112 Al-Ikhlash, menyerah diri kepada Allah apapun yang akan dianugerahkan Allah kepada diri ini, karena Allah itu tempat bergantung semua masalah.
7. Jika masih ada kesempatan setelah membaca Tasbih 3 kali, membaca Alfatihah dengan memohon pertolongan, surat Al-‘Alaq mohon keselamatan dari semua keburukan dan kejahatan apa saja dan Al-Ikhlash menyerahkan segala urusan kepad Allah lalu surat 33 Al-Ahzab 56 mohon rahmah barokah apa saja, lalu Shalawat 21x memohon apa yang masih ketingalan yang belum disebut sebelumnya.







Nabi Saw shalat lama sekali
@Tafsir Al-Baghawi (5h116) dalam menganalisa Qs17a79 mencatat hadis bahwa Abu Salamah bertanya kepada ‘Aisyah tentang shalat Nabi Saw dalam bulan Ramadhan bahwa beliau shalat dibulan Ramadhan dan semua bulan tidak lebih dari 11 rakaat, 4+4+3 rakaat, tetapi jangan Tanya khusyuk dan lamanya luar biasa.

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا (الاسراء79)
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي (رواه البخاري 1874)
“Dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman bahwasanya dia bertanya kepada 'Aisyah radliallahu 'anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka 'Aisyah radliallahu 'anha menjawab: "Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (melaksanakan shalat malam) di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka'at, Beliau shalat empat raka'at, maka jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka'at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian Beliau shalat tiga raka'at. Lalu aku bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?" Beliau menjawab: "Wahai 'Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur" (HR Bukhari no.1874 dan Muslim no.1219).
أَنَّ عَاصِمَ بْنَ حُمَيْدٍ يَقُولُ سَمِعْتُ عَوْفَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ قُمْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَدَأَ فَاسْتَاكَ وَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى فَبَدَأَ فَاسْتَفْتَحَ مِنْ الْبَقَرَةِ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ وَسَأَلَ وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إِلَّا وَقَفَ يَتَعَوَّذُ ثُمَّ رَكَعَ فَمَكَثَ رَاكِعًا بِقَدْرِ قِيَامِهِ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ ثُمَّ سَجَدَ بِقَدْرِ رُكُوعِهِ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ ثُمَّ قَرَأَ آلَ عِمْرَانَ ثُمَّ سُورَةً ثُمَّ سُورَةً فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ (رواه النسائي 1120 وابوداود 739)
“Bahwa 'Ashim bin Humaid berkata; aku mendengar 'Auf bin Malik berkata; "Aku pernah bangun bersama Nabi Saw, lalu beliau mulai bersiwak dan berwudhu. Kemudian beliau berdiri dan shalat. Beliau mengawali shalatnya dengan membaca surat Al Baqarah. Beliau tidak melewati ayat tentang rahmat kecuali beliau berhenti dan memohon (rahmat). Beliau juga tidak melewati ayat tentang adzab kecuali beliau berhenti dan berlindung darinya. Kemudian beliau ruku' hingga ia tenang dalam keadaan ruku' seukuran berdirinya, sambil membaca: 'Subhana dzil jabaruuti wal malakuuti wal kibriyaai wal 'adzamati (Maha Suci Dzat yang mempunyai hak memaksa dan kekuasaan, serta yang memiliki kesombongan dan keagungan) ' saat ruku'. Lantas beliau Shallallahu'alaihiwasallam sujud seukuran ruku'nya tadi dengan membaca: 'Subhana dzil jabaruuti wal malakuuti wal kibriyaai wal 'adzamati'. Kemudian beliau membaca surat Ali 'Imran, kemudian surat lainnya, dan beliau juga melakukan hal yang sama - di rakaat berikutnya”(HR An-Nasa`I no.1120 dan Abu Dawud no.739)

@Tafsir Al-Khazin (4h275) dalam menganlisa Qs17a77-79 mencatat
تفسير الخازن - (ج 4 / ص 275) حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى حَتَّى انْتَفَخَتْ قَدَمَاهُ فَقِيلَ لَهُ أَتَكَلَّفُ هَذَا وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا (رواه مسلم 5044 والبخاري?377)
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Ziyad bin Ilaqah dari Al Mughirah bin Syu'bah nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam shalat hingga kedua kaki beliau bengkak, dikatakan pada beliau: Apa Tuan memaksakan ini padahal Allah telah mengampuni dosa yang terlalu dan yang dikemudian. Beliau menyahut: "Apakah aku tidak menjadi hamba yang bersyukur?")HR Muslim no.5044 dan Bukhari n0.377).
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ ثُمَّ مَضَى فَقُلْتُ يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ فَمَضَى فَقُلْتُ يَرْكَعُ بِهَا ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ ثُمَّ رَكَعَ فَجَعَلَ يَقُولُ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحْوًا مِنْ قِيَامِهِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ثُمَّ قَامَ طَوِيلًا قَرِيبًا مِمَّا رَكَعَ ثُمَّ سَجَدَ فَقَالَ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى فَكَانَ سُجُودُهُ قَرِيبًا مِنْ قِيَامِهِ قَالَ وَفِي حَدِيثِ جَرِيرٍ مِنْ الزِّيَادَةِ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ (رواه مسلم 1291 والترمذي 243 والنسائي 999)
" Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dan Abu Mu'awiyah -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim semuanya dari Jarir mereka semua dari Al A'masy -dalam jalur lain- telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair -dan lafazh ini adalah darinya- telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Sa'id bin Ubaidah dari Al Mustaurid bin Al Ahnaf dari Shilah bin Zufar dari Hudzaifah ia berkata; Pada suatu malam, saya shalat (Qiyamul Lail) bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau mulai membaca surat Al Baqarah. Kemudian saya pun berkata (dalam hati bahwa beliau) akan ruku' pada ayat yang ke seratus. Kemudian (seratus ayat pun) berlalu, lalu saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan shalat dengan (surat itu) dalam satu raka'at. Namun (surat Al Baqarah pun) berlalu, maka saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan segera sujud. Ternyata beliau melanjutkan dengan mulai membaca surat An Nisa` hingga selesai membacanya. Kemudian beliau melanjutkan ke surat Ali Imran hingga selesai hingga beliau selesai membacanya. Bila beliau membaca ayat tasbih, beliau bertasbih dan bila beliau membaca ayat yang memerintahkan untuk memohon, beliau memohon, dan bila beliau membaca ayat ta'awwudz (ayat yang memerintahkan untuk memohon perlindungan) beliau memohon perlindungan. Kemudian beliau ruku'. Dalam ruku', beliau membaca: "SUBHAANA RABBIYAL 'AZHIIM (Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung)." Dan lama beliau ruku' hampir sama dengan berdirinya. Kemudian beliau membaca: "SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Maha Mendengar Allah akan orang yang memuji-Nya)." Kemudian beliau berdiri dan lamanya berdiri lebih kurang sama dengan lamanya ruku'. Sesudah itu beliau sujud, dan dalam sujud beliau membaca: "SUBHAANA RABBIYAL A'LAA (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi)." Lama beliau sujud hampir sama dengan lamanya berdiri. Sementara di dalam hadits Jarir terdapat tambahan; Beliau membaca: "SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH RABBANAA LAKAL HAMDU (Allah Maha Mendengar akan orang yang memuji-Nya, Ya Tuhan kami bagi-Mu segala puji(HR Muslim no.1291, Turmudzi no.243 dan An-Nasa’i no.999.)
011(8)23 Tafsir Tematis Kontemporer

Berbisik-bisik (Curhat)
Kepada Allah
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة 186)
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”(S.2 Al-Baqarah 186).
Latar belakang turunnya Q.s2a186
Latar belakang turunnya Qs2a186: Dari Ash-Shalt dari ayah dari kakeknya bahwa seseorang dari pelosok dusun bertanya kepada Nabi Saw tentang di mana Tuhan itu jauh atau dekat, jika dekat dia akan berbisik-bisik saja apabila jauh dia akan berteriak-teriak kepada Tuhan. Kemudian Allah menurunkan Al-Quran S.2 Al-Baqarah 186 bahwa Allah itu dekat dan mengabulkan do’a hamba (HR Ibnu Abi Hatim juz 6halaman 309 dan Tsiqat Ibnu Hibban juz 8 halaman 436).
Tma dan sari tilawah
0. Pada dasarnya seluruh umat manusia itu mengakui dan percaya adanya Tuhan.
0. Pengakuan dan kepercayaan mereka itu sesuai kadar situasi dan kondisi mereka masing-masing.
0. Sebagian manusia belum mengetahui sifat-sifat Tuhan yang benar, sehingga mempertanyakan apakah Tuhan itu dekat atau jauh.
0. Oleh karena itu Allah menjawab bahwa Allah itu dekat dan mengabulkan do’a permohonan hamba yang berdo’a kepada Allah.
0. Secara logika wajarlah bahwa keseimbangan itu adalah hukum yang berlaku umum seluruh permasalahan, mencakup soal bahwa do’a itu akan dikabulkan Allah jika hamba yang berdo’a itu sendiri memenuhi permintaan Allah
0. Hukum kesimbangan ini akan lebih menjamin terwujudnya hukum kebenaran yang sesungguhnya.
Masalah dan analisa jawaban
Dari banyaknya masalah maka yang mendesak ialah:
1. Bagaimana nasib mereka yang tidak mengetahui sifat Allah yang benar? Jawaban sementara: Allah akan memperhatikan situasi dan kondisi masing-masing hamba-Nya.
2. Apa saja sifat-sifat Allah yang wajib kita ketahui dan kita yakini? Jawaban sementara: Allah itu mempunyai sifat wajib 20 dan Al-Asmaul Husna 99 macam yang merupakan sifat Allah juga.
3. Bagaimana ikhtiar kita agar supaya kita sebagai makhluk yang sangat lemah memenuhi permintaan Allah dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 186 di atas. Jawaban sementara: Ikhtiar untuk memenuhi Qs3a185 di atas ialah dengan sepenuhnya taqarrub atau mendekatkan diri sungguh-sungguh kepada Allah memohon kasih sayang Allah yang Maha Rahman..
Pendalaman dan penelitian
BAB SATU
Agama Islam itu universal
@Masalah ke-1: Bagaimana nasib mereka yang tidak mengetahui sifat Allah yang benar? Jawaban sementara: Allah akan memperhatikan situasi dan kondisi masing-masing hamba-Nya.
Orang yang beriman dalam situasi dan kondisi normal wajib melaksanakan syari’at Islam sepenuhnya menurut hukum Islam sebagaimana ketentuan dari Allah dan Rasulullah Saw. Tetapi kepada mereka yang berada dalam situasi dan kondisi tertentu Allah telah menetapkan Rukhshah atas mereka:
(1)Shalat bagi musafir boleh di-jamak dan Qashar, jika sakit shalat dapat dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi, yaitu: berdiri, duduk atau berbaring, bahkan semampunya. Rasulullah Saw bersabda:
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ )رواه البخاري 1050)
“Dari 'Imrah bin Hushain r.a. berkata: "Suatu kali aku menderita sakit wasir lalu aku tanyakan kepada Nabi Saw tentang cara shalat. Maka Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Shalatlah dengan berdiri, jika kamu tidak sanggup lakukanlah dengan duduk dan bila tidak sanggup juga lakukanlah dengan berbaring pada salah satu sisi badan"(HR Bukhari no.1050)

(2)Puasa bagi musafir, sakit atau keadaan tertentu dapat dihutang atau diganti dengan bentuk-bentuk tertentu.
Puasa itu khusus milik Allah untuk memberi balasan yang sangat mendambakan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ (رراه البخاري  لمسلم 1945 )
“Dari Abu Hurairah dari Nabi Saw, beliau bersabda: "Allah Azza wa Jalla berfirman: 'Puasa adalah milik-Ku, dan Aku sendirilah yang mengganjarinya, orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwatnya, makan dan minumnya karena Aku. Puasa adalah perisai, dan bagi orang yang berpuasa mendapat dua kegembiraan, kegembiraan ketika ia berjumpa dengan rabbnya. Dan sungguh, bau mulut orang yang berpuasa jauh lebih wangi di sisi Allah daripada bau minyak kesturi”(HR Bukhari no. 6938, Muslim1945).
(3)Zakat diwajibkan kepada orang yang memiliki harta dalam ukuran tertentu (nishab), kepada mereka yang tidak memiliki harta dalam jumlah yang ditentukan itu maka tidak wajib zakat atas dia, bahkan mungkin malah berhak menerima zakat.
5563 عَنْ أَبِي بُرْدَةَِ عَنْ أَبِيه قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَجِدْ قَالَ فَيَعْمَلُ بِيَدَيْهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَوْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ فَيُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ فَيَأْمُرُ بِالْخَيْرِ أَوْ قَالَ بِالْمَعْرُوفِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ فَيُمْسِكُ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهُ لَهُ صَدَقَةٌ (رواه البخاري ومسلم 1676)ملهوف=كسمفيتان ياع سوليت
“Dari Sa'id bin Abu Burdah bin Abu Musa Al Asy'ari dari Ayahnya dari Kakeknya dia berkata; Nabi Saw bersabda: "Wajib bagi setiap muslim untuk bersedekah." Para sahabat bertanya; "Bagaimana jika ia tidak mendapatkannya? ' Beliau bersabda:: 'Berusaha dengan tangannya, sehingga ia bisa memberi manfaat untuk dirinya dan bersedekah.' Mereka bertanya; 'Bagaimana jika ia tidak bisa melakukannya? ' Beliau bersabda: 'Menolong orang yang sangat memerlukan bantuan.' Mereka bertanya; 'Bagaimana jika ia tidak bisa melakukannya? ' Beliau bersabda: 'Menyuruh untuk melakukan kebaikan atau bersabda; menyuruh melakukan yang ma'ruf' dia bertanya; 'Bagaimana jika ia tidak dapat melakukannya? ' Beliau bersabda: 'Menahan diri dari kejahatan, karena itu adalah sedekah baginya”(HR Bukhari no.5563 dan Muslim no.1676)
(4) Ibadah haji diwajibkan kepada yang memenuhi syarat rukun, bekal dan kesehatan.Yang tidak mampu naik haji dapat ditutup dengan amal lain, Nabi Saw bersabda:
1422 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ جِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ (رواه البخاري1422 ومسلم118)*
“Dari Abu Hurairah r.a. berkata; Ditanyakan kepada Nabi Saw: "'Amal apakah yang paling utama?". Beliau menjawab: "Iman kepada Allah dan rasul-Nya". Kemudian ditanya lagi: "Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Al Jihad fii sabiilillah". Kemudian ditanya lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Hajji mabrur"(HR Bukhari no.1422 dan Muslim no.118)
Yang tidak mampu naik haji dapat diganti amal lain
1422 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ جِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ (رواه البخاري1422 ومسلم118)*
“Dari Abu Hurairah r.a. berkata; Ditanyakan kepada Nabi Saw: "'Amal apakah yang paling utama?". Beliau menjawab: "Iman kepada Allah dan rasulNya". Kemudian ditanya lagi: "Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Al Jihad fii sabiilillah". Kemudian ditanya lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Hajji mabrur"(HR Bukhari no.1422 dan Muslim no.118)
Dari sisi lain Islam adalah agama universal artinya Islam berlaku dan menjamin kehidupan seluruh umat manusia, dimana saja dan kapanpun juga, jelasnya sebagai berikut:
A Wanita dan pria mempunyai hak yang sama di dalam pahala dan ibadah, Allah berfirman:
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (الاحزاب 35)
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”(S.33 Al-Ahzab 35).
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (النحل 97)
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”(S.16 An-Nahl 97).
B. Wanita dan pria menanggung kewajiban sama dalam akidah, hukum dan akhlak, Allah berfirman::
ياأَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (الممتحنة 12)
“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(S.60 Al-Mumtahanah 12).
C. Islam untuk seluruh umat manusia dan segala bangsa, Rasulullah Saw bersabda:
3193 عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ النَّاسَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَتَعَاظُمَهَا بِآبَائِهَا فَالنَّاسُ رَجُلَانِ بَرٌّ تَقِيٌّ كَرِيمٌ عَلَى اللَّهِ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ هَيِّنٌ عَلَى اللَّهِ وَالنَّاسُ بَنُو آدَمَ وَخَلَقَ اللَّهُ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ قَالَ اللَّهُ ( يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ) (رواه الترمذي)*
“Dari Ibnu Umar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam berkhutbah saat penaklukkan Makkah, beliau bersabda: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kebanggaan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyangnya dari kalian. Manusia terbagi dua; baik, bertakwa, mulia bagi Allah dan keji, sengsara, hina bagi Allah. Manusia adalah anak cucu Adam dan Allah menciptakan Adam dari tanah. Allah berfirman: "Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al Hujuraat: 13) Abu Isa berkata: Hadits ini gharib, kami hanya mengetahuinya dari hadits Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dari jalur sanad ini. Abdullah bin Ja'far dilemahkan oleh Yahya bin Ma'in dan lainnya. Abdullah bin Ja'far adalah ayah Ali bin Al Madini. Abu Isa berkata: Dalam hal ini ada hadits serupa dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas”(HR Turmudzi no.3193)

22391 عَنْ أَبِي نَضْرَةَ حَدَّثَنِي مَنْ سَمِعَ خُطْبَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَسَطِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى أَبَلَّغْتُ قَالُوا بَلَّغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا قَالُوا يَوْمٌ حَرَامٌ ثُمَّ قَالَ أَيُّ شَهْرٍ هَذَا قَالُوا شَهْرٌ حَرَامٌ قَالَ ثُمَّ قَالَ أَيُّ بَلَدٍ هَذَا قَالُوا بَلَدٌ حَرَامٌ قَالَ فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ بَيْنَكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ قَالَ وَلَا أَدْرِي قَالَ أَوْ أَعْرَاضَكُمْ أَمْ لَا كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا أَبَلَّغْتُ قَالُوا بَلَّغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ (رواه اجمد)*
Telah menceritakan kepada kami Isma'il Telah menceritakan kepada kami Sa'id Al Jurairi dari Abu Nadhrah telah menceritakan kepadaku orang yang pernah mendengar khutbah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam ditengah-tengah hari tasyriq, beliau bersabda: "Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu, ingat! Tidak ada kelebihan bagi orang arab atas orang ajam dan bagi orang ajam atas orang arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan ketakwaan. Apa aku sudah menyampaikan?" mereka menjawab: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam telah menyampaikan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Hari apa ini?" mereka menjawab: Hari haram. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Bulan apa ini?" mereka menjawab: Bulan haram. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Tanah apa ini?" mereka menjawab: Tanah haram. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: " Allah mengharamkan darah dan harta kalian diantara kalian -aku (Abu Nadhrah) Berkata; Aku tidak tahu apakah beliau menyebut kehormatan atau tidak- seperti haramnya hari kalian ini, di bulan ini dan di tanah ini." Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Apa aku sudah menyampaikan?" mereka menjawab: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam telah menyampaikan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir”(HR Ahmad no.22391)
D. Hak atas pahala berlaku atas seluruh kasta, strata, tingkat, derajat seluruh umat manusia:
(1) Keringan dalam bidang jihad
لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَى وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ(91)وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ ( التوبة 91-92)
Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu", lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan"(S.9 At-Taubat 91-92).
3534 عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزَاةٍ فَقَالَ إِنَّ بِالْمَدِينَةِ لَرِجَالًا مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ (رواه مسلم وابن ماجة 2755 واحمد 14148)*
“Dari Jabir dia berkata."Kami pernah ikut berperang bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam suatu peperangan, ketika itu beliau bersabda: "Ada beberapa orang laki-laki di Madinah yang mereka tidak ikut serta dalam peperangan, biasanya jika kalian pergi berperang sedangkan kalian melewati suatu lembah, mereka tetap turut bersama-sama kamu, namun mereka sekarang terhalang karena sakit." Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Abu Mu'awiyah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Abu Sa'id Al Asyaj keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Waki'. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Isa bin Yunus semuanya dari Al A'masy dengan sanad ini, namun dalam haditsnya Waki' disebutkan; "Melainkan mereka juga mendapatkan pahala seperti kalian”(HR Muslim no.3534, Ibnu Majah no.2755 dan Ahmad no.14148).
عَنْ أَنَسٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي غَزَاةٍ فَقَالَ إِنَّ أَقْوَامًا بِالْمَدِينَةِ خَلْفَنَا مَا سَلَكْنَا شِعْبًا وَلَا وَادِيًا إِلَّا وَهُمْ مَعَنَا فِيهِ حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ (رواه البخاري2627 والن ماجة 2754) *
“Dari Anas radliallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam suatu peperangan pernah bersabda: "Sesungguhnya ada kaum yang berada di Madinah tidak ikut berperang bersama kita, tidaklah kita mendaki bukit, tidak pula menyusuri lembah melaikan mereka bersama kita (dalam mendapat) pahala berperang karena mereka tertahan oleh udzur (alasan) yang benar". Dan berkata Musa telah bercerita kepada kami Hammad dari Humaid dari Musa bin Anas dari bapaknya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda. Berkata Abu 'Abdullah Al Bukhariy; "(Sanad) yang pertama lebih benar"
2574 عَنْ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى مِيقَاتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَسَكَتُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي (وراه البخاري2574 ومسلم 120)*
Telah bercerita kepada kami Al Hasan bin Shobbah telah bercerita kepada kami Muhammad bin Sabiq telah bercerita kepada kami Malik bin Mighwal berkata; aku mendengar Al Walid bin Al 'Ayzar menyebutkan dari Abu 'Amru Asy Syaibaniy berkata 'Abdullah bin Mas'ud radliallahu 'anhu berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aku katakan: "Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Sholat pada waktunya". Kemudian aku tanyakan lagi: " Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Kemudian berbakti kepada kedua orang tua". Lalu aku tanyakan lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah". Maka aku berhenti menyakannya lagi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Seandainya aku tambah terus pertanyaan, Beliau pasti akan menambah jawabannya kepadaku"

Yang tidak mampu bisa ditutup dengan beramal soleh, sedaqah dll.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللَّهِ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ (وراه البخاري) *
“Dari Jabir ra.dari Nabi Saw beliau bersabda: "Setiap perbuatan baik adalah sedekah”(HR Bukhari no.5562).
1181 عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى(رواه مسلم وابو داود 1092)سلامي= اوغل-اوغل
“Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Jika iqamat telah dikumandangkan, maka tidak ada shalat selain shalat wajib." Telah menceritakan kepada kami Abd bin Humaid telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Zakariya bin Ishaq dengan sanad seperti ini. Telah menceritakan kepada kami Hasan Al Hulwani telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari 'Amru bin Dinar dari Atha` bin Yasar dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seperti hadits di atas. Hammad mengatakan; "Aku pernah menemui 'Amr, lalu dia Menceritakan kepadaku, namun dia tidak memarfu'kannya”(HR Muslim no.1181 dan Abu Dawud no. 1092).
(2)Penerima pahala tidak dimonopoli orang tertentu
Rasulullah Saw. sendiri menetapkan bahwa orang yang modalnya air mata pahalanya sama dengan yang modalnya besar dan hebat bahkan harta dengan nyawa.
4071عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجَعَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ فَدَنَا مِنَ الْمَدِينَةِ فَقَالَ إِنَّ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ قَالَ وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ (رواه البخاري)
Artinya: “Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw. suatu hari pulang dari perang Tabuksaat dekat Madinah beliau bersabda: “Sungguh di kota ada beberpa orang yang mana betul-betul pada setiap kalian menempuh suatu perjalanan, setiap kalian menyeberang lembah sungguh mereka itu beserta kalian” Mereka bertanya: “Ya Rasulullah mana mungkin mereka di dalam kota?” Beliau bersabda: “Mereka terhalang”(HR Bukhari no.4071 dan Muslim no.3534).
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَهُوَ قَاعِدٌ فَقَالَ مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ نَائِمًا عِنْدِي مُضْطَجِعًا هَا هُنَا)رواه البخاري 1049)
“Bahwa 'Imran bin Hushain r.a. berkata: Aku pernah bertanya kepada Nabi Saw tentang seseorang yang melaksanakan shalat dengan duduk. Maka Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Siapa yang shalat dengan berdiri maka itu lebih utama. Dan siapa yang melaksanakan shalat dengan duduk maka baginya setengah pahala dari orang yang shalat dengan berdiri dan siapa yang shalat dengan tidur (berbaring) maka baginya setengah pahala orang yang shalat dengan duduk". Berkata, Abu 'Abdullah; "Menurutku yang dimaksud dengan tidur adalah berbaring”(HR Bukhari no.1049).
Dan menurut riwayat Ahmad no.12409 beliau bersabda: إِلَّا شَرَكُوكُمْ فِيهِ “Mereka betul-betul bersekutu dengan kalian” yang dapat kita terjemahkan: Pahalanya dibagi bersama dengan mereka.
Orang yang dapat dikelompokkan kedalamkategori ini ialah orang-orang yang menderita musibah, jompo, buta, pincang, melarat, tidak ada dosa baginya, tidak berangkat perang sabil, syaratnya ialah azam yang kuat, Lillahi Ta’ala yang diistilahkan Al-Quran ( إِذَ ا نَصَحُواْ للَّهِ وَرَسُولِهِ} bonek dalam arti yang luhur, seperti kisah Mash’ab bin ‘Umair pemegang bendera perang putus tangan kanannya dipedang tentara kafir, lalu bendera dipegang tangan kirinya dan ditebas lagi oleh musuh, ‘Amr bin Jamuh tangannya invalid terkena pedang orang kafir.
Ats-Tsa’alibi mencatat bahwa QS9a91-92 turun berkaitan dengan ‘Abdullah, ‘Abdurrahman, ‘Uqail, Nu’man, Suwaid dan Sinan=6 orang mereka semua pernah ikut dalam perang Khandaq.
@ Tafsir Ibnul Jauzi, mencatat ada 3 sebab mengapa tidak berangkat perang Tabuk, yaitu: idak mempunyai kendaraan,bekal dan spatu.
@Syaratnya ialah niat yang tulus suci, jihad menguras kekuatan
Hadis Buklhari-Muslim di atas merupakan penegasan Rasul Saw. bahwa orang yang modalnya hanya air mata pahalanya sama dengan yang berkorban harta dan nyawa. Zakat emas dan uang iala 2,5% dengan ini maka orang seperti Habibi mempunyai uang 40 milar dia wajib membayar zakat satu milyar. Maka jika seorang buruh (tandur,nutu, matun, cuci) dapat membayar 2,5 % uang yang dimilikinyA maka pahalanya menurut saya sama Habibi membayar satu milyar, bahkan mungkin lebih besar sebab si miskin ini menunaikan sunat sebab hartanya tidak mencpai satu nishab.
Berdalil dengan s9a91-92 dan hadis Bukhari no.4071-Muslim 3534 di atas maka seorang guru ngaji alif bak tak dipucuk gunung penduduk suku terasing primitif maka pahalanya tidak kurang dari pahala Prof. DR. Alwi Syihab mengajar agama Islam di Perguruan Tinggi di Washington DC.
Puasa adalah ibadah yang pahalanya dapat direbut oleh orang yang melarat, orang jompo, orang pincang,orang buntung, orang yang lumpuh dan pahanya tidak kalah dengan pahala puasa seorang Mike Tyson atau Muhammad Ali juara tinju klas berat dunia.
Berdasarkan hadis Bukhari-Muslim ini pula maka seorang yang melarat yang berusaha menabung uang ingin naik haji, maka pahalanya tidak akan kalah dengan mereka yang naik haji setiap tahun karena kekayaannya melimpah. Oleh karena itulah orang Madura bakul rokok kaki lima menabung sedikit-sedikit akhirnya bisa berangkat haji, orang Blitar petani ikan lele, orang Banyuwangi menjual sabut-bathok kelapa semua bisa naik haji maka pahalanya sama dengan milyarder haji plus dengan bekal dolar atau dinar berlimpah-limpah.
@ Jihad menjadi ukuran
Syarat yang sangat menentukan ialah Jihad dan berkurban fi Sbilillah, yaitu maksimalisasi, memeras tenaga atau menguras harta kekayaan yang sangat dicintai untuk sarana &prasarana perjuangan menjunjung tinggi Kalimatillahi hiyal ‘Ulya seperti yang tercatat dalam Al-Quran s9a92 dengan hadis Bukhari no.4071 dan Ahmad no1240 bahwa 6-7 orang yang sangat melarat ingin sekali ikut jihad perag sabil tidak terkabul selain hanya curahan air mata mereka.
@Instink Religios
Allah menciptakan manusia disertai instik disamping akal dan perasaan dengan resep dan ukuran apa saja yang diperlukan oleh manusia, agar supaya mereka tetap dapat melangsungkan kehidupannya dan memenuhi kebutuhannya serta dapat hidup secara lebih baik lagi.
Para ahli sosiologi-antropologi telah mengadakan penelitian mengenai kebutuhan hidup manusia secara universal sama siapa saja dimanapun juga kapanpun jamannya, yaitu:
@. Ralph Piddington dalam bukunya “An Introduction to Social Anthropology” (1950:221) mencatat kebutuhan manusia secara universal (Human Needs):
i. Kebutuhan primer
Kebutuhan primer ialah kebutuhan yang sama antara manusia dengan makhluk hewan, yaitu:(1) Makan, minum, bernafas.(2)Membersihkan diri, istirahat, ketahanan diri dari serangan atau cuaca, demikian juga kesehatan.(3)Pemenuhan hawa nafsu seks/birahi dan anak keturunan.
ii. Kebutuhan sekunder
Kebutuhan sekunder atau kebutuhan sosial terdiri dari: (1)Pengembangan kebudayaan dan pendidikan.(2)Menggerakkan kegiatan bersama, berkomunikasi dengansesama. (3)Kepuasan akan pemilikan atas harta kekayaan. (4) Terselenggaranya ketertiban sosial, hukum dan adat.
iii. Kebutuhan integratip:Kebutuhan integratip ini sangat berkaitan dengan soal perasaan moral, kepercayaan dan kesempurnaan hidup.(1)Melakukan kegiatan ritual keagamaan (Magico religious system)(2)Kebutuhan akan hiburan, permainan dan kepuasan dalam bidang seni serta keindahan.

@ Abraham Maslow dalam bukunya “Motivation and Personality” (1954:15) mengemukakan ada 5 kategori kebutuhan hidup manusia secara universal itu, yaitu:
i. Kebutuhan dasar jasmani
ii. Kebutuhan akan ketertiban dan keamanan
iii. Kegiatan bersama dan rasa sosial
iv. Kehormatan dan penghargaan
v. Puncak kepuasan dan kesempurnaan
@Abu Zahrah dalam kitabnya Ushul Fiqh (1958:291) mencatat apa yang disebut dengan “Maslahah yang hakiki” yang merupakan teori ahli hukum Islam mengenai kebutuhan hidup manusia secara universal, menurut teori ini ialah: 1) Kebutuhan terjaganya syariat Tuhan; 2)Kebutuhan terpeliharanya kelangsungan hidup jiwa;3) Kebutuhan terjaganya hak atas harta kekayaan;4) Kebutuhan terpeliharanya akal yang sehat;5) Kebutuhan terpeliharanya anak keturunan
Jika dianalisa secara mendalam maka teori Piddington dan Maslow seluruhnya dapat tertampung dalam teori ahli hukum Islam secara khusus disebut “Adl-Dlaruriyatul Khamsah”. Maka manusia yang wajar memerlukan terpenuhinya kebutuhan penyembahan kepada Tuhan, kebutuhan hidup, keperluan akan harta, kesehatan dan anak keturunan.
Maslahah yang hakiki ialah suatu sistem kehidupan bermasyarakat yang serba terpenuhi jaminan hidup yang 5 macam, yaitu:(1)Terjaminnya kelangsungan syari’at Tuhan, suatu kehidupan yang berjiwa agama;(2)Terjaminnya hak hidup setiap insan;(3)Terjaminnya hak pemilikan atas harta kekayaan; (4)Terjaminnya perkembangan akal yang sehat; (5)Terjaminnya hak berkeluarga dan berketurunan;
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ( الاعراف172)
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"(S.7 Al-A’raf 172).
@ Ashabul A’raf
Ashabul A’raf ialah sejumlah umat manusia yang kelak tidak masuk surga juga tidak masuk neraka, mereka menangis jika melihat surga tetapi berbesar hati ketika melihat neraka:
الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا وَهُمْ بِالْآخِرَةِ كَافِرُونَ()وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ()وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ()وَنَادَى أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ قَالُوا مَا أَغْنَى عَنْكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ ( الاعراف 45-48)
"” (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat." Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A`raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga:" Salaamun `alaikum". Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu". Dan orang-orang yang di atas A`raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: "Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfa`at kepadamu"(S.7 Al-A’raf 45-48).
Masalah bagaimana nasib mereka yang memang betul-betul belum pernah mendengar dakwah Islam maka dapat diduga bahwa Allah akan menentukan Qudrat-Iradat-Nya kepada mereka apakah akan mendapat azab neraka atau mendapat rahmat yang lain, misalnya seperti kaum Ashabul A’raf itu..
Berdasarkan beberapa nash Al-Quran dan hadis dalam berbagai bidang tersebut di atas maka

BAB DUA
Sifat Allah
@Masalah ke-2:. Apa saja sifat-sifat Allah yang wajib kita ketahui dan kita yakini? Jawaban sementara: Allah itu mempunyai sifat wajib 20, sifat Mustahil 20 dan Al-Asmaul Husna 99 macam yang merupakan sifat Allah juga.
I. Sifat wajib bagi Allah
Ahli pikir dan tokoh Multazilah Allah itu hanya mempunyai satu sifat yaitu Mutlak Maha Esa, sedangkan ulama Asy’ariyah Allah itu mempunyai sifat 20, yaitu: 1. Wujud : Artinya Ada2. Qidam : Artinya Sedia yang terbahagi kepada empat bagian :3. Baqa’ : Artinya Kekal, 4. Mukhalafatuhu Ta’ala Lilhawadith. Artinya : Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu.5. Qiyamuhu Ta’ala Binafsihi : Artinya : Berdiri Allah Ta’ala dengan sendirinya 6. Wahdaniyyah. Artinya : Esa Allah Ta’ala pada zat, pada sifat & pada perbuatan.7. Al – Qudrah : Artinya : Kuasa qudrah Allah SWT.8. Iradah : Artinya : Menghendaki Allah Ta’ala.9. ‘Ilmu : Artinya : Allah Maha Mengetahui 10. Hayat . Artinya : Hidup Allah Ta’ala..11. Sama’ : Artinya : Mendengar Allah Ta’ala.12. Bashar : Artinya : Melihat Allah Ta’ala .13 .Kalam : Artinya : Berkata-kata Allah Ta’ala.14. Kaunuhu Qadiran : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkuasa Mengadakan Dan Mentiadakan.15.Kaunuhu Muridan : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Menghendaki dan menentukan tiap-tiap sesuatu.16.Kaunuhu ‘Aliman : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Mengetahui akan Tiap-tiap sesuatu.17.Kaunuhu Hayyun : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Hidup.18.Kaunuhu Sami’an : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Mendengar akan tiap-tiap yang Maujud.19.Kaunuhu Bashiran : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Melihat akan tiap-tiap yang Maujudat ( Benda yang ada ).20.Kaunuhu Mutakalliman : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkata-kata. . II. Sifat Mustahil artinya tidak mungkin; . Wajib atas tiap-tiap mukallaf mengetahui sifat-sifat yang mustahil bagi Allah yang menjadi lawan daripada dua puluh sifat yang wajib baginya. Maka dengan sebab itulah di nyatakan di sini sifat-sifat yang mustahil satu-persatu :1. ‘Adam; berarti “Tidak ada”.2. Huduth; berarti “Baharu”.3. Fana’; berarti “Binasa”.4. Mumathalatuhu Lilhawadith; berarti “Menyerupai makhluk”.5. Qiyamuhu Bighayrih; berarti “Berdiri dengan yang lain”.6. Ta’addud; berarti “Bberbilang-bilang”.7. ‘Ajz; berarti “Lemah”.8. Karahah; berarti “Terpaksa”.9. Jahl; berarti “jahil/Bodoh”..10. Maut; berarti “Mati”.11. Samam; berarti “Tuli”.12. ‘Ummy; berarti “Buta”.13. Bukm berarti “Bisu”.14. ‘Ajizan; berarti “keadaannya Yang lemah”.15. Karihan; berarti “keadaannya Yang terpaksa”.16. Jahilan; berarti “keadaannya Yang jahil/bodoh”.17. Mayyitan; berarti “keadaannya Yang mati”.18. Shammum; berarti “keadaannya yang tuli”.19. A’ma; berarti “keadaannya Yang buta”.20. Abkam; berarti “keadaannya Yang bisu”
III. Asmaul Husna Secara singkat Al-Quran menyebutkan nama-nama Allah itu:
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ(22)هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ(23)هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ(24)
Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana"”(S.59 Al-Hasyr 22-24). Lengkapnya adalah sebagai berikut: . Yang Maha Pemurah;2. Yang Maha penyayang;3. Yang Maha Kuasa;4. Yang Maha Suci;5. Yang Maha Sejahtera;6. Yang memberikan rasa aman;7. Yang Maha Memelihara;8. Yang Maha Perkasa;9. Yang Maha Memaksa;10. Yang Memiliki kebesaran;
11. Yang Maha Mencipta;12. Yang Maha Melepaskan;13.Yang menciptakan rupa makhluk;14. Yang Maha Mengampuni;15. Yang Maha Perkasa;16. Yang Maha Pemberi Karunia;17. Yang Maha Pemberi Rizki;18.Yang Maha Pembuka;19.Yang Maha Mengetahui Segalanya;20.Yang Maha Menyempitkan kenikmatan;21.Yang Maha Melapangkan Rizki;22. Yang Maha Merendahkan makhluknya;23. Yang Meninggikan Martabat makhluknya;24. Yang Maha Memuliakan makhluknya;25. Yang Maha Menghinakan makhluknya;26. Yang Maha Mendengar;27. Yang Maha Melihat;
28.Yang Maha menetapkan;29. Yang Maha Adil;30. Yang Maha penyantun;31. Yang Maha Mengetahui Segala Rahasia;32. Yang Maha Penyantun, lembut;33. Yang Maha Agung dari segalanya;34. Yang Maha pengampun;35. Yang Maha Membalas jasa atas amal baik hamba-Nya;36. Yang Maha Tinggi;37. Yang Maha Besar;38. Yang Maha Menjaga; 39. Yang Maha Memelihara;40. Yang Maha PembuatPerhitungan;41., Yang memiliki segala keagungan;42. Yang Maha Mulia;43. Yang Maha Mengawasi;44. Yang Maha Mengabulkan;45. Yang Maha Luas;46. Yang Maha Bijaksana;47. Yang Maha Pengasih;48. Yang Maha Mulia;49. Yang Maha Membangkitkan;50.Yang Maha Menyaksikan;51. Yang Maha Benar;52., Yang Maha Memelihara;53. Yang Maha Kuat;55. Yang Maha Melindungi;56. Yang Maha Terpuji;57. Yang Maha Menghitung dan mengetahui jumlah dan ukuran segala sesuatu;58., Yang Maha Memulai;59. Yang Maha Mengembalikan kehidupan makhluk-Nya;60. Yang Maha Menghidupkan;61. Yang Maha Mematikan;62. Yang Maha Hidup;63.Yang Maha Mandiri; 64. Yang Maha Menemukan apa yang dikehendaki;65. Yang Maha Mulia;66. Yang MahaEsa/Tunggal;67. Yang Maha Esa;68. Yang Maha dibutuhkan;69. Yang Maha Kuasa;70. Al-Muqtadir, Yang Maha Berkuasa;71. Yang Maha Mendahulukan;72. Yang Maha Mengakhirkan; 73. Yang Maha Permulaan;74. Yang Maha Akhir;75. Yang Maha Nyata;76. Yang Maha Ghaib;77. Yang Maha Memerintah; 78. Yang Maha Tinngi;79. Yang Maha Derma;80. Yang Maha Menerima Taubat hamba-Nya;81. Yang Maha Penyiksa;82. Yang Maha Pemaaf;83. Yang Maha Pengasih;84. Malikul Mulk, Yang Maha Merajai Kerajaan;85. Yang Maha Memiliki kebesaran dan kemuliaan;86. Yang Maha Adil;87. Yang Maha Pengumpul;88. Yang Maha Kaya;89. Yang Maha Berkecukupan;90. Yang Maha Mencegah;91. Yang Maha Pemberi Derita;92. Yang Maha Pemberi Manfaat;93. Yang Maha Bercahaya;94. Yang Maha Memberi Petunjuk;95. Yang Maha Pencipta;96. Yang Maha Kekal;97. Yang Maha Pewaris;98. Yang Maha Pandai;99. Yang Maha Sabar.


BAB TIGA
IKTIKAF
Curhat kepada Allah
Masalah ke-3. Bagaimana ikhtiar kita agar supaya kita sebagai makhluk yang sangat lemah memenuhi permintaan Allah dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 186 di atas: Jawaban sementara: Ikhtiar untuk memenuhi Qs3a185 di atas ialah sungguh-sungguh taqarrub atau mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah melalui sifat Rahman Rahim-Nya memohon kasih sayang Allah.
Shalat nabi Saw sangat khusyuk dan lama sekali
@Tafsir Al-Baghawi (5h116) dalam menganalisa Qs17a79 (sebagaimana tercantum d awal makalah diatas) mencatat hadis bahwa Abu Salamah bertanya kepada ‘Aisyah tentang shalat Nabi Saw dijawab bahwa beliau shalat dibulan Ramadhan dan semua bulan di luar Ramadhan tidak lebih dari 11 rakaat, (4+4+3 rakaat), tetapi jangan tanya khusyuk dan lamanya luar biasa
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي (رواه البخاري 1874)
“Dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman bahwasanya dia bertanya kepada 'Aisyah radliallahu 'anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka 'Aisyah radliallahu 'anha menjawab: "Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (melaksanakan shalat malam) di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka'at, Beliau shalat empat raka'at, maka jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka'at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian Beliau shalat tiga raka'at. Lalu aku bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?" Beliau menjawab: "Wahai 'Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur" (HR Bukhari no.1874 dan Muslim no.1219).
@Tafsir Al-Khazin (4h275) dalam menganlisa Qs17a77-79 tersebut mencatat hadis bahwa Nabi Saw karena lamanya sampai kaki beliau bengkak:
عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى حَتَّى انْتَفَخَتْ قَدَمَاهُ فَقِيلَ لَهُ أَتَكَلَّفُ هَذَا وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا (رواه مسلم 5044 (
“Dari Al Mughirah bin Syu'bah nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam shalat hingga kedua kaki beliau bengkak, dikatakan pada beliau: Apa Tuan memaksakan ini padahal Allah telah mengampuni dosa yang terlalu dan yang dikemudian. Beliau menyahut: "Apakah aku tidak menjadi hamba yang bersyukur?")HR Muslim no.5044 dan Bukhari n0.377).
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ ثُمَّ مَضَى فَقُلْتُ يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ فَمَضَى فَقُلْتُ يَرْكَعُ بِهَا ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ ثُمَّ رَكَعَ فَجَعَلَ يَقُولُ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحْوًا مِنْ قِيَامِهِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ثُمَّ قَامَ طَوِيلًا قَرِيبًا مِمَّا رَكَعَ ثُمَّ سَجَدَ فَقَالَ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى فَكَانَ سُجُودُهُ قَرِيبًا مِنْ قِيَامِهِ قَالَ وَفِي حَدِيثِ جَرِيرٍ مِنْ الزِّيَادَةِ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ (رواه مسلم 1291 والترمذي 243 والنسائي 999)
" Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dan Abu Mu'awiyah -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim semuanya dari Jarir mereka semua dari Al A'masy -dalam jalur lain- telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair -dan lafazh ini adalah darinya- telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Sa'id bin Ubaidah dari Al Mustaurid bin Al Ahnaf dari Shilah bin Zufar dari Hudzaifah ia berkata; Pada suatu malam, saya shalat (Qiyamul Lail) bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau mulai membaca surat Al Baqarah. Kemudian saya pun berkata (dalam hati bahwa beliau) akan ruku' pada ayat yang ke seratus. Kemudian (seratus ayat pun) berlalu, lalu saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan shalat dengan (surat itu) dalam satu raka'at. Namun (surat Al Baqarah pun) berlalu, maka saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan segera sujud. Ternyata beliau melanjutkan dengan mulai membaca surat An Nisa` hingga selesai membacanya. Kemudian beliau melanjutkan ke surat Ali Imran hingga selesai hingga beliau selesai membacanya. Bila beliau membaca ayat tasbih, beliau bertasbih dan bila beliau membaca ayat yang memerintahkan untuk memohon, beliau memohon, dan bila beliau membaca ayat ta'awwudz (ayat yang memerintahkan untuk memohon perlindungan) beliau memohon perlindungan. Kemudian beliau ruku'. Dalam ruku', beliau membaca: "SUBHAANA RABBIYAL 'AZHIIM " Dan lama beliau ruku' hampir sama dengan berdirinya. Kemudian beliau membaca: "SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH" Kemudian beliau berdiri dan lamanya berdiri lebih kurang sama dengan lamanya ruku'. Sesudah itu beliau sujud, dan dalam sujud beliau membaca: "SUBHAANA RABBIYAL A'LAA " Lama beliau sujud hampir sama dengan lamanya berdiri. Sementara di dalam hadits Jarir terdapat tambahan; Beliau membaca: "SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH RABBANAA LAKAL HAMDU, Ya Tuhan kami bagi-Mu segala puji(HR Muslim no.1291 dan Turmudzi no.243
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ قَالَ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقَرَأَ حَتَّى بَلَغَ رَأْسَ الْمِائَةِ فَقُلْتُ يَرْكَعُ ثُمَّ مَضَى حَتَّى بَلَغَ الْمِائَتَيْنِ فَقُلْتُ يَرْكَعُ ثُمَّ مَضَى حَتَّى خَتَمَهَا قَالَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ قَالَ ثُمَّ افْتَتَحَ سُورَةَ آلِ عِمْرَانَ حَتَّى خَتَمَهَا قَالَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ قَالَ ثُمَّ افْتَتَحَ سُورَةَ النِّسَاءِ فَقَرَأَهَا قَالَ ثُمَّ رَكَعَ قَالَ فَقَالَ فِي رُكُوعِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ قَالَ وَكَانَ رُكُوعُهُ بِمَنْزِلَةِ قِيَامِهِ ثُمَّ سَجَدَ فَكَانَ سُجُودُهُ مِثْلَ رُكُوعِهِ وَقَالَ فِي سُجُودِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى قَالَ وَكَانَ إِذَا مَرَّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا عَذَابٌ تَعَوَّذَ وَإِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَنْزِيهٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سَبَّحَ (رواه احمد 22175)
“Dari Hudzaifah bin Al Yaman berkata; Aku shalat bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam pada suatu malam. Beliau memulai dengan surat Al Baqarah, beliau membacanya hingga sampai penghujung ayat seratus, aku berkata; Setelah ini pasti beliau melakukan ruku', beliau terus membaca hingga sampai ayat duaratus, aku berkata; Setelah ini pasti beliau melakukan ruku', beliau terus membaca hingga sampai khatam, aku berkata; Setelah ini pasti beliau melakukan ruku', lalu beliau membaca surat 'Aali 'Imraan hingga mengkhatamkannya, aku berkata; Setelah ini pasti beliau melakukan ruku', lalu beliau membaca surat An Nisaa`, beliau membacanya kemudian ruku'. Saat ruku' beliau membaca: SUBHAAANA RABBIYAL 'ADHIIM. Berkata Hudzaifah bin Al Yaman: Lamanya beliau ruku' beliau sama seperti saat berdiri, lalu beliau sujud seperti lamanya saat ruku'. Saat sujud beliau membaca: SUBHAANA RABBIYAL A'LAA. Bila beliau membaca ayat rahmat, beliau berdoa, bila membaca ayat adzab beliau meminta perlindungan dan bila ada ayat penyucian untuk Allah 'azza wajalla beliau bertasbih”(HR Ahmad no.22175)*Lamanya rukuk dan sujud seimbang dengan lamanya brerdiri.
@Tafsir Al-Khazin (4h275) dalam menganlisa Qs17a77-79 mencatat
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا فَلَمَّا كَثُرَ لَحْمُهُ صَلَّى جَالِسًا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَقَرَأَ ثُمَّ رَكَعَ(واه البخاري 4460, 1062 ومسلم 5044))
“Dari Aisyah radliallahu 'anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat malam hingga kaki beliau bengkak-bengkak. Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, kenapa Anda melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu dan yang akan datang? Beliau bersabda: "Apakah aku tidak suka jika menjadi hamba yang bersyukur?" Dan tatkala beliau gemuk, beliau shalat sambil duduk, apabila beliau hendak ruku' maka beliau berdiri kemudian membaca beberapa ayat lalu ruku’(HR Bukhari no.4460, 1062 dan Muslim no.5044).
88888888888888888888888888888888888
عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُمْ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ (رواه البخاري 3883 ومسلم 4873)
“ Dari Abu Musa Al Asy'ari r'a ia berkata; “Ketika Rasulullah Saw melihat orang-orang menuruni lembah sambil mengeraskan suara bertakbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar laa ilaaha illallah (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah), maka Rasulullah Saw bersabda: "Rendahkanla suara kalian, karena kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan Dzat yang ghaib. Sesungguhnya kalian menyeru Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia selalu bersama kalian". Saat itu aku berada di belakang hewan tunggangan Rasulullah Saw dan beliau mendengar apa yang aku ucapkan. Saat itu aku membaca; "laa hawla wa laa quwwata illa billah (Tidak ada daya dan upaya melainkan dari Allah) ", maka beliau berkata kepadaku: "Wahai Abdullah bin Qais". Aku jawab; "Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah." Beliau melanjutkan: "Maukah aku tunjukkan kepadamu satu kalimat yang termasuk perbendaharaan surga?". Aku jawab; "Tentu wahai Rasulullah, demi bapak ibuku sebagai tebusan tuan." Beliau bersabda: "laa hawla wa laa quwwata illa billah” (HR Bukhari no.3883 dan Muslim no.4873)
Melihat nyata-nyata bahwa Rasulullah Saw shalat Qiyamul Lail baik di bulan Ramadhan maupun seluruh malam di luar Ramadhan, shalatnya terlalu lama terlalu khusuk, membaca surat Al-Baqarah, surat An-Nisa` dan surat Ali ‘Imran dalam SATU RAKAAT shalat malam beliau. Demikian lamanya shalat beliau dalam shalat malam ini bukan hanya dalam berdiri saja tetapi mencakup rukun-rukun dalam rukuk dan sujudnya yang lain, maka disana terdapat hadis-hadis yang dapat meneladani sedikit dari contoh shalat malam beliau salah satunya ialah Shalam Qiyamul Lail dengan membaca 300 Tasbih dalam shalat yang ada kemungkinan kita semua masih mampu melaksanakannya dank karena analan 300 Tasbih ini maka shalat ini dinamakan Shalat Tasbih sebagaimana uraian berikut:
*Curhat kepada Allah*
@Qiyamul Lail:
0. Persiapan : Bangun jam o1.45 siap-siap bersuci dsb.
2.I’tikaf: Masuk Masjid cari tempat yang paling aman dari suara dan sinar, tidak ada yang mengetahui dirinya kecuali Allah. #Pengertian Malam:
Aslinya malam itu ialah suatu keadaan yang gelap-pekat, sunyi senyap, tidak ada suara, tidak ada sinar, semua makhluk pada tidur semua. Nuansa demikian juga dirasakan oleh orang-orang pelaku sejarah: Nabi Zakariya, Nabi Yunus, Ashabul Kahfi bahkan Rasulullah Saw sebelum diutus menjadi nabi saat beliau ‘Uzlah di
guwa Khira` dan ketika dikejar kaum musyrikin beliau bersembunyi 3 malam di dalam guwa Tsaur, ini dicatat dalam Al-Quran dan disinggung oleh hadis di bawah ini:
عَنْ عَلِيٍّ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَقَ وَقَدْ تَكَلَّمَ بَعْضُ أَهْلِ الْحَدِيثِ فِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَقَ هَذَا مِنْ قِبَلِ حِفْظِهِ وَهُوَ كُوفِيٌّ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَقَ الْقُرَشِيُّ مَدَنِيُّ وَهُوَ أَثْبَتُ مِنْ هَذَا وَكِلَاهُمَا كَانَا فِي عَصْرٍ وَاحِدٍ (رواه الترمذي 1907)
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr, telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir dari Abdurrahman bin Ishaq dari An Nu'man bin Sa'd dari Ali ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya." Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, "Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?" Nabi menjawab: "Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari diwaktu manusia pada tidur." Berkata Abu Isa: Ini merupakan hadits gharib yang tidak kami ketahui kecuali dari haditsnya Abdurrahman bin Ishaq dan sebagian ahli hadits telah mengomentari Abdurrahman bin Ishaq dari segi hapalannya, dia berasal dari Kufah. Adapun Abdurrahman bin Ishaq Al Qurasyi dia berasal dari Madinah dan hapalannya lebih kuat dari yang tadi, dan keduanya hidup sezaman”(HR Turmudzi no.1907).
~ Nabi Zakariya dalam kesedihan memohon penerus perjuangan Jihad fi Sabilillah, beliau berdo’a dalam Mihrab dlam nuansa sunyi senyap, gelap gulita, termaktub dalam Al-Quran:

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا()إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا( مريم -)
“(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakariya, yaitu tatkala ia berdo`a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut”(S.19 Maryam 2-3)
~ Nabi Yunus berdo’a dalam gelap pekat luar b iasa dalam perut ikan yang berada di dasar laut. Tercatat dalam Al-Quran:
وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ( الانبياء 87)
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim."(S.21 Al-Anbiya` 87).
Maka Allah mendorong kita semua untuk bangun malam shalat Tahajjuj, maka Allah menjanjikan suatu kemuliaan:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا( الاسراء79)
" Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”(S.17 Al-Isra` 79).
~ Anak remaja Ashabul Kahfi berdo’a di dalam Guwa dalam gelap sekali sampai tertidur selama 350 tahun, tercatat dalam Al-Quran:
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا(الكهف10)
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”(S.17 Al-Isra` 79).
~ Ketika Rasulullah Saw dikejar-kejar kaum musyrikin dalam rangka hijrah beliau maka beliau istirahat di dalam Guwa Tsaur selama 3 malam, diabadikan Allah dalam Al-Quran:
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ( التوبة 40)
“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo`a: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)"”(S.18 Al-Kahfi 10).

3.Shalat Iftitah: 2 rakaat: Rakaat ke-1 membaca Alfatihah+surat 97 Al-Qadar, memohon pahala 1000 bulan . Rakaat ke-2 membaca Alfatihah +surat 110 An-Nashr, memohon pertolongan dan berhasil mengejar cita-cita
ِS.97 Al-Qadar sangat menjanjikan pahala 1000 bulan.Qs110 mencatat kemenangan besar Nabi Saw merebut Kota Makkah
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ(3)تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ(القدر4)
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan”(S.97 Al-Qadar 3-4)
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (النصر 1)
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”(S.110 An-Nashr 1)

4.Shalatul Lail /Tahajjuj 8 rakaat dibagi 2, yaitu 4 rakaat+4 rakaat
--(A) Empat rakaat-I membaca Tasbih 300 kali sebelum gerak berganti rukun dibagi 4, tiap rakaat 75 kali: Berdiri 15x,Ruku’10x,I’tidal:10x,Sujud 10x,Duduk 10x,Sujud 10x,Duduk 10x-yaitu……
# Kitab Mushannaf 'Abdur Razzaq (3h124) mencatat bahwa hadis shalat Tasbih dishahihkan oleh Shahih Ibnu Khuzaimah (2h223); Imam Al-Albani menyatakan Hasan karena ada hadis musyahid yang memperkuat riwayat Sunan Abu Dawud itu; Kitab Subulus-Salam.
# Ibnu Khuzaimah (4h442) dalam shahihnya no.1149 meriwayatkan hadis shalat Tasbih melalaui jalur 'Ikrimah-Ibnu 'Abbas.
# Kitab Tanzihusy-Syari'ah (2h106) Abu Dawud mengatakan hadis yang paling shahih dari shalat Tasbih ialah yang diterima oleh Ibnu Ma'in, Nasa`i, Ibnu Hibban, (Bukhari mentakhrij dalam bab Qiraat).
Sebaliknya Al-'Uqaili menyatakan tidak ada yang shahih tidak ada yang hasan terutama nama Shidqah bin .Yazid, Musa bin 'Abdul 'Aziz dan Musa bin 'Abdul Aziz yang dinilai Tsiqqah oleh Ibnu Ma'in, Nasa`i, para ulama menilai shahih atau hasan.
Yang menilai shahih atau menilai hasan Ibnu Mandah, Al-Khathib, As-Sam'ani, Abu Musa al-Madini, Abul Hasan al-Mufadhdhal, Al-Mundziri, Ibnush-Shalah, An-Nawawi, As-Subki.
Ad-Dailami mengataan bahwa shalat Tasbih memuji hadis itu shahih, demikian juga Daraquthni, Baihaqi, Muslim, Al-Hakim. Ibnu Hajar. Daraquthni meriwayatkannya yang nilainya hasan. 'Abdul 'Aziz bin Abi Dawud mengatakan siapa ynag ingin masuk surga harus shalat Tasbih.
# Kitab Minhajus Sunnah (7h238) mencatat Shalat Tasbih ada 2 masalah, yang lebih kuat ialah dusta, Ahmad bin Hanbal mengatakannya makruh karena hadisnya cacat, pengikut madzhab Maliki, Hanafi, Syafi'i, melainya mustahap.
# Kiab Syarhus Sunnah (3h439) menukil hadis Tasbih riwayat Abu Dawud yang berumber dari 'Ikrimah dari Ibnu 'Abbas dengan fadhilahnya. Ibnul Mubarak ditanya soal shalat Tasbih mengatakan bacaan Tasbih sebelum dan sesudah Al-Fatihah masing-masing 15 kali sebelum berdiri tidak usah, tetapi 300 kali harus dipenuhi.
# Al-Ba'its 'ala Inkaris Sunnah (1h66) membolehkan membaca ayat dan Tasbih banyak-banyak di dalam shalat berdasarkan hadis .shalat.
#Dikutip pula bahwa slata Tasbih dinamakan Shalat Ar-Raghaib yang disyari'atkan karena banyaknya sunat yang disukai.
#Dalam Shahih Ibnu Khuzaimah (2h223) tercatat no.1216 hadis shalat Tasbih bersumber dari Ibnu 'Abbas. Imam Al-Albani menyatakannya Dha'if, tetapi ada musyhid yang memperkuat dari Sunan Abu Dawud.
# Al-Mustadrak Al-Hakim (3h214) no.1140 meriwayatkan hadis itu melalui sumber Anas bin Malik dari Ummu Sulaim melalui sanad ini shihih menurut syarat Muslim dengan musyahidnya lewat Al-Yamaniyyin. Di halaman lain (1h462) no.1191 mencatat hal yang sama.
# Sunan Baihaqi al-Kubra (3h51) no.680 meriwayatkan hais tentang 10 rakaat shalat Tathawwu' -Nabi Saw dan shalat Tasbih yang bersumber dari Ibnu 'Abbas. (10 rakaat, yaitu:4 seebelum Zhuhur, 2sesudahnya, 4 sebelum 'Ashar).
# Kitab Mushannaf 'Abdur Razzaq (3h124) mencatat bahwa hadis shalat Tasbih dishahihkan atau hasan oleh Ibnu Mandah, Al-Hakim, Al-Mundziri, Ibnush Shalah.
Yang menyatakan mustahab ialah ulama Syafi'iyah berdasarkan hadis dari Ibnu 'Abbas dengan mutabi' oleh hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Rahawaih, Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim, karena ada Mutab i' yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Abu Nu'aim, Ath-Thabrani lewat Abul Jauza` dan Daraquthni dengan 6 jalur.
#KItab Al-Fawaidul Majmu'ah tulisan Ay-Syaukani (1h19) meriwayatkan hadis shalat Tasbih jalur Al'Abbas diriwayatkan oleh Daraquthni marfu' lewat Ibnu 'Abbas dan Abu Rafi', Ad-Dailami juga meriwayatkannya.
# Ibnu Hajar menilai ( لَا بَأسَ) "Tidak ada masalah"
#Kitab Shahihut Targhib wat-Tarhib (1h165) menilai hadis shalat Tasbih melalui jalur 'Ikrimah-Ibnu 'Abbas Shahih li Ghairihi (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Al-Hafizh mengatakan hadis telah diriwayatkan melalui jalur yang banyak oleh Jamaah dari Sahabat yang dinilai shahih. Muslim bin Hajjaj mengatakan bahwa tidak ada yang lebih baik dari pada jalur lewat Ibnu 'Abbas-'Ikrimah ini.
# Kitab Shahih&Dha'if Sunan Turmudzi (1h481) ada tercatat dua jalur: 1) Dari Anas – Ummu Sulaim. 2) Ibnu 'Abbas-Abu Rafi' maka Imam Al-Albani menilai hasan.
# Kitab Tanzihusy Syari'ah (2h107) mencatat bahwa Adz-Dzahabi yang sanadnya lewat Ibnu 'Abbas bernilai hasan*).
-----------------------------------o---------------
~Rakaat ke-1 membaca Alfatihah+S.19 Maryam 1-9 memohon penerus perjuangan mencapai cita-cita Jihad fi Sabilillah dalam arti yang luas, lalu membaca Tasbih lengkap 15 kali, sambil mengingat kembali dosa dan kesalahan sejak remaja dahulu.
~Rakaat ke-2 membaca Alfatihah+surat 26 Asyu’ara`69-85 memohon kesembuhan dari penyakit jasmani dan rohani, sambil ber-Tawashshul anamalan yang berat pernah dilakukan,
~Rakaat ke-3 membaca Alfatihah+surat 81 Atakwir 15-29 memohon taufiq dan ridho Allah supaya keinginan cita2nya aesuai dengan Qudrat-Iradat Allah, sambil mengenang nikmat dari Allah yang pernah dirasakan,tidak mungkin diri dapat menggapainya sampai berhasil.
~Rakaat ke-4 membaca Alfatihah + surat 55 Arrahman 1-17 memohon sih-kawelasan (belas kasihan Allah) atas semua rencana,program dan target sehingga dapat diselesaikan, sambil mengadu bahwa Allah itu Maha Besar tidak ada yang menyamai. Setelah Salam sujud lagi.
5. Sujud membaca do’a didahului dengan shalawat dan hamdalah serta do’a yang dirasakan paling bagus….. lalu curhat, mencurahkan seluruh uneg-uneg seluruh isi hati kesusaha, kesedihan, penderitaan, sakit yang terlalu berat, masalah yang melanda diri, keluarga, sanak kerabat, tetangga, kaum muslimin dan mukminin semua.

--(B) Empat rakaat kedua, Shalatullail-Tahajjuj tidak dengan bacaan Tasbih dengan bacaan:
~Rakaat ke-1 membaca Alfatihah+surat 17 Al-Isra` 78-82 mohon rahmah-barokah obat-hati dari bacaan Al-Quran .
~ Rakaat ke-2 membaca Alfatihah+surat 20 Thaha 25-35 mohon kemuhadahan dalam menghadapi tugas dan ujian yang paling berat, agar tidak menyimpang dari dzikir memuji Allah.
~ Raakt ke-3 membaca Alfatihah+surat 59 Al-Hasyr 22-24 mohon rahmah-barokah yang terucap karena Allah adalah serba Maha dan Mutlak Maha Sempurna.
~ Rakaat ke-4 membaca Alfatihah+ surat 35-41 mohon kepada Allah yang Maha Mendengar isi hati yang tersembunyi dan yang terucap mohon kabulnya do’a untuk diri, ibu-bapak dan seluruh kaum musimin mukminin.
6. Shalat Witir 3 rakaat:
~ Rakaat ke-1 membaca Alfatihah+ surat 87 Al-A’la dengan memuji Allah itu Maha Suci tidak ada kekurangan apapun juga.
~ Rakaat ke-2 membaca Alfatihah + Al-Kafirun mengaku diri manjadi seorang-hamba yang mukmin bukan orang kafir.
~ Rakaat ke-3 membaca Alfatihah + S. 112 Al-Ikhlash, menyerah diri kepada Allah apapun yang akan dianugerahkan Allah kepada diri ini, karena Allah itu tempat bergantung semua masalah.
7. Jika masih ada kesempatan setelah membaca Tasbih 3 kali, membaca Alfatihah dengan memohon pertolongan, surat Al-‘Alaq mohon keselamatan dari semua keburukan dan kejahatan apa saja dan Al-Ikhlash menyerahkan segala urusan kepad Allah lalu surat 33 Al-Ahzab 56 mohon rahmah barokah apa saja, lalu Shalawat 21x memohon apa yang masih ketingalan yang belum disebut sebelumnya.







Nabi Saw shalat lama sekali
@Tafsir Al-Baghawi (5h116) dalam menganalisa Qs17a79 mencatat hadis bahwa Abu Salamah bertanya kepada ‘Aisyah tentang shalat Nabi Saw dalam bulan Ramadhan bahwa beliau shalat dibulan Ramadhan dan semua bulan tidak lebih dari 11 rakaat, 4+4+3 rakaat, tetapi jangan Tanya khusyuk dan lamanya luar biasa.

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا (الاسراء79)
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي (رواه البخاري 1874)
“Dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman bahwasanya dia bertanya kepada 'Aisyah radliallahu 'anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka 'Aisyah radliallahu 'anha menjawab: "Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (melaksanakan shalat malam) di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka'at, Beliau shalat empat raka'at, maka jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka'at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian Beliau shalat tiga raka'at. Lalu aku bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?" Beliau menjawab: "Wahai 'Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur" (HR Bukhari no.1874 dan Muslim no.1219).
أَنَّ عَاصِمَ بْنَ حُمَيْدٍ يَقُولُ سَمِعْتُ عَوْفَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ قُمْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَدَأَ فَاسْتَاكَ وَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى فَبَدَأَ فَاسْتَفْتَحَ مِنْ الْبَقَرَةِ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ وَسَأَلَ وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إِلَّا وَقَفَ يَتَعَوَّذُ ثُمَّ رَكَعَ فَمَكَثَ رَاكِعًا بِقَدْرِ قِيَامِهِ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ ثُمَّ سَجَدَ بِقَدْرِ رُكُوعِهِ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ ثُمَّ قَرَأَ آلَ عِمْرَانَ ثُمَّ سُورَةً ثُمَّ سُورَةً فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ (رواه النسائي 1120 وابوداود 739)
“Bahwa 'Ashim bin Humaid berkata; aku mendengar 'Auf bin Malik berkata; "Aku pernah bangun bersama Nabi Saw, lalu beliau mulai bersiwak dan berwudhu. Kemudian beliau berdiri dan shalat. Beliau mengawali shalatnya dengan membaca surat Al Baqarah. Beliau tidak melewati ayat tentang rahmat kecuali beliau berhenti dan memohon (rahmat). Beliau juga tidak melewati ayat tentang adzab kecuali beliau berhenti dan berlindung darinya. Kemudian beliau ruku' hingga ia tenang dalam keadaan ruku' seukuran berdirinya, sambil membaca: 'Subhana dzil jabaruuti wal malakuuti wal kibriyaai wal 'adzamati (Maha Suci Dzat yang mempunyai hak memaksa dan kekuasaan, serta yang memiliki kesombongan dan keagungan) ' saat ruku'. Lantas beliau Shallallahu'alaihiwasallam sujud seukuran ruku'nya tadi dengan membaca: 'Subhana dzil jabaruuti wal malakuuti wal kibriyaai wal 'adzamati'. Kemudian beliau membaca surat Ali 'Imran, kemudian surat lainnya, dan beliau juga melakukan hal yang sama - di rakaat berikutnya”(HR An-Nasa`I no.1120 dan Abu Dawud no.739)

@Tafsir Al-Khazin (4h275) dalam menganlisa Qs17a77-79 mencatat
تفسير الخازن - (ج 4 / ص 275) حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى حَتَّى انْتَفَخَتْ قَدَمَاهُ فَقِيلَ لَهُ أَتَكَلَّفُ هَذَا وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا (رواه مسلم 5044 والبخاري?377)
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Ziyad bin Ilaqah dari Al Mughirah bin Syu'bah nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam shalat hingga kedua kaki beliau bengkak, dikatakan pada beliau: Apa Tuan memaksakan ini padahal Allah telah mengampuni dosa yang terlalu dan yang dikemudian. Beliau menyahut: "Apakah aku tidak menjadi hamba yang bersyukur?")HR Muslim no.5044 dan Bukhari n0.377).
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ ثُمَّ مَضَى فَقُلْتُ يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ فَمَضَى فَقُلْتُ يَرْكَعُ بِهَا ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ ثُمَّ رَكَعَ فَجَعَلَ يَقُولُ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحْوًا مِنْ قِيَامِهِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ثُمَّ قَامَ طَوِيلًا قَرِيبًا مِمَّا رَكَعَ ثُمَّ سَجَدَ فَقَالَ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى فَكَانَ سُجُودُهُ قَرِيبًا مِنْ قِيَامِهِ قَالَ وَفِي حَدِيثِ جَرِيرٍ مِنْ الزِّيَادَةِ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ (رواه مسلم 1291 والترمذي 243 والنسائي 999)
" Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dan Abu Mu'awiyah -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim semuanya dari Jarir mereka semua dari Al A'masy -dalam jalur lain- telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair -dan lafazh ini adalah darinya- telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Sa'id bin Ubaidah dari Al Mustaurid bin Al Ahnaf dari Shilah bin Zufar dari Hudzaifah ia berkata; Pada suatu malam, saya shalat (Qiyamul Lail) bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau mulai membaca surat Al Baqarah. Kemudian saya pun berkata (dalam hati bahwa beliau) akan ruku' pada ayat yang ke seratus. Kemudian (seratus ayat pun) berlalu, lalu saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan shalat dengan (surat itu) dalam satu raka'at. Namun (surat Al Baqarah pun) berlalu, maka saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan segera sujud. Ternyata beliau melanjutkan dengan mulai membaca surat An Nisa` hingga selesai membacanya. Kemudian beliau melanjutkan ke surat Ali Imran hingga selesai hingga beliau selesai membacanya. Bila beliau membaca ayat tasbih, beliau bertasbih dan bila beliau membaca ayat yang memerintahkan untuk memohon, beliau memohon, dan bila beliau membaca ayat ta'awwudz (ayat yang memerintahkan untuk memohon perlindungan) beliau memohon perlindungan. Kemudian beliau ruku'. Dalam ruku', beliau membaca: "SUBHAANA RABBIYAL 'AZHIIM (Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung)." Dan lama beliau ruku' hampir sama dengan berdirinya. Kemudian beliau membaca: "SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Maha Mendengar Allah akan orang yang memuji-Nya)." Kemudian beliau berdiri dan lamanya berdiri lebih kurang sama dengan lamanya ruku'. Sesudah itu beliau sujud, dan dalam sujud beliau membaca: "SUBHAANA RABBIYAL A'LAA (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi)." Lama beliau sujud hampir sama dengan lamanya berdiri. Sementara di dalam hadits Jarir terdapat tambahan; Beliau membaca: "SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH RABBANAA LAKAL HAMDU (Allah Maha Mendengar akan orang yang memuji-Nya, Ya Tuhan kami bagi-Mu segala puji(HR Muslim no.1291, Turmudzi no.243 dan An-Nasa’i no.999.)


































011(8)23 Tafsir Tematis Kontemporer

Berbisik-bisik (Curhat)
Kepada Allah
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة 186)
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”(S.2 Al-Baqarah 186).
Latar belakang turunnya Q.s2a186
Latar belakang turunnya Qs2a186: Dari Ash-Shalt dari ayah dari kakeknya bahwa seseorang dari pelosok dusun bertanya kepada Nabi Saw tentang di mana Tuhan itu jauh atau dekat, jika dekat dia akan berbisik-bisik saja apabila jauh dia akan berteriak-teriak kepada Tuhan. Kemudian Allah menurunkan Al-Quran S.2 Al-Baqarah 186 bahwa Allah itu dekat dan mengabulkan do’a hamba (HR Ibnu Abi Hatim juz 6halaman 309 dan Tsiqat Ibnu Hibban juz 8 halaman 436).
Tma dan sari tilawah
0. Pada dasarnya seluruh umat manusia itu mengakui dan percaya adanya Tuhan.
0. Pengakuan dan kepercayaan mereka itu sesuai kadar situasi dan kondisi mereka masing-masing.
0. Sebagian manusia belum mengetahui sifat-sifat Tuhan yang benar, sehingga mempertanyakan apakah Tuhan itu dekat atau jauh.
0. Oleh karena itu Allah menjawab bahwa Allah itu dekat dan mengabulkan do’a permohonan hamba yang berdo’a kepada Allah.
0. Secara logika wajarlah bahwa keseimbangan itu adalah hukum yang berlaku umum seluruh permasalahan, mencakup soal bahwa do’a itu akan dikabulkan Allah jika hamba yang berdo’a itu sendiri memenuhi permintaan Allah
0. Hukum kesimbangan ini akan lebih menjamin terwujudnya hukum kebenaran yang sesungguhnya.
Masalah dan analisa jawaban
Dari banyaknya masalah maka yang mendesak ialah:
1. Bagaimana nasib mereka yang tidak mengetahui sifat Allah yang benar? Jawaban sementara: Allah akan memperhatikan situasi dan kondisi masing-masing hamba-Nya.
2. Apa saja sifat-sifat Allah yang wajib kita ketahui dan kita yakini? Jawaban sementara: Allah itu mempunyai sifat wajib 20 dan Al-Asmaul Husna 99 macam yang merupakan sifat Allah juga.
3. Bagaimana ikhtiar kita agar supaya kita sebagai makhluk yang sangat lemah memenuhi permintaan Allah dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 186 di atas. Jawaban sementara: Ikhtiar untuk memenuhi Qs3a185 di atas ialah dengan sepenuhnya taqarrub atau mendekatkan diri sungguh-sungguh kepada Allah memohon kasih sayang Allah yang Maha Rahman..
Pendalaman dan penelitian
BAB SATU
Agama Islam itu universal
@Masalah ke-1: Bagaimana nasib mereka yang tidak mengetahui sifat Allah yang benar? Jawaban sementara: Allah akan memperhatikan situasi dan kondisi masing-masing hamba-Nya.
Orang yang beriman dalam situasi dan kondisi normal wajib melaksanakan syari’at Islam sepenuhnya menurut hukum Islam sebagaimana ketentuan dari Allah dan Rasulullah Saw. Tetapi kepada mereka yang berada dalam situasi dan kondisi tertentu Allah telah menetapkan Rukhshah atas mereka:
(1)Shalat bagi musafir boleh di-jamak dan Qashar, jika sakit shalat dapat dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi, yaitu: berdiri, duduk atau berbaring, bahkan semampunya. Rasulullah Saw bersabda:
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ )رواه البخاري 1050)
“Dari 'Imrah bin Hushain r.a. berkata: "Suatu kali aku menderita sakit wasir lalu aku tanyakan kepada Nabi Saw tentang cara shalat. Maka Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Shalatlah dengan berdiri, jika kamu tidak sanggup lakukanlah dengan duduk dan bila tidak sanggup juga lakukanlah dengan berbaring pada salah satu sisi badan"(HR Bukhari no.1050)

(2)Puasa bagi musafir, sakit atau keadaan tertentu dapat dihutang atau diganti dengan bentuk-bentuk tertentu.
Puasa itu khusus milik Allah untuk memberi balasan yang sangat mendambakan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ (رراه البخاري  لمسلم 1945 )
“Dari Abu Hurairah dari Nabi Saw, beliau bersabda: "Allah Azza wa Jalla berfirman: 'Puasa adalah milik-Ku, dan Aku sendirilah yang mengganjarinya, orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwatnya, makan dan minumnya karena Aku. Puasa adalah perisai, dan bagi orang yang berpuasa mendapat dua kegembiraan, kegembiraan ketika ia berjumpa dengan rabbnya. Dan sungguh, bau mulut orang yang berpuasa jauh lebih wangi di sisi Allah daripada bau minyak kesturi”(HR Bukhari no. 6938, Muslim1945).
(3)Zakat diwajibkan kepada orang yang memiliki harta dalam ukuran tertentu (nishab), kepada mereka yang tidak memiliki harta dalam jumlah yang ditentukan itu maka tidak wajib zakat atas dia, bahkan mungkin malah berhak menerima zakat.
5563 عَنْ أَبِي بُرْدَةَِ عَنْ أَبِيه قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَجِدْ قَالَ فَيَعْمَلُ بِيَدَيْهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَوْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ فَيُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ فَيَأْمُرُ بِالْخَيْرِ أَوْ قَالَ بِالْمَعْرُوفِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ فَيُمْسِكُ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهُ لَهُ صَدَقَةٌ (رواه البخاري ومسلم 1676)ملهوف=كسمفيتان ياع سوليت
“Dari Sa'id bin Abu Burdah bin Abu Musa Al Asy'ari dari Ayahnya dari Kakeknya dia berkata; Nabi Saw bersabda: "Wajib bagi setiap muslim untuk bersedekah." Para sahabat bertanya; "Bagaimana jika ia tidak mendapatkannya? ' Beliau bersabda:: 'Berusaha dengan tangannya, sehingga ia bisa memberi manfaat untuk dirinya dan bersedekah.' Mereka bertanya; 'Bagaimana jika ia tidak bisa melakukannya? ' Beliau bersabda: 'Menolong orang yang sangat memerlukan bantuan.' Mereka bertanya; 'Bagaimana jika ia tidak bisa melakukannya? ' Beliau bersabda: 'Menyuruh untuk melakukan kebaikan atau bersabda; menyuruh melakukan yang ma'ruf' dia bertanya; 'Bagaimana jika ia tidak dapat melakukannya? ' Beliau bersabda: 'Menahan diri dari kejahatan, karena itu adalah sedekah baginya”(HR Bukhari no.5563 dan Muslim no.1676)
(4) Ibadah haji diwajibkan kepada yang memenuhi syarat rukun, bekal dan kesehatan.Yang tidak mampu naik haji dapat ditutup dengan amal lain, Nabi Saw bersabda:
1422 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ جِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ (رواه البخاري1422 ومسلم118)*
“Dari Abu Hurairah r.a. berkata; Ditanyakan kepada Nabi Saw: "'Amal apakah yang paling utama?". Beliau menjawab: "Iman kepada Allah dan rasul-Nya". Kemudian ditanya lagi: "Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Al Jihad fii sabiilillah". Kemudian ditanya lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Hajji mabrur"(HR Bukhari no.1422 dan Muslim no.118)
Yang tidak mampu naik haji dapat diganti amal lain
1422 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ جِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ (رواه البخاري1422 ومسلم118)*
“Dari Abu Hurairah r.a. berkata; Ditanyakan kepada Nabi Saw: "'Amal apakah yang paling utama?". Beliau menjawab: "Iman kepada Allah dan rasulNya". Kemudian ditanya lagi: "Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Al Jihad fii sabiilillah". Kemudian ditanya lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Hajji mabrur"(HR Bukhari no.1422 dan Muslim no.118)
Dari sisi lain Islam adalah agama universal artinya Islam berlaku dan menjamin kehidupan seluruh umat manusia, dimana saja dan kapanpun juga, jelasnya sebagai berikut:
A Wanita dan pria mempunyai hak yang sama di dalam pahala dan ibadah, Allah berfirman:
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (الاحزاب 35)
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”(S.33 Al-Ahzab 35).
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (النحل 97)
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”(S.16 An-Nahl 97).
B. Wanita dan pria menanggung kewajiban sama dalam akidah, hukum dan akhlak, Allah berfirman::
ياأَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (الممتحنة 12)
“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(S.60 Al-Mumtahanah 12).
C. Islam untuk seluruh umat manusia dan segala bangsa, Rasulullah Saw bersabda:
3193 عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ النَّاسَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَتَعَاظُمَهَا بِآبَائِهَا فَالنَّاسُ رَجُلَانِ بَرٌّ تَقِيٌّ كَرِيمٌ عَلَى اللَّهِ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ هَيِّنٌ عَلَى اللَّهِ وَالنَّاسُ بَنُو آدَمَ وَخَلَقَ اللَّهُ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ قَالَ اللَّهُ ( يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ) (رواه الترمذي)*
“Dari Ibnu Umar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam berkhutbah saat penaklukkan Makkah, beliau bersabda: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kebanggaan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyangnya dari kalian. Manusia terbagi dua; baik, bertakwa, mulia bagi Allah dan keji, sengsara, hina bagi Allah. Manusia adalah anak cucu Adam dan Allah menciptakan Adam dari tanah. Allah berfirman: "Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al Hujuraat: 13) Abu Isa berkata: Hadits ini gharib, kami hanya mengetahuinya dari hadits Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dari jalur sanad ini. Abdullah bin Ja'far dilemahkan oleh Yahya bin Ma'in dan lainnya. Abdullah bin Ja'far adalah ayah Ali bin Al Madini. Abu Isa berkata: Dalam hal ini ada hadits serupa dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas”(HR Turmudzi no.3193)

22391 عَنْ أَبِي نَضْرَةَ حَدَّثَنِي مَنْ سَمِعَ خُطْبَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَسَطِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى أَبَلَّغْتُ قَالُوا بَلَّغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا قَالُوا يَوْمٌ حَرَامٌ ثُمَّ قَالَ أَيُّ شَهْرٍ هَذَا قَالُوا شَهْرٌ حَرَامٌ قَالَ ثُمَّ قَالَ أَيُّ بَلَدٍ هَذَا قَالُوا بَلَدٌ حَرَامٌ قَالَ فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ بَيْنَكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ قَالَ وَلَا أَدْرِي قَالَ أَوْ أَعْرَاضَكُمْ أَمْ لَا كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا أَبَلَّغْتُ قَالُوا بَلَّغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ (رواه اجمد)*
Telah menceritakan kepada kami Isma'il Telah menceritakan kepada kami Sa'id Al Jurairi dari Abu Nadhrah telah menceritakan kepadaku orang yang pernah mendengar khutbah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam ditengah-tengah hari tasyriq, beliau bersabda: "Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu, ingat! Tidak ada kelebihan bagi orang arab atas orang ajam dan bagi orang ajam atas orang arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan ketakwaan. Apa aku sudah menyampaikan?" mereka menjawab: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam telah menyampaikan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Hari apa ini?" mereka menjawab: Hari haram. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Bulan apa ini?" mereka menjawab: Bulan haram. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Tanah apa ini?" mereka menjawab: Tanah haram. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: " Allah mengharamkan darah dan harta kalian diantara kalian -aku (Abu Nadhrah) Berkata; Aku tidak tahu apakah beliau menyebut kehormatan atau tidak- seperti haramnya hari kalian ini, di bulan ini dan di tanah ini." Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Apa aku sudah menyampaikan?" mereka menjawab: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam telah menyampaikan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir”(HR Ahmad no.22391)
D. Hak atas pahala berlaku atas seluruh kasta, strata, tingkat, derajat seluruh umat manusia:
(1) Keringan dalam bidang jihad
لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَى وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ(91)وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ ( التوبة 91-92)
Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu", lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan"(S.9 At-Taubat 91-92).
3534 عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزَاةٍ فَقَالَ إِنَّ بِالْمَدِينَةِ لَرِجَالًا مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ (رواه مسلم وابن ماجة 2755 واحمد 14148)*
“Dari Jabir dia berkata."Kami pernah ikut berperang bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam suatu peperangan, ketika itu beliau bersabda: "Ada beberapa orang laki-laki di Madinah yang mereka tidak ikut serta dalam peperangan, biasanya jika kalian pergi berperang sedangkan kalian melewati suatu lembah, mereka tetap turut bersama-sama kamu, namun mereka sekarang terhalang karena sakit." Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Abu Mu'awiyah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Abu Sa'id Al Asyaj keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Waki'. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Isa bin Yunus semuanya dari Al A'masy dengan sanad ini, namun dalam haditsnya Waki' disebutkan; "Melainkan mereka juga mendapatkan pahala seperti kalian”(HR Muslim no.3534, Ibnu Majah no.2755 dan Ahmad no.14148).
عَنْ أَنَسٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي غَزَاةٍ فَقَالَ إِنَّ أَقْوَامًا بِالْمَدِينَةِ خَلْفَنَا مَا سَلَكْنَا شِعْبًا وَلَا وَادِيًا إِلَّا وَهُمْ مَعَنَا فِيهِ حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ (رواه البخاري2627 والن ماجة 2754) *
“Dari Anas radliallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam suatu peperangan pernah bersabda: "Sesungguhnya ada kaum yang berada di Madinah tidak ikut berperang bersama kita, tidaklah kita mendaki bukit, tidak pula menyusuri lembah melaikan mereka bersama kita (dalam mendapat) pahala berperang karena mereka tertahan oleh udzur (alasan) yang benar". Dan berkata Musa telah bercerita kepada kami Hammad dari Humaid dari Musa bin Anas dari bapaknya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda. Berkata Abu 'Abdullah Al Bukhariy; "(Sanad) yang pertama lebih benar"
2574 عَنْ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى مِيقَاتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَسَكَتُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي (وراه البخاري2574 ومسلم 120)*
Telah bercerita kepada kami Al Hasan bin Shobbah telah bercerita kepada kami Muhammad bin Sabiq telah bercerita kepada kami Malik bin Mighwal berkata; aku mendengar Al Walid bin Al 'Ayzar menyebutkan dari Abu 'Amru Asy Syaibaniy berkata 'Abdullah bin Mas'ud radliallahu 'anhu berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aku katakan: "Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Sholat pada waktunya". Kemudian aku tanyakan lagi: " Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Kemudian berbakti kepada kedua orang tua". Lalu aku tanyakan lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah". Maka aku berhenti menyakannya lagi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Seandainya aku tambah terus pertanyaan, Beliau pasti akan menambah jawabannya kepadaku"

Yang tidak mampu bisa ditutup dengan beramal soleh, sedaqah dll.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللَّهِ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ (وراه البخاري) *
“Dari Jabir ra.dari Nabi Saw beliau bersabda: "Setiap perbuatan baik adalah sedekah”(HR Bukhari no.5562).
1181 عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى(رواه مسلم وابو داود 1092)سلامي= اوغل-اوغل
“Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Jika iqamat telah dikumandangkan, maka tidak ada shalat selain shalat wajib." Telah menceritakan kepada kami Abd bin Humaid telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Zakariya bin Ishaq dengan sanad seperti ini. Telah menceritakan kepada kami Hasan Al Hulwani telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari 'Amru bin Dinar dari Atha` bin Yasar dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seperti hadits di atas. Hammad mengatakan; "Aku pernah menemui 'Amr, lalu dia Menceritakan kepadaku, namun dia tidak memarfu'kannya”(HR Muslim no.1181 dan Abu Dawud no. 1092).
(2)Penerima pahala tidak dimonopoli orang tertentu
Rasulullah Saw. sendiri menetapkan bahwa orang yang modalnya air mata pahalanya sama dengan yang modalnya besar dan hebat bahkan harta dengan nyawa.
4071عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجَعَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ فَدَنَا مِنَ الْمَدِينَةِ فَقَالَ إِنَّ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ قَالَ وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ (رواه البخاري)
Artinya: “Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw. suatu hari pulang dari perang Tabuksaat dekat Madinah beliau bersabda: “Sungguh di kota ada beberpa orang yang mana betul-betul pada setiap kalian menempuh suatu perjalanan, setiap kalian menyeberang lembah sungguh mereka itu beserta kalian” Mereka bertanya: “Ya Rasulullah mana mungkin mereka di dalam kota?” Beliau bersabda: “Mereka terhalang”(HR Bukhari no.4071 dan Muslim no.3534).
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَهُوَ قَاعِدٌ فَقَالَ مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ نَائِمًا عِنْدِي مُضْطَجِعًا هَا هُنَا)رواه البخاري 1049)
“Bahwa 'Imran bin Hushain r.a. berkata: Aku pernah bertanya kepada Nabi Saw tentang seseorang yang melaksanakan shalat dengan duduk. Maka Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Siapa yang shalat dengan berdiri maka itu lebih utama. Dan siapa yang melaksanakan shalat dengan duduk maka baginya setengah pahala dari orang yang shalat dengan berdiri dan siapa yang shalat dengan tidur (berbaring) maka baginya setengah pahala orang yang shalat dengan duduk". Berkata, Abu 'Abdullah; "Menurutku yang dimaksud dengan tidur adalah berbaring”(HR Bukhari no.1049).
Dan menurut riwayat Ahmad no.12409 beliau bersabda: إِلَّا شَرَكُوكُمْ فِيهِ “Mereka betul-betul bersekutu dengan kalian” yang dapat kita terjemahkan: Pahalanya dibagi bersama dengan mereka.
Orang yang dapat dikelompokkan kedalamkategori ini ialah orang-orang yang menderita musibah, jompo, buta, pincang, melarat, tidak ada dosa baginya, tidak berangkat perang sabil, syaratnya ialah azam yang kuat, Lillahi Ta’ala yang diistilahkan Al-Quran ( إِذَ ا نَصَحُواْ للَّهِ وَرَسُولِهِ} bonek dalam arti yang luhur, seperti kisah Mash’ab bin ‘Umair pemegang bendera perang putus tangan kanannya dipedang tentara kafir, lalu bendera dipegang tangan kirinya dan ditebas lagi oleh musuh, ‘Amr bin Jamuh tangannya invalid terkena pedang orang kafir.
Ats-Tsa’alibi mencatat bahwa QS9a91-92 turun berkaitan dengan ‘Abdullah, ‘Abdurrahman, ‘Uqail, Nu’man, Suwaid dan Sinan=6 orang mereka semua pernah ikut dalam perang Khandaq.
@ Tafsir Ibnul Jauzi, mencatat ada 3 sebab mengapa tidak berangkat perang Tabuk, yaitu: idak mempunyai kendaraan,bekal dan spatu.
@Syaratnya ialah niat yang tulus suci, jihad menguras kekuatan
Hadis Buklhari-Muslim di atas merupakan penegasan Rasul Saw. bahwa orang yang modalnya hanya air mata pahalanya sama dengan yang berkorban harta dan nyawa. Zakat emas dan uang iala 2,5% dengan ini maka orang seperti Habibi mempunyai uang 40 milar dia wajib membayar zakat satu milyar. Maka jika seorang buruh (tandur,nutu, matun, cuci) dapat membayar 2,5 % uang yang dimilikinyA maka pahalanya menurut saya sama Habibi membayar satu milyar, bahkan mungkin lebih besar sebab si miskin ini menunaikan sunat sebab hartanya tidak mencpai satu nishab.
Berdalil dengan s9a91-92 dan hadis Bukhari no.4071-Muslim 3534 di atas maka seorang guru ngaji alif bak tak dipucuk gunung penduduk suku terasing primitif maka pahalanya tidak kurang dari pahala Prof. DR. Alwi Syihab mengajar agama Islam di Perguruan Tinggi di Washington DC.
Puasa adalah ibadah yang pahalanya dapat direbut oleh orang yang melarat, orang jompo, orang pincang,orang buntung, orang yang lumpuh dan pahanya tidak kalah dengan pahala puasa seorang Mike Tyson atau Muhammad Ali juara tinju klas berat dunia.
Berdasarkan hadis Bukhari-Muslim ini pula maka seorang yang melarat yang berusaha menabung uang ingin naik haji, maka pahalanya tidak akan kalah dengan mereka yang naik haji setiap tahun karena kekayaannya melimpah. Oleh karena itulah orang Madura bakul rokok kaki lima menabung sedikit-sedikit akhirnya bisa berangkat haji, orang Blitar petani ikan lele, orang Banyuwangi menjual sabut-bathok kelapa semua bisa naik haji maka pahalanya sama dengan milyarder haji plus dengan bekal dolar atau dinar berlimpah-limpah.
@ Jihad menjadi ukuran
Syarat yang sangat menentukan ialah Jihad dan berkurban fi Sbilillah, yaitu maksimalisasi, memeras tenaga atau menguras harta kekayaan yang sangat dicintai untuk sarana &prasarana perjuangan menjunjung tinggi Kalimatillahi hiyal ‘Ulya seperti yang tercatat dalam Al-Quran s9a92 dengan hadis Bukhari no.4071 dan Ahmad no1240 bahwa 6-7 orang yang sangat melarat ingin sekali ikut jihad perag sabil tidak terkabul selain hanya curahan air mata mereka.
@Instink Religios
Allah menciptakan manusia disertai instik disamping akal dan perasaan dengan resep dan ukuran apa saja yang diperlukan oleh manusia, agar supaya mereka tetap dapat melangsungkan kehidupannya dan memenuhi kebutuhannya serta dapat hidup secara lebih baik lagi.
Para ahli sosiologi-antropologi telah mengadakan penelitian mengenai kebutuhan hidup manusia secara universal sama siapa saja dimanapun juga kapanpun jamannya, yaitu:
@. Ralph Piddington dalam bukunya “An Introduction to Social Anthropology” (1950:221) mencatat kebutuhan manusia secara universal (Human Needs):
i. Kebutuhan primer
Kebutuhan primer ialah kebutuhan yang sama antara manusia dengan makhluk hewan, yaitu:(1) Makan, minum, bernafas.(2)Membersihkan diri, istirahat, ketahanan diri dari serangan atau cuaca, demikian juga kesehatan.(3)Pemenuhan hawa nafsu seks/birahi dan anak keturunan.
ii. Kebutuhan sekunder
Kebutuhan sekunder atau kebutuhan sosial terdiri dari: (1)Pengembangan kebudayaan dan pendidikan.(2)Menggerakkan kegiatan bersama, berkomunikasi dengansesama. (3)Kepuasan akan pemilikan atas harta kekayaan. (4) Terselenggaranya ketertiban sosial, hukum dan adat.
iii. Kebutuhan integratip:Kebutuhan integratip ini sangat berkaitan dengan soal perasaan moral, kepercayaan dan kesempurnaan hidup.(1)Melakukan kegiatan ritual keagamaan (Magico religious system)(2)Kebutuhan akan hiburan, permainan dan kepuasan dalam bidang seni serta keindahan.

@ Abraham Maslow dalam bukunya “Motivation and Personality” (1954:15) mengemukakan ada 5 kategori kebutuhan hidup manusia secara universal itu, yaitu:
i. Kebutuhan dasar jasmani
ii. Kebutuhan akan ketertiban dan keamanan
iii. Kegiatan bersama dan rasa sosial
iv. Kehormatan dan penghargaan
v. Puncak kepuasan dan kesempurnaan
@Abu Zahrah dalam kitabnya Ushul Fiqh (1958:291) mencatat apa yang disebut dengan “Maslahah yang hakiki” yang merupakan teori ahli hukum Islam mengenai kebutuhan hidup manusia secara universal, menurut teori ini ialah: 1) Kebutuhan terjaganya syariat Tuhan; 2)Kebutuhan terpeliharanya kelangsungan hidup jiwa;3) Kebutuhan terjaganya hak atas harta kekayaan;4) Kebutuhan terpeliharanya akal yang sehat;5) Kebutuhan terpeliharanya anak keturunan
Jika dianalisa secara mendalam maka teori Piddington dan Maslow seluruhnya dapat tertampung dalam teori ahli hukum Islam secara khusus disebut “Adl-Dlaruriyatul Khamsah”. Maka manusia yang wajar memerlukan terpenuhinya kebutuhan penyembahan kepada Tuhan, kebutuhan hidup, keperluan akan harta, kesehatan dan anak keturunan.
Maslahah yang hakiki ialah suatu sistem kehidupan bermasyarakat yang serba terpenuhi jaminan hidup yang 5 macam, yaitu:(1)Terjaminnya kelangsungan syari’at Tuhan, suatu kehidupan yang berjiwa agama;(2)Terjaminnya hak hidup setiap insan;(3)Terjaminnya hak pemilikan atas harta kekayaan; (4)Terjaminnya perkembangan akal yang sehat; (5)Terjaminnya hak berkeluarga dan berketurunan;
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ( الاعراف172)
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"(S.7 Al-A’raf 172).
@ Ashabul A’raf
Ashabul A’raf ialah sejumlah umat manusia yang kelak tidak masuk surga juga tidak masuk neraka, mereka menangis jika melihat surga tetapi berbesar hati ketika melihat neraka:
الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا وَهُمْ بِالْآخِرَةِ كَافِرُونَ()وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ()وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ()وَنَادَى أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ قَالُوا مَا أَغْنَى عَنْكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ ( الاعراف 45-48)
"” (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat." Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A`raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga:" Salaamun `alaikum". Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu". Dan orang-orang yang di atas A`raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: "Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfa`at kepadamu"(S.7 Al-A’raf 45-48).
Masalah bagaimana nasib mereka yang memang betul-betul belum pernah mendengar dakwah Islam maka dapat diduga bahwa Allah akan menentukan Qudrat-Iradat-Nya kepada mereka apakah akan mendapat azab neraka atau mendapat rahmat yang lain, misalnya seperti kaum Ashabul A’raf itu..
Berdasarkan beberapa nash Al-Quran dan hadis dalam berbagai bidang tersebut di atas maka

BAB DUA
Sifat Allah
@Masalah ke-2:. Apa saja sifat-sifat Allah yang wajib kita ketahui dan kita yakini? Jawaban sementara: Allah itu mempunyai sifat wajib 20, sifat Mustahil 20 dan Al-Asmaul Husna 99 macam yang merupakan sifat Allah juga.
I. Sifat wajib bagi Allah
Ahli pikir dan tokoh Multazilah Allah itu hanya mempunyai satu sifat yaitu Mutlak Maha Esa, sedangkan ulama Asy’ariyah Allah itu mempunyai sifat 20, yaitu: 1. Wujud : Artinya Ada2. Qidam : Artinya Sedia yang terbahagi kepada empat bagian :3. Baqa’ : Artinya Kekal, 4. Mukhalafatuhu Ta’ala Lilhawadith. Artinya : Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu.5. Qiyamuhu Ta’ala Binafsihi : Artinya : Berdiri Allah Ta’ala dengan sendirinya 6. Wahdaniyyah. Artinya : Esa Allah Ta’ala pada zat, pada sifat & pada perbuatan.7. Al – Qudrah : Artinya : Kuasa qudrah Allah SWT.8. Iradah : Artinya : Menghendaki Allah Ta’ala.9. ‘Ilmu : Artinya : Allah Maha Mengetahui 10. Hayat . Artinya : Hidup Allah Ta’ala..11. Sama’ : Artinya : Mendengar Allah Ta’ala.12. Bashar : Artinya : Melihat Allah Ta’ala .13 .Kalam : Artinya : Berkata-kata Allah Ta’ala.14. Kaunuhu Qadiran : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkuasa Mengadakan Dan Mentiadakan.15.Kaunuhu Muridan : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Menghendaki dan menentukan tiap-tiap sesuatu.16.Kaunuhu ‘Aliman : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Mengetahui akan Tiap-tiap sesuatu.17.Kaunuhu Hayyun : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Hidup.18.Kaunuhu Sami’an : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Mendengar akan tiap-tiap yang Maujud.19.Kaunuhu Bashiran : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Melihat akan tiap-tiap yang Maujudat ( Benda yang ada ).20.Kaunuhu Mutakalliman : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkata-kata. . II. Sifat Mustahil artinya tidak mungkin; . Wajib atas tiap-tiap mukallaf mengetahui sifat-sifat yang mustahil bagi Allah yang menjadi lawan daripada dua puluh sifat yang wajib baginya. Maka dengan sebab itulah di nyatakan di sini sifat-sifat yang mustahil satu-persatu :1. ‘Adam; berarti “Tidak ada”.2. Huduth; berarti “Baharu”.3. Fana’; berarti “Binasa”.4. Mumathalatuhu Lilhawadith; berarti “Menyerupai makhluk”.5. Qiyamuhu Bighayrih; berarti “Berdiri dengan yang lain”.6. Ta’addud; berarti “Bberbilang-bilang”.7. ‘Ajz; berarti “Lemah”.8. Karahah; berarti “Terpaksa”.9. Jahl; berarti “jahil/Bodoh”..10. Maut; berarti “Mati”.11. Samam; berarti “Tuli”.12. ‘Ummy; berarti “Buta”.13. Bukm berarti “Bisu”.14. ‘Ajizan; berarti “keadaannya Yang lemah”.15. Karihan; berarti “keadaannya Yang terpaksa”.16. Jahilan; berarti “keadaannya Yang jahil/bodoh”.17. Mayyitan; berarti “keadaannya Yang mati”.18. Shammum; berarti “keadaannya yang tuli”.19. A’ma; berarti “keadaannya Yang buta”.20. Abkam; berarti “keadaannya Yang bisu”
III. Asmaul Husna Secara singkat Al-Quran menyebutkan nama-nama Allah itu:
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ(22)هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ(23)هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ(24)
Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana"”(S.59 Al-Hasyr 22-24). Lengkapnya adalah sebagai berikut: . Yang Maha Pemurah;2. Yang Maha penyayang;3. Yang Maha Kuasa;4. Yang Maha Suci;5. Yang Maha Sejahtera;6. Yang memberikan rasa aman;7. Yang Maha Memelihara;8. Yang Maha Perkasa;9. Yang Maha Memaksa;10. Yang Memiliki kebesaran;
11. Yang Maha Mencipta;12. Yang Maha Melepaskan;13.Yang menciptakan rupa makhluk;14. Yang Maha Mengampuni;15. Yang Maha Perkasa;16. Yang Maha Pemberi Karunia;17. Yang Maha Pemberi Rizki;18.Yang Maha Pembuka;19.Yang Maha Mengetahui Segalanya;20.Yang Maha Menyempitkan kenikmatan;21.Yang Maha Melapangkan Rizki;22. Yang Maha Merendahkan makhluknya;23. Yang Meninggikan Martabat makhluknya;24. Yang Maha Memuliakan makhluknya;25. Yang Maha Menghinakan makhluknya;26. Yang Maha Mendengar;27. Yang Maha Melihat;
28.Yang Maha menetapkan;29. Yang Maha Adil;30. Yang Maha penyantun;31. Yang Maha Mengetahui Segala Rahasia;32. Yang Maha Penyantun, lembut;33. Yang Maha Agung dari segalanya;34. Yang Maha pengampun;35. Yang Maha Membalas jasa atas amal baik hamba-Nya;36. Yang Maha Tinggi;37. Yang Maha Besar;38. Yang Maha Menjaga; 39. Yang Maha Memelihara;40. Yang Maha PembuatPerhitungan;41., Yang memiliki segala keagungan;42. Yang Maha Mulia;43. Yang Maha Mengawasi;44. Yang Maha Mengabulkan;45. Yang Maha Luas;46. Yang Maha Bijaksana;47. Yang Maha Pengasih;48. Yang Maha Mulia;49. Yang Maha Membangkitkan;50.Yang Maha Menyaksikan;51. Yang Maha Benar;52., Yang Maha Memelihara;53. Yang Maha Kuat;55. Yang Maha Melindungi;56. Yang Maha Terpuji;57. Yang Maha Menghitung dan mengetahui jumlah dan ukuran segala sesuatu;58., Yang Maha Memulai;59. Yang Maha Mengembalikan kehidupan makhluk-Nya;60. Yang Maha Menghidupkan;61. Yang Maha Mematikan;62. Yang Maha Hidup;63.Yang Maha Mandiri; 64. Yang Maha Menemukan apa yang dikehendaki;65. Yang Maha Mulia;66. Yang MahaEsa/Tunggal;67. Yang Maha Esa;68. Yang Maha dibutuhkan;69. Yang Maha Kuasa;70. Al-Muqtadir, Yang Maha Berkuasa;71. Yang Maha Mendahulukan;72. Yang Maha Mengakhirkan; 73. Yang Maha Permulaan;74. Yang Maha Akhir;75. Yang Maha Nyata;76. Yang Maha Ghaib;77. Yang Maha Memerintah; 78. Yang Maha Tinngi;79. Yang Maha Derma;80. Yang Maha Menerima Taubat hamba-Nya;81. Yang Maha Penyiksa;82. Yang Maha Pemaaf;83. Yang Maha Pengasih;84. Malikul Mulk, Yang Maha Merajai Kerajaan;85. Yang Maha Memiliki kebesaran dan kemuliaan;86. Yang Maha Adil;87. Yang Maha Pengumpul;88. Yang Maha Kaya;89. Yang Maha Berkecukupan;90. Yang Maha Mencegah;91. Yang Maha Pemberi Derita;92. Yang Maha Pemberi Manfaat;93. Yang Maha Bercahaya;94. Yang Maha Memberi Petunjuk;95. Yang Maha Pencipta;96. Yang Maha Kekal;97. Yang Maha Pewaris;98. Yang Maha Pandai;99. Yang Maha Sabar.


BAB TIGA
IKTIKAF
Curhat kepada Allah
Masalah ke-3. Bagaimana ikhtiar kita agar supaya kita sebagai makhluk yang sangat lemah memenuhi permintaan Allah dalam Al-Quran S.2 Al-Baqarah 186 di atas: Jawaban sementara: Ikhtiar untuk memenuhi Qs3a185 di atas ialah sungguh-sungguh taqarrub atau mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah melalui sifat Rahman Rahim-Nya memohon kasih sayang Allah.
Shalat nabi Saw sangat khusyuk dan lama sekali
@Tafsir Al-Baghawi (5h116) dalam menganalisa Qs17a79 (sebagaimana tercantum d awal makalah diatas) mencatat hadis bahwa Abu Salamah bertanya kepada ‘Aisyah tentang shalat Nabi Saw dijawab bahwa beliau shalat dibulan Ramadhan dan semua bulan di luar Ramadhan tidak lebih dari 11 rakaat, (4+4+3 rakaat), tetapi jangan tanya khusyuk dan lamanya luar biasa
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي (رواه البخاري 1874)
“Dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman bahwasanya dia bertanya kepada 'Aisyah radliallahu 'anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka 'Aisyah radliallahu 'anha menjawab: "Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (melaksanakan shalat malam) di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka'at, Beliau shalat empat raka'at, maka jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka'at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian Beliau shalat tiga raka'at. Lalu aku bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?" Beliau menjawab: "Wahai 'Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur" (HR Bukhari no.1874 dan Muslim no.1219).
@Tafsir Al-Khazin (4h275) dalam menganlisa Qs17a77-79 tersebut mencatat hadis bahwa Nabi Saw karena lamanya sampai kaki beliau bengkak:
عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى حَتَّى انْتَفَخَتْ قَدَمَاهُ فَقِيلَ لَهُ أَتَكَلَّفُ هَذَا وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا (رواه مسلم 5044 (
“Dari Al Mughirah bin Syu'bah nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam shalat hingga kedua kaki beliau bengkak, dikatakan pada beliau: Apa Tuan memaksakan ini padahal Allah telah mengampuni dosa yang terlalu dan yang dikemudian. Beliau menyahut: "Apakah aku tidak menjadi hamba yang bersyukur?")HR Muslim no.5044 dan Bukhari n0.377).
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ ثُمَّ مَضَى فَقُلْتُ يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ فَمَضَى فَقُلْتُ يَرْكَعُ بِهَا ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ ثُمَّ رَكَعَ فَجَعَلَ يَقُولُ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحْوًا مِنْ قِيَامِهِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ثُمَّ قَامَ طَوِيلًا قَرِيبًا مِمَّا رَكَعَ ثُمَّ سَجَدَ فَقَالَ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى فَكَانَ سُجُودُهُ قَرِيبًا مِنْ قِيَامِهِ قَالَ وَفِي حَدِيثِ جَرِيرٍ مِنْ الزِّيَادَةِ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ (رواه مسلم 1291 والترمذي 243 والنسائي 999)
" Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dan Abu Mu'awiyah -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim semuanya dari Jarir mereka semua dari Al A'masy -dalam jalur lain- telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair -dan lafazh ini adalah darinya- telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Sa'id bin Ubaidah dari Al Mustaurid bin Al Ahnaf dari Shilah bin Zufar dari Hudzaifah ia berkata; Pada suatu malam, saya shalat (Qiyamul Lail) bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau mulai membaca surat Al Baqarah. Kemudian saya pun berkata (dalam hati bahwa beliau) akan ruku' pada ayat yang ke seratus. Kemudian (seratus ayat pun) berlalu, lalu saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan shalat dengan (surat itu) dalam satu raka'at. Namun (surat Al Baqarah pun) berlalu, maka saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan segera sujud. Ternyata beliau melanjutkan dengan mulai membaca surat An Nisa` hingga selesai membacanya. Kemudian beliau melanjutkan ke surat Ali Imran hingga selesai hingga beliau selesai membacanya. Bila beliau membaca ayat tasbih, beliau bertasbih dan bila beliau membaca ayat yang memerintahkan untuk memohon, beliau memohon, dan bila beliau membaca ayat ta'awwudz (ayat yang memerintahkan untuk memohon perlindungan) beliau memohon perlindungan. Kemudian beliau ruku'. Dalam ruku', beliau membaca: "SUBHAANA RABBIYAL 'AZHIIM " Dan lama beliau ruku' hampir sama dengan berdirinya. Kemudian beliau membaca: "SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH" Kemudian beliau berdiri dan lamanya berdiri lebih kurang sama dengan lamanya ruku'. Sesudah itu beliau sujud, dan dalam sujud beliau membaca: "SUBHAANA RABBIYAL A'LAA " Lama beliau sujud hampir sama dengan lamanya berdiri. Sementara di dalam hadits Jarir terdapat tambahan; Beliau membaca: "SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH RABBANAA LAKAL HAMDU, Ya Tuhan kami bagi-Mu segala puji(HR Muslim no.1291 dan Turmudzi no.243
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ قَالَ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقَرَأَ حَتَّى بَلَغَ رَأْسَ الْمِائَةِ فَقُلْتُ يَرْكَعُ ثُمَّ مَضَى حَتَّى بَلَغَ الْمِائَتَيْنِ فَقُلْتُ يَرْكَعُ ثُمَّ مَضَى حَتَّى خَتَمَهَا قَالَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ قَالَ ثُمَّ افْتَتَحَ سُورَةَ آلِ عِمْرَانَ حَتَّى خَتَمَهَا قَالَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ قَالَ ثُمَّ افْتَتَحَ سُورَةَ النِّسَاءِ فَقَرَأَهَا قَالَ ثُمَّ رَكَعَ قَالَ فَقَالَ فِي رُكُوعِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ قَالَ وَكَانَ رُكُوعُهُ بِمَنْزِلَةِ قِيَامِهِ ثُمَّ سَجَدَ فَكَانَ سُجُودُهُ مِثْلَ رُكُوعِهِ وَقَالَ فِي سُجُودِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى قَالَ وَكَانَ إِذَا مَرَّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا عَذَابٌ تَعَوَّذَ وَإِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَنْزِيهٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سَبَّحَ (رواه احمد 22175)
“Dari Hudzaifah bin Al Yaman berkata; Aku shalat bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam pada suatu malam. Beliau memulai dengan surat Al Baqarah, beliau membacanya hingga sampai penghujung ayat seratus, aku berkata; Setelah ini pasti beliau melakukan ruku', beliau terus membaca hingga sampai ayat duaratus, aku berkata; Setelah ini pasti beliau melakukan ruku', beliau terus membaca hingga sampai khatam, aku berkata; Setelah ini pasti beliau melakukan ruku', lalu beliau membaca surat 'Aali 'Imraan hingga mengkhatamkannya, aku berkata; Setelah ini pasti beliau melakukan ruku', lalu beliau membaca surat An Nisaa`, beliau membacanya kemudian ruku'. Saat ruku' beliau membaca: SUBHAAANA RABBIYAL 'ADHIIM. Berkata Hudzaifah bin Al Yaman: Lamanya beliau ruku' beliau sama seperti saat berdiri, lalu beliau sujud seperti lamanya saat ruku'. Saat sujud beliau membaca: SUBHAANA RABBIYAL A'LAA. Bila beliau membaca ayat rahmat, beliau berdoa, bila membaca ayat adzab beliau meminta perlindungan dan bila ada ayat penyucian untuk Allah 'azza wajalla beliau bertasbih”(HR Ahmad no.22175)*Lamanya rukuk dan sujud seimbang dengan lamanya brerdiri.
@Tafsir Al-Khazin (4h275) dalam menganlisa Qs17a77-79 mencatat
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا فَلَمَّا كَثُرَ لَحْمُهُ صَلَّى جَالِسًا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَقَرَأَ ثُمَّ رَكَعَ(واه البخاري 4460, 1062 ومسلم 5044))
“Dari Aisyah radliallahu 'anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat malam hingga kaki beliau bengkak-bengkak. Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, kenapa Anda melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu dan yang akan datang? Beliau bersabda: "Apakah aku tidak suka jika menjadi hamba yang bersyukur?" Dan tatkala beliau gemuk, beliau shalat sambil duduk, apabila beliau hendak ruku' maka beliau berdiri kemudian membaca beberapa ayat lalu ruku’(HR Bukhari no.4460, 1062 dan Muslim no.5044).
88888888888888888888888888888888888
عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُمْ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ (رواه البخاري 3883 ومسلم 4873)
“ Dari Abu Musa Al Asy'ari r'a ia berkata; “Ketika Rasulullah Saw melihat orang-orang menuruni lembah sambil mengeraskan suara bertakbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar laa ilaaha illallah (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah), maka Rasulullah Saw bersabda: "Rendahkanla suara kalian, karena kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan Dzat yang ghaib. Sesungguhnya kalian menyeru Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia selalu bersama kalian". Saat itu aku berada di belakang hewan tunggangan Rasulullah Saw dan beliau mendengar apa yang aku ucapkan. Saat itu aku membaca; "laa hawla wa laa quwwata illa billah (Tidak ada daya dan upaya melainkan dari Allah) ", maka beliau berkata kepadaku: "Wahai Abdullah bin Qais". Aku jawab; "Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah." Beliau melanjutkan: "Maukah aku tunjukkan kepadamu satu kalimat yang termasuk perbendaharaan surga?". Aku jawab; "Tentu wahai Rasulullah, demi bapak ibuku sebagai tebusan tuan." Beliau bersabda: "laa hawla wa laa quwwata illa billah” (HR Bukhari no.3883 dan Muslim no.4873)
Melihat nyata-nyata bahwa Rasulullah Saw shalat Qiyamul Lail baik di bulan Ramadhan maupun seluruh malam di luar Ramadhan, shalatnya terlalu lama terlalu khusuk, membaca surat Al-Baqarah, surat An-Nisa` dan surat Ali ‘Imran dalam SATU RAKAAT shalat malam beliau. Demikian lamanya shalat beliau dalam shalat malam ini bukan hanya dalam berdiri saja tetapi mencakup rukun-rukun dalam rukuk dan sujudnya yang lain, maka disana terdapat hadis-hadis yang dapat meneladani sedikit dari contoh shalat malam beliau salah satunya ialah Shalam Qiyamul Lail dengan membaca 300 Tasbih dalam shalat yang ada kemungkinan kita semua masih mampu melaksanakannya dank karena analan 300 Tasbih ini maka shalat ini dinamakan Shalat Tasbih sebagaimana uraian berikut:
*Curhat kepada Allah*
@Qiyamul Lail:
0. Persiapan : Bangun jam o1.45 siap-siap bersuci dsb.
2.I’tikaf: Masuk Masjid cari tempat yang paling aman dari suara dan sinar, tidak ada yang mengetahui dirinya kecuali Allah. #Pengertian Malam:
Aslinya malam itu ialah suatu keadaan yang gelap-pekat, sunyi senyap, tidak ada suara, tidak ada sinar, semua makhluk pada tidur semua. Nuansa demikian juga dirasakan oleh orang-orang pelaku sejarah: Nabi Zakariya, Nabi Yunus, Ashabul Kahfi bahkan Rasulullah Saw sebelum diutus menjadi nabi saat beliau ‘Uzlah di
guwa Khira` dan ketika dikejar kaum musyrikin beliau bersembunyi 3 malam di dalam guwa Tsaur, ini dicatat dalam Al-Quran dan disinggung oleh hadis di bawah ini:
عَنْ عَلِيٍّ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَقَ وَقَدْ تَكَلَّمَ بَعْضُ أَهْلِ الْحَدِيثِ فِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَقَ هَذَا مِنْ قِبَلِ حِفْظِهِ وَهُوَ كُوفِيٌّ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَقَ الْقُرَشِيُّ مَدَنِيُّ وَهُوَ أَثْبَتُ مِنْ هَذَا وَكِلَاهُمَا كَانَا فِي عَصْرٍ وَاحِدٍ (رواه الترمذي 1907)
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr, telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir dari Abdurrahman bin Ishaq dari An Nu'man bin Sa'd dari Ali ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya." Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, "Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?" Nabi menjawab: "Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari diwaktu manusia pada tidur." Berkata Abu Isa: Ini merupakan hadits gharib yang tidak kami ketahui kecuali dari haditsnya Abdurrahman bin Ishaq dan sebagian ahli hadits telah mengomentari Abdurrahman bin Ishaq dari segi hapalannya, dia berasal dari Kufah. Adapun Abdurrahman bin Ishaq Al Qurasyi dia berasal dari Madinah dan hapalannya lebih kuat dari yang tadi, dan keduanya hidup sezaman”(HR Turmudzi no.1907).
~ Nabi Zakariya dalam kesedihan memohon penerus perjuangan Jihad fi Sabilillah, beliau berdo’a dalam Mihrab dlam nuansa sunyi senyap, gelap gulita, termaktub dalam Al-Quran:

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا()إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا( مريم -)
“(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakariya, yaitu tatkala ia berdo`a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut”(S.19 Maryam 2-3)
~ Nabi Yunus berdo’a dalam gelap pekat luar b iasa dalam perut ikan yang berada di dasar laut. Tercatat dalam Al-Quran:
وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ( الانبياء 87)
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim."(S.21 Al-Anbiya` 87).
Maka Allah mendorong kita semua untuk bangun malam shalat Tahajjuj, maka Allah menjanjikan suatu kemuliaan:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا( الاسراء79)
" Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”(S.17 Al-Isra` 79).
~ Anak remaja Ashabul Kahfi berdo’a di dalam Guwa dalam gelap sekali sampai tertidur selama 350 tahun, tercatat dalam Al-Quran:
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا(الكهف10)
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”(S.17 Al-Isra` 79).
~ Ketika Rasulullah Saw dikejar-kejar kaum musyrikin dalam rangka hijrah beliau maka beliau istirahat di dalam Guwa Tsaur selama 3 malam, diabadikan Allah dalam Al-Quran:
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ( التوبة 40)
“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo`a: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)"”(S.18 Al-Kahfi 10).

3.Shalat Iftitah: 2 rakaat: Rakaat ke-1 membaca Alfatihah+surat 97 Al-Qadar, memohon pahala 1000 bulan . Rakaat ke-2 membaca Alfatihah +surat 110 An-Nashr, memohon pertolongan dan berhasil mengejar cita-cita
ِS.97 Al-Qadar sangat menjanjikan pahala 1000 bulan.Qs110 mencatat kemenangan besar Nabi Saw merebut Kota Makkah
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ(3)تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ(القدر4)
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan”(S.97 Al-Qadar 3-4)
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (النصر 1)
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”(S.110 An-Nashr 1)

4.Shalatul Lail /Tahajjuj 8 rakaat dibagi 2, yaitu 4 rakaat+4 rakaat
--(A) Empat rakaat-I membaca Tasbih 300 kali sebelum gerak berganti rukun dibagi 4, tiap rakaat 75 kali: Berdiri 15x,Ruku’10x,I’tidal:10x,Sujud 10x,Duduk 10x,Sujud 10x,Duduk 10x-yaitu……
# Kitab Mushannaf 'Abdur Razzaq (3h124) mencatat bahwa hadis shalat Tasbih dishahihkan oleh Shahih Ibnu Khuzaimah (2h223); Imam Al-Albani menyatakan Hasan karena ada hadis musyahid yang memperkuat riwayat Sunan Abu Dawud itu; Kitab Subulus-Salam.
# Ibnu Khuzaimah (4h442) dalam shahihnya no.1149 meriwayatkan hadis shalat Tasbih melalaui jalur 'Ikrimah-Ibnu 'Abbas.
# Kitab Tanzihusy-Syari'ah (2h106) Abu Dawud mengatakan hadis yang paling shahih dari shalat Tasbih ialah yang diterima oleh Ibnu Ma'in, Nasa`i, Ibnu Hibban, (Bukhari mentakhrij dalam bab Qiraat).
Sebaliknya Al-'Uqaili menyatakan tidak ada yang shahih tidak ada yang hasan terutama nama Shidqah bin .Yazid, Musa bin 'Abdul 'Aziz dan Musa bin 'Abdul Aziz yang dinilai Tsiqqah oleh Ibnu Ma'in, Nasa`i, para ulama menilai shahih atau hasan.
Yang menilai shahih atau menilai hasan Ibnu Mandah, Al-Khathib, As-Sam'ani, Abu Musa al-Madini, Abul Hasan al-Mufadhdhal, Al-Mundziri, Ibnush-Shalah, An-Nawawi, As-Subki.
Ad-Dailami mengataan bahwa shalat Tasbih memuji hadis itu shahih, demikian juga Daraquthni, Baihaqi, Muslim, Al-Hakim. Ibnu Hajar. Daraquthni meriwayatkannya yang nilainya hasan. 'Abdul 'Aziz bin Abi Dawud mengatakan siapa ynag ingin masuk surga harus shalat Tasbih.
# Kitab Minhajus Sunnah (7h238) mencatat Shalat Tasbih ada 2 masalah, yang lebih kuat ialah dusta, Ahmad bin Hanbal mengatakannya makruh karena hadisnya cacat, pengikut madzhab Maliki, Hanafi, Syafi'i, melainya mustahap.
# Kiab Syarhus Sunnah (3h439) menukil hadis Tasbih riwayat Abu Dawud yang berumber dari 'Ikrimah dari Ibnu 'Abbas dengan fadhilahnya. Ibnul Mubarak ditanya soal shalat Tasbih mengatakan bacaan Tasbih sebelum dan sesudah Al-Fatihah masing-masing 15 kali sebelum berdiri tidak usah, tetapi 300 kali harus dipenuhi.
# Al-Ba'its 'ala Inkaris Sunnah (1h66) membolehkan membaca ayat dan Tasbih banyak-banyak di dalam shalat berdasarkan hadis .shalat.
#Dikutip pula bahwa slata Tasbih dinamakan Shalat Ar-Raghaib yang disyari'atkan karena banyaknya sunat yang disukai.
#Dalam Shahih Ibnu Khuzaimah (2h223) tercatat no.1216 hadis shalat Tasbih bersumber dari Ibnu 'Abbas. Imam Al-Albani menyatakannya Dha'if, tetapi ada musyhid yang memperkuat dari Sunan Abu Dawud.
# Al-Mustadrak Al-Hakim (3h214) no.1140 meriwayatkan hadis itu melalui sumber Anas bin Malik dari Ummu Sulaim melalui sanad ini shihih menurut syarat Muslim dengan musyahidnya lewat Al-Yamaniyyin. Di halaman lain (1h462) no.1191 mencatat hal yang sama.
# Sunan Baihaqi al-Kubra (3h51) no.680 meriwayatkan hais tentang 10 rakaat shalat Tathawwu' -Nabi Saw dan shalat Tasbih yang bersumber dari Ibnu 'Abbas. (10 rakaat, yaitu:4 seebelum Zhuhur, 2sesudahnya, 4 sebelum 'Ashar).
# Kitab Mushannaf 'Abdur Razzaq (3h124) mencatat bahwa hadis shalat Tasbih dishahihkan atau hasan oleh Ibnu Mandah, Al-Hakim, Al-Mundziri, Ibnush Shalah.
Yang menyatakan mustahab ialah ulama Syafi'iyah berdasarkan hadis dari Ibnu 'Abbas dengan mutabi' oleh hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Rahawaih, Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim, karena ada Mutab i' yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Abu Nu'aim, Ath-Thabrani lewat Abul Jauza` dan Daraquthni dengan 6 jalur.
#KItab Al-Fawaidul Majmu'ah tulisan Ay-Syaukani (1h19) meriwayatkan hadis shalat Tasbih jalur Al'Abbas diriwayatkan oleh Daraquthni marfu' lewat Ibnu 'Abbas dan Abu Rafi', Ad-Dailami juga meriwayatkannya.
# Ibnu Hajar menilai ( لَا بَأسَ) "Tidak ada masalah"
#Kitab Shahihut Targhib wat-Tarhib (1h165) menilai hadis shalat Tasbih melalui jalur 'Ikrimah-Ibnu 'Abbas Shahih li Ghairihi (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Al-Hafizh mengatakan hadis telah diriwayatkan melalui jalur yang banyak oleh Jamaah dari Sahabat yang dinilai shahih. Muslim bin Hajjaj mengatakan bahwa tidak ada yang lebih baik dari pada jalur lewat Ibnu 'Abbas-'Ikrimah ini.
# Kitab Shahih&Dha'if Sunan Turmudzi (1h481) ada tercatat dua jalur: 1) Dari Anas – Ummu Sulaim. 2) Ibnu 'Abbas-Abu Rafi' maka Imam Al-Albani menilai hasan.
# Kitab Tanzihusy Syari'ah (2h107) mencatat bahwa Adz-Dzahabi yang sanadnya lewat Ibnu 'Abbas bernilai hasan*).
-----------------------------------o---------------
~Rakaat ke-1 membaca Alfatihah+S.19 Maryam 1-9 memohon penerus perjuangan mencapai cita-cita Jihad fi Sabilillah dalam arti yang luas, lalu membaca Tasbih lengkap 15 kali, sambil mengingat kembali dosa dan kesalahan sejak remaja dahulu.
~Rakaat ke-2 membaca Alfatihah+surat 26 Asyu’ara`69-85 memohon kesembuhan dari penyakit jasmani dan rohani, sambil ber-Tawashshul anamalan yang berat pernah dilakukan,
~Rakaat ke-3 membaca Alfatihah+surat 81 Atakwir 15-29 memohon taufiq dan ridho Allah supaya keinginan cita2nya aesuai dengan Qudrat-Iradat Allah, sambil mengenang nikmat dari Allah yang pernah dirasakan,tidak mungkin diri dapat menggapainya sampai berhasil.
~Rakaat ke-4 membaca Alfatihah + surat 55 Arrahman 1-17 memohon sih-kawelasan (belas kasihan Allah) atas semua rencana,program dan target sehingga dapat diselesaikan, sambil mengadu bahwa Allah itu Maha Besar tidak ada yang menyamai. Setelah Salam sujud lagi.
5. Sujud membaca do’a didahului dengan shalawat dan hamdalah serta do’a yang dirasakan paling bagus….. lalu curhat, mencurahkan seluruh uneg-uneg seluruh isi hati kesusaha, kesedihan, penderitaan, sakit yang terlalu berat, masalah yang melanda diri, keluarga, sanak kerabat, tetangga, kaum muslimin dan mukminin semua.

--(B) Empat rakaat kedua, Shalatullail-Tahajjuj tidak dengan bacaan Tasbih dengan bacaan:
~Rakaat ke-1 membaca Alfatihah+surat 17 Al-Isra` 78-82 mohon rahmah-barokah obat-hati dari bacaan Al-Quran .
~ Rakaat ke-2 membaca Alfatihah+surat 20 Thaha 25-35 mohon kemuhadahan dalam menghadapi tugas dan ujian yang paling berat, agar tidak menyimpang dari dzikir memuji Allah.
~ Raakt ke-3 membaca Alfatihah+surat 59 Al-Hasyr 22-24 mohon rahmah-barokah yang terucap karena Allah adalah serba Maha dan Mutlak Maha Sempurna.
~ Rakaat ke-4 membaca Alfatihah+ surat 35-41 mohon kepada Allah yang Maha Mendengar isi hati yang tersembunyi dan yang terucap mohon kabulnya do’a untuk diri, ibu-bapak dan seluruh kaum musimin mukminin.
6. Shalat Witir 3 rakaat:
~ Rakaat ke-1 membaca Alfatihah+ surat 87 Al-A’la dengan memuji Allah itu Maha Suci tidak ada kekurangan apapun juga.
~ Rakaat ke-2 membaca Alfatihah + Al-Kafirun mengaku diri manjadi seorang-hamba yang mukmin bukan orang kafir.
~ Rakaat ke-3 membaca Alfatihah + S. 112 Al-Ikhlash, menyerah diri kepada Allah apapun yang akan dianugerahkan Allah kepada diri ini, karena Allah itu tempat bergantung semua masalah.
7. Jika masih ada kesempatan setelah membaca Tasbih 3 kali, membaca Alfatihah dengan memohon pertolongan, surat Al-‘Alaq mohon keselamatan dari semua keburukan dan kejahatan apa saja dan Al-Ikhlash menyerahkan segala urusan kepad Allah lalu surat 33 Al-Ahzab 56 mohon rahmah barokah apa saja, lalu Shalawat 21x memohon apa yang masih ketingalan yang belum disebut sebelumnya.







Nabi Saw shalat lama sekali
@Tafsir Al-Baghawi (5h116) dalam menganalisa Qs17a79 mencatat hadis bahwa Abu Salamah bertanya kepada ‘Aisyah tentang shalat Nabi Saw dalam bulan Ramadhan bahwa beliau shalat dibulan Ramadhan dan semua bulan tidak lebih dari 11 rakaat, 4+4+3 rakaat, tetapi jangan Tanya khusyuk dan lamanya luar biasa.

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا (الاسراء79)
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي (رواه البخاري 1874)
“Dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman bahwasanya dia bertanya kepada 'Aisyah radliallahu 'anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka 'Aisyah radliallahu 'anha menjawab: "Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (melaksanakan shalat malam) di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka'at, Beliau shalat empat raka'at, maka jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya kemudian Beliau shalat empat raka'at lagi dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian Beliau shalat tiga raka'at. Lalu aku bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?" Beliau menjawab: "Wahai 'Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur" (HR Bukhari no.1874 dan Muslim no.1219).
أَنَّ عَاصِمَ بْنَ حُمَيْدٍ يَقُولُ سَمِعْتُ عَوْفَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ قُمْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَدَأَ فَاسْتَاكَ وَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى فَبَدَأَ فَاسْتَفْتَحَ مِنْ الْبَقَرَةِ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ وَسَأَلَ وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إِلَّا وَقَفَ يَتَعَوَّذُ ثُمَّ رَكَعَ فَمَكَثَ رَاكِعًا بِقَدْرِ قِيَامِهِ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ ثُمَّ سَجَدَ بِقَدْرِ رُكُوعِهِ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ ثُمَّ قَرَأَ آلَ عِمْرَانَ ثُمَّ سُورَةً ثُمَّ سُورَةً فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ (رواه النسائي 1120 وابوداود 739)
“Bahwa 'Ashim bin Humaid berkata; aku mendengar 'Auf bin Malik berkata; "Aku pernah bangun bersama Nabi Saw, lalu beliau mulai bersiwak dan berwudhu. Kemudian beliau berdiri dan shalat. Beliau mengawali shalatnya dengan membaca surat Al Baqarah. Beliau tidak melewati ayat tentang rahmat kecuali beliau berhenti dan memohon (rahmat). Beliau juga tidak melewati ayat tentang adzab kecuali beliau berhenti dan berlindung darinya. Kemudian beliau ruku' hingga ia tenang dalam keadaan ruku' seukuran berdirinya, sambil membaca: 'Subhana dzil jabaruuti wal malakuuti wal kibriyaai wal 'adzamati (Maha Suci Dzat yang mempunyai hak memaksa dan kekuasaan, serta yang memiliki kesombongan dan keagungan) ' saat ruku'. Lantas beliau Shallallahu'alaihiwasallam sujud seukuran ruku'nya tadi dengan membaca: 'Subhana dzil jabaruuti wal malakuuti wal kibriyaai wal 'adzamati'. Kemudian beliau membaca surat Ali 'Imran, kemudian surat lainnya, dan beliau juga melakukan hal yang sama - di rakaat berikutnya”(HR An-Nasa`I no.1120 dan Abu Dawud no.739)

@Tafsir Al-Khazin (4h275) dalam menganlisa Qs17a77-79 mencatat
تفسير الخازن - (ج 4 / ص 275) حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى حَتَّى انْتَفَخَتْ قَدَمَاهُ فَقِيلَ لَهُ أَتَكَلَّفُ هَذَا وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا (رواه مسلم 5044 والبخاري?377)
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Ziyad bin Ilaqah dari Al Mughirah bin Syu'bah nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam shalat hingga kedua kaki beliau bengkak, dikatakan pada beliau: Apa Tuan memaksakan ini padahal Allah telah mengampuni dosa yang terlalu dan yang dikemudian. Beliau menyahut: "Apakah aku tidak menjadi hamba yang bersyukur?")HR Muslim no.5044 dan Bukhari n0.377).
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ ثُمَّ مَضَى فَقُلْتُ يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ فَمَضَى فَقُلْتُ يَرْكَعُ بِهَا ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ ثُمَّ رَكَعَ فَجَعَلَ يَقُولُ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحْوًا مِنْ قِيَامِهِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ثُمَّ قَامَ طَوِيلًا قَرِيبًا مِمَّا رَكَعَ ثُمَّ سَجَدَ فَقَالَ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى فَكَانَ سُجُودُهُ قَرِيبًا مِنْ قِيَامِهِ قَالَ وَفِي حَدِيثِ جَرِيرٍ مِنْ الزِّيَادَةِ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ (رواه مسلم 1291 والترمذي 243 والنسائي 999)
" Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dan Abu Mu'awiyah -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim semuanya dari Jarir mereka semua dari Al A'masy -dalam jalur lain- telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair -dan lafazh ini adalah darinya- telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Sa'id bin Ubaidah dari Al Mustaurid bin Al Ahnaf dari Shilah bin Zufar dari Hudzaifah ia berkata; Pada suatu malam, saya shalat (Qiyamul Lail) bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau mulai membaca surat Al Baqarah. Kemudian saya pun berkata (dalam hati bahwa beliau) akan ruku' pada ayat yang ke seratus. Kemudian (seratus ayat pun) berlalu, lalu saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan shalat dengan (surat itu) dalam satu raka'at. Namun (surat Al Baqarah pun) berlalu, maka saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan segera sujud. Ternyata beliau melanjutkan dengan mulai membaca surat An Nisa` hingga selesai membacanya. Kemudian beliau melanjutkan ke surat Ali Imran hingga selesai hingga beliau selesai membacanya. Bila beliau membaca ayat tasbih, beliau bertasbih dan bila beliau membaca ayat yang memerintahkan untuk memohon, beliau memohon, dan bila beliau membaca ayat ta'awwudz (ayat yang memerintahkan untuk memohon perlindungan) beliau memohon perlindungan. Kemudian beliau ruku'. Dalam ruku', beliau membaca: "SUBHAANA RABBIYAL 'AZHIIM (Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung)." Dan lama beliau ruku' hampir sama dengan berdirinya. Kemudian beliau membaca: "SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Maha Mendengar Allah akan orang yang memuji-Nya)." Kemudian beliau berdiri dan lamanya berdiri lebih kurang sama dengan lamanya ruku'. Sesudah itu beliau sujud, dan dalam sujud beliau membaca: "SUBHAANA RABBIYAL A'LAA (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi)." Lama beliau sujud hampir sama dengan lamanya berdiri. Sementara di dalam hadits Jarir terdapat tambahan; Beliau membaca: "SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH RABBANAA LAKAL HAMDU (Allah Maha Mendengar akan orang yang memuji-Nya, Ya Tuhan kami bagi-Mu segala puji(HR Muslim no.1291, Turmudzi no.243 dan An-Nasa’i no.999.)










Silahkan buka internet situs : http://pondoquranhadis.wordpress.com
Kirimkan naskah ke Email::pondokilmu7@gmail.com-Tlp:0318963843

0 komentar:

Poskan Komentar

Pengunjung Ke-

Ada kesalahan di dalam gadget ini

About Me

Template by KangNoval & Abdul Munir | blog Blogger Templates