Tampilkan postingan dengan label TAFSIR TEMATIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAFSIR TEMATIS. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2009

Airmata Dhu'afa` Sama dengan Darah Syuhada`

(4) Tafsir Tematis Kontemporer

AIR MATA DHU'AFA`= DARAH JIHAD
Pengantar

Allah Swt. itu melihat manusia tidak kepada jasmani dan bentuk tubuh yang lahiriyah tetapi Allah sangat memperhatikan kepada hati dan amal manusia yang ruhaniyah sifatnya. Oleh karena itu kita semua hamba Allah tidak perlu berkecil hati, walaupun melaratnya terlalu bodohnya sangat kasihan.
Allah sudah berjanji akan mengangkat derajat yang begitu tinggi kepada kaum yang lemah tidak mempunyai daya tarik tidak mempunyai kekuatan apa-apa, jika hatinya penuh taqwa dan mempunyai amal yang dicintai Allah akan mendapat derajat yang tinggi.
Alangkah baiknya jika kita merenungkan isi Al-Quran dan hadis, tafsir dan syarah hadis berikut:
I. S.9 AtTaubat 91-92
لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَى وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ(91)وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ (التوبة 91-92)
II, Artinya:
“dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”(S.9 At_taubat 121-122).
III. Tafsir dan sari tilawah
A. Tema dan acuan masalah
Tema dan sari tilawah Al-Quran S.9 At-Taubat 91-92 di atas dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Hamba-hamba Allah itu ada yang kuat ada yang lemah, ada yang sakit ada yang sehat wal afiat, ada yang kaya ada yang miskin papa.
2. Mereka yang memenuhi syarat-rukun Jihad wajib berjihad sedangkan yang lemah, sakit atau miskin tidak berdosa jika tidak berangkat jihad
3. Tetapi Allah tidak menutup jalan orang yang tulus ikhlas ingin ikut berjihad di medan juang.
4. Allah sangat iba penuh kasih dan akan memberikan anugerah kepada mereka yang berusaha keras berangkat ke medan jihad, tetapi tidak mempunyai bekal.
B. Masalah dan analisasa jawaban
Dari jalinan kata dan untaian kalimat Al-Quran s9a91-92 di atas ada beberapa pertanyaan yang diduga bisa lebih mempertajam pemahaman kita kepada ayat di atas, yaitu:
1. Bagaimana hukumnya jihad fi sabilillah itu?
Jihad fi sabilillah itu wajib hukumnya atas kaum muslimin dengan beberapa syarat-rukunnya.
2. Melihat pahala jihad itu sangat menjanjikan lalu bagaimana caranya orang-orang yang tidak memenuhi syarat rukun jihad?
Semua amal ibadah sampai jihad itu dilakukan menurut kekuatan, situasi dan kondisi indivu perseorangan tiap orang.
3. Bagaimana ceriteranya para sahabat yang menangis yang diabadikan didalam Al-Quran s9a92 ini?
Ada 7 orang sahabat dengan niat yang tulus ingin berangkat jihad tetapi tidak mempunyai bekal dan sarananya lalu menangis sendu.
C. Pendalaman dan penelitian
Bab I. Jihad fi sabilillah hukumnya wajib
Az-Zuhaili dalam Al-Fiqhul Islami (1989:J6h413) mencatat bahwa jihad itu mengajak orang membela agama yang benar dan siap berkorban jiwa dan raganya melawan siapa yang menolak ajakan itu.
Jihad fi Sabilillah hukumnya wajib, siapa yang tidak mentaatinya akan tersiksa, terhina dan dikuasai musuh serta azab dari Allah. Hal ini dapat ditelusuri dalam Al-Quran s22a78, s9a111, s4a95, s9a126, s9a120, s8a45, s9a41, s9a38, s9a91, ss48a16, s9a122,
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ(122)(التوبة)
“dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”(s.9 At-Taubat 122).
Ayat di atas ini menunjukkan bahwa jihad dalam arti perang hukumnya wajib kifayah. Dan ada 3 faktor yang dapat menetapkan wajib jihad, yaitu: (1) Pecahnya pertempuran dengan musuh, maka semua warga wajib melawan (s8a45). (2) Jika musuh masuk ke negeri muslim. (3) Perintah berangkat perang oleh pimpinan umat Islam (s9a38).
Para ulama membuat syarat atas orang yang wajib maju perang sabil, yaitu: Islam, baligh, berakal, merdeka, laki-laki, dan mempunyai bekal serta tidak ada alasan yang kuat (‘udzur) untuk tidak berangkat. Sebaliknya ada 10 alasan tidak wajibnya seseorang maju perang, yaitu: buta, pincang, sakit, sakit kronis, tua bangka, lemah, melarat, anak-anak, wanita, budak belian. Dalam menetapkan komando perang pimpinan Islam wajib melakukan dakwah, demikian pendapat Imam Malik, ulama Hadawiyah dan Zaidiyah. Sebagian ulama tidak mewajibkan dakwah sebelum perang.
Bab II Seluruh manusia mampu menjalankan agama Islam
Allah menegaskan kemudahan syari’at Islam bagi umat manusia, ada 8 kali Al-Quran (s6a152, s7a42, s23a62, s2a286, s65a7, s2a233, s4a84) mencantumkan dalil bahwa kewajiban agama dapat dilaksanakan menurut daya kekuatan diri pribadi manusia. Allah tidak menuntut manusia melaksanakan perintah agama di luar kekuatan dirinya. Lebih mendalamnya kita perhatikan penjelasan para ulama mengenai masalah ini, yaitu sebagai berikut
((1)) Tafsur Ath-Thabari –penerbit Al-Ma’rifat (J3h103) mencatat bahwa Allah tidak suka membuat aturan agama yang memberatkan manusia bahkan Allah suka memberi kemudahan kepada para hamba.
Allah berfirman dalam Al-Quran:
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ (الحج 78)
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ (البقرة 185)
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ (التغابن 16)
Artinya:
~~“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”(S.22 Al-Haji 78).
~~” Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”(S.2 Al-Baqarah 185).
~~”Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu”(S.64 At-Taghabun 16).
((2)) Tafsir Ar-Razi terbitan Daru Ihya`it Turats (J7h115) mencatat bahwa Allah tidak menuntut manusia diatas kemampuan diri mereka artinya Allah tidak menuntut manusia untuk terlalu bersungguh-sungguh memeras keringat (ngoyo banget) menjalankan kewajiban agama. Allah berfirman dalam Al-Quran s4a28, s2a185:
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ (النساء: 28)
Artinya: “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu”(S.4 An-Nisa` 28).
Rasulullah Saw. bersabda dalam sebuah hadis, yaitu:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ (رواه ابن ماجه2033 )
Artinya: “Dari Abu Dzar al-Ghiffari bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Sungguh Allah mengampuni umatku atas kesalahan, lupa dan karena dipaksa”(HR. Ibnu Majah no. 2033) .
((3)) Tafsir Ad-Dur –terbitan Darul Fikri (Juz 1,h.569) mencatat ayat-ayat yang memberi keringanan dalam syari’at Islam, seperti Al-Quran s22a78, s2a185 dan s64a28 sebagaimana uraian di atas. Sebagai contoh adalah sebagai berikut:
@ Shalat sesuai dengan kemapuan
Rasulullah Saw. bersabda dalam suatu hadis, yaitu:
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الصَّلَاةِ فَقَالَ صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ (وراه البخاري1050)
“Dari ‘Amran bin Hashin yang sedang sakit bawasir ( ambeien?) bertanya kepada Rasulullah Saw soal bagaimana cara shalat (Jika sedabg sakit). Beliau bersabda: “Shalatlah dengan berdiri, jika tidak dapat berdiri maka dengan duduk, jika tidak bisa dengan duduk maka dengan berbaring”(HR. Bukhari no.1050).
((4)) Tafsir An-Nassafi terbitan Darun Nafais menafsirkan Qs2a286 mengaitkannya dengan s7h42 bahwa perintah agama itu diamalkan menurut kekuatan diri manusia. Semua syariat dilaksanakan sesuai dengan kemampuan manusia, seperti shalat 5 waktu, puasa satu bulan, haji satu kali, zakat jika memenuhi ukuran kaya dst.
Allah menginginkan agar manusia menjalankan syari’at Islam menurut ukuran daya kekuatan masing-masing tidak diukur menurut ukuran kemampuan orang lain. Lebih mendalam lagi kita perhatikan penjelasan para ulama, yaitu:
((1)) Tafsir Al-Qurthubi-terbitan Darun Nafais (J5h378) menafsirkan s4a103 mencatat sbb:
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا(103) (النساء)
Artinya: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”(S.4 An-Nisa`103).
Ada beberapa masalah dari ayat ini, seperti: Jika saat perang kamu shalat di atas onta, berdiri atau duduk atau bertiarap. Dalam waktu takut atau sakit shalatlah semampumu, yaitu: berdiri, duduk atau terbaring. Namun jika sudah aman dan keadaan normal supaya ibadah itu dilakukan dengan wajar dengan aturan yang ketat.
((2)) Tafsir Ibnu Katsir terbitan Daru Ihya`it Turats (J2h161) dalam menafsirkan Al-Quran s3a191 mencatat bahwa shalat itu sesuai dengan daya kekuatan hamba jika keadaan mengijinkan dilaksanakan dengan berdiri, jika tidak kuat boleh dengan duduk, jika tidak berdaya maka shalat dilakukan dengan terbaring, perhatikan Al-Quran dan hadis Bukhari no.1050 berikut:.
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِ(ال عمران 191)
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring …(S.3 Ali ‘Imran 191).
“Dari ‘Amran bin Hashin yang sedang sakit bawasir ( ambeien?) lalu bertanya kepada Rasulullah Saw bagaimana cara shalat. Beliau bersabda: “Shalatlah dengan berdiri, jika tidak dapat berdiri maka dengan duduk, jika tidak bisa dengan duduk maka dengan berbaring”(HR. Bukhari no.1050).
((3)) Tafsir Adhwa`ul Bayan (J3h110) menfasirkan Al-Quran s74a43-47 mencatat bahwa manusia wajib sembahyang selama dia hidup dan berakal sehat, walaupun shalat itu dilakukan dengan ukuran kemampuannya, berdiri, duduk atau berbaring. Dikaitkannya lagi dengan Al-Quran s19a31, s64a16 dan s2a286 menyatakan bahwa ibadah itu dilaksanakan sesuai dengan kemampuan manusia.
‎وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا(31) ( مريم)
“dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup”(S.19 Maryam 31)
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ (التغابن 16)
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu “(S.64 At-Taghabun 16)
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا (البقرة 286)
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya"(S.2 Al-Baqarah 286).
Rasulullah Saw. juga menekankan adanya kemudahan ini, yaitu:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَعُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ (رواه البخاري 6744 ومسلم 4348)
Artinya: “Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Saw. bersabda: “Tinggalkanlah apa yang aku tidak melakukannya,umat sebelum kamu binasa sebab suka bertanya lalu melakukan perbuatan yang bertolak belakang ajaran para nabi mereka. Apa yang aku larang jauhilah olemu, jika aku perintahkan sesuatu laksanakanlah menurut kemampuanmu’(HR. Bukhari no.6744 dan Muslim no.4348).
((4)) Kitab Fathul Bari terbitan Darul Fikri (J3h301) membuat syarah atas hadis Bukhari no.1050 dan no. 6744 di atas mencatat bahwa shalat harus menghadap kiblat tetapi jika tidak dapat maka shalat boleh dilakukan sedapat-dapatnya. Dan kepada orang yang sedang menghadapi malaikatul maut, maka dia harus di-talqin diminta untuk shalat, dengan membaca Al-Fatihah, baca takbir, dan seterusnya sampai selesai dituntuni di ucapkan atau hanya isyarat saja.
Macam-macam bidang yang lebih luas lagi, maka haji diwajibkan atas orang yang mempunyai bekal, orang musafir boleh berhutang puasa, shalat boleh dijamak dan diqashar, zakat diwajibkan kepada mereka yang hartanya mwncapai satu nishab. Semua ditunaikan menurut daya kekuatan pribadi masing-masing.
Bab III Air mata sama dengan darah syuhada` dalam jihad
Allah berfirman dalam AlQuran s9a91-92 tertulis dalam pokok bahsan tersebut di atas yang artinya sebagai berikut:
“dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”(S.9 At-Taubat 121-122).
Menjelang turunnya ayat ini terjadi peristiwa sebagai berikut;
Kitab Asbabun Nuzul (Juz 1:93&110) mencatat latar belakang turunnya Al-Quran s9a91 tersebut bahwa beberapa orang sahabat menghadap Rasulullah Saw. memohon bisa diberangkatkan ke medan Perang Sabil. Tetapi beliau menjawab bahwa tidak ada onta yang bisa memberangkatkan mereka. Mendadak para sahabat itu merasa sedih dan menyesal diri sambil menangis sendu (Nelongso banget). Lalu turun Al-Quran s9a91-92. Riwayat lain berasal dari Zaid bin Tsabit bahwa seorang buta menghadap Rasul Saw. mempertanyakan dirinya yang buta itu, kemudian turun ayat no.92 dari surat At-Taubat.
Dapat ditambahkan disini bahwa pada suatu hari tahun 9H tersebar berita bahwa tentara Romawi segera menyerang kaum muslimin lewat negeri Syam, maka Nabi Saw. segera menyiapkan pasukan dan terkumpullah 30.000 personil. Konon beberapa orang sahabat tersebut di atas menghadap kepada Rasul Saw. mohon ikut diberangkatkan ke medan perang, tetapi mereka tidak dapat diberangkatkan sebab kendaraan sudah habis berangkat semuanya, padahal jaraknya sangat jauh bahkan harus melalui padang pasir yang panas luar biasa. Akhirnya mereka menagis histeri menyesali nasib diri kaum yang sangat melarat seperti mereka ini. Melihat keikhlasan hati kelompok sahabat yang sangat melarat itu maka Rasul Saw. bersabda seperti tercatat dalam hadis Bukhari, Ibnu Majah atau Ahmad
عَنْ أَنَسٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي غَزَاةٍ فَقَالَ إِنَّ أَقْوَامًا بِالْمَدِينَةِ خَلْفَنَا مَا سَلَكْنَا شِعْبًا وَلَا وَادِيًا إِلَّا وَهُمْ مَعَنَا فِيهِ حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ (رواه البخاري2627 )*
Artinya: “Dari Anas R.a. bahwa Nabi Saw. dalam suatu peperangan beliau bersabda: Beberapa orang di kota Madinah kita tinggalkan, kita tidak berjalan sedikitpun, kita tidak menempuh lembah melainkan mereka itu menyertai kita ini mereka terhalang oleh suatu halangan-‘udzur (HR Bukhari no.2627). Menurut riwayat Ibnu Majah berbunyi sebagai berikut:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ بِالْمَدِينَةِ رِجَالًا مَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا وَلَا سَلَكْتُمْ طَرِيقًا إِلَّا شَرِكُوكُمْ فِي الْأَجْرِحَبَسَهُمُ الْعُذْرُ(رواه ابن ماجه2755)
Artinya: “Dari Jabir dia berkata: “(Ketika Rasulullah Saw. kembali dari perang Tabuk menjelang masuk kota Madinah) beliau bersabda: “di Madinah ada beberapa orang yang mana tidak ada satu lembah yang anda tempuh, tidak ada satu jalan yang anda lewati, kecuali mereka itu bersekutu pahala dengan anda sekalian”. Para sahabat bertanya: “Bukankah mereka itu berada di dalam kota?” Beliau bersabda: “Betul mereka itu di Madinah terhalang oleh ‘udzur”(HR. Ibnu Majah no. 2755).
Jadi yang menangis tidak dapat berangkat perang pahalanya sama dengan mereka yang menyabung nyawa di medan perang jihad fi sabilillah.
# Rasulullah Saw. bersabda dalam sebuah hadis, yaitu:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ (رواه ابن ماجه2033 )
Artinya: “Dari Abu Dzar al-Ghiffari bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Sungguh Allah mengampuni umatku atas kesalahan, lupa dan karena dipaksa”(HR. Ibnu Majah no. 2033) .
((3)) Tafsir Ad-Durrul Mantsur –Terbitan Darul Fikri (Juz 1,h.569) mencatat ayat-ayat yang memberi keringanan dalam syari’at Islam, seperti Al-Quran s22a78, s2a185 dan s64a28 sebagaimana uraian di atas. Sebagai contoh adalah sebagai berikut:
@ Shalat sesuai dengan kemapuan
Rasulullah Saw. bersabda dalam suatu hadis, yaitu:
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الصَّلَاةِ فَقَالَ صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ (وراه البخاري1050)
“Dari ‘Amran bin Hashin yang sedang sakit bawasir ( ambeien?) bertanya kepada Rasulullah Saw soal bagaimana cara shalat (Jika sedabg sakit). Beliau bersabda: “Shalatlah dengan berdiri, jika tidak dapat berdiri maka dengan duduk, jika tidak bisa dengan duduk maka dengan berbaring”(HR. Bukhari no.1050).

Nama sahabat yang disebut Al-Quran s9a91-92.
~~Tafsir Al-Qurthubi (1967,Juz 8,h.228) mencatat nama-nama mereka yang dimaksud oleh Rasulullah Saw. dalam hadis Bukhari no.2627 dan Ibnu Majah no.2033 di atas ini namanya ialah: Salim, ’Ulbah, Abu Laila, ‘Amru ibnul Humam, ‘Abdullah ibnul Mughaffal, Al-Harami, ‘Irbadh ibnu Sariyah. Ma’qil, Shakhr, ‘Abdullah bin Ka’ab, Tsa’labah, semua adalah orang-orang yang sangat melarat, tidak mempunyai bekal sama sekali. Peristiwa bahwa mereka tidak bisa berangkat dan menangis ini diabadikan Allah di dalam Al-Quran S9 At-Taubah 91-92 diatas.
Lebih jelasnya ialah bahwa Allah akan memberi pahala untuk setiap insan tidak diukur dengan kekayaan, pangkat, kepandaian atau kekuatan otot jasmani. Rasulullah Saw. bersabda kepada para pahlawan perang Tabuk sebagai tercatat dalam hadis berikut:
عَنْ أَنَسٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي غَزَاةٍ فَقَالَ إِنَّ أَقْوَامًا بِالْمَدِينَةِ خَلْفَنَا مَا سَلَكْنَا شِعْبًا وَلَا وَادِيًا إِلَّا وَهُمْ مَعَنَا فِيهِ حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ (رواه البخاري2627 )*
Artinya: “Dari Anas R.a. bahwa Nabi Saw. dalam suatu peperangan beliau bersabda: Beberapa orang di kota Madinah kita tinggalkan, kita tidak berjalan sedikitpun, kita tidak menempuh lembah melainkan mereka itu menyertai kita ini mereka terhalang oleh suatu halangan-‘udzur (HR Bukhari no.2627). Menurut riwayat Ibnu Majah berbunyi sebagai berikut:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ بِالْمَدِينَةِ رِجَالًا مَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا وَلَا سَلَكْتُمْ طَرِيقًا إِلَّا شَرِكُوكُمْ فِي الْأَجْرِحَبَسَهُمُ الْعُذْرُ(رواه ابن ماجه2755)
Artinya: “Dari Jabir dia berkata: “(Ketika Rasulullah Saw. kembali dari perang Tabuk menjelang masuk kota Madinah) beliau bersabda: “di Madinah ada beberapa orang yang mana tidak ada satu lembah yang anda tempuh, tidak ada satu jalan yang anda lewati, kecuali mereka itu bersekutu pahala dengan anda sekalian”. Para sahabat bertanya: “Bukankah mereka itu berada di dalam kota?” Beliau bersabda: “Betul mereka itu di Madinah terhalang oleh ‘udzur”(HR. Ibnu Majah no. 2755).
Maksudnya ialah bahwa mereka memperoleh pahala dengan hak yang sama antara yang tertinggal di Madinah dengan pasukan yang gagah berani yang bergelimang darah menyabung nyawa di medan perang. Ketentuan ini kita yakini berlaku atas seluruh amal dan ibadah kita kepada Allah.
Maka difaham dari Al-Quran s9a91-92 dan hadis riwayat Bukhari no. 2627 dan riwayat Ibnu Majah no. 2755 bahwa nilai pahala dari AIR MATA para sahabat yang ketinggalan di Madinah itu sama dengan pengorbanan jiwa raga pasukan berani mati, gugur sebagai syuhada` atau pulang dengan kemenangan di atas maka berbagai macam amal soleh dapat dikiaskan kepadanya, seperti misalnya guru ngaji, sedekah mirip zakat, puasa dan amal yang lain.
@Guru Ngaji
Kita fahamkan dari nash Al-Quran dan hadis di atas maka pahala seorang Samingun Guru Ngaji Alif - Ba`-Ta` di pucuk gunung pahalanya pasti sama dengan pahala pemberi kuliah keislaman Guru Besar Prof. Doktor Alwi Shihab di berbagai Perguruan Tinggi di Amerika, asalkan niat-semangat dan taqwanya sama.
@ Zakat emas atau uang
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh orang yang sudah terikat oleh ketentuan zakat itu. Salah satu ketetapan itu ialah bahwa siapa yang mempunyai hartanya mencapai satu nishab maka harta itu wajib dizakati dan untuk uang atau emas zakatnya ialah 2,5 %.
Menurut Az-Zuhaili dalam Al-Fiqhul Islami (1989:J-2,h.759) bahwa nishab emas ialah 91,92 gram. Jika seandainya satu gram emas harganya Rp.100.000,- maka orang yang mempunyai uang Rp.10 juta, maka dia wajib zakat 2,5%nya kira-kira Rp.250.000,- Jika uangnya Rp.100 juta zakatnya Rp.2,5 juta, jika Rp.100 milyar zakatnya 2,5 % yaitu Rp.2,5 milyar dan seterusnya 2,5% berlaku untuk semua uang berapapun besarnya.
Maka dari itu ukuran pahala zakat ialah 2,5% dari uang berapapun jumlahnya 100 trilun, milyar, juta, ribu sampai yang sekecil-kecilnya. Dengan ini pula dapat diduga bahwa barang siapa yang membayar zakat satu milyar rupiah dan siapa yang membayar sedekah berapapun kecilnya sebesar 2,5% dari harta miliknya maka pahalanya sama atas siapa yang melakukan amalan ini, oleh orang yang paling melarat sampai yang konglomerat mliyuner maka pahalanya adalah sama 2,5%, misalnya Habibi membayar zakat hartanya satu milyar (Rp. 1.000.000.000,-) dari jumlah kekayaannya yang 40 milyar, pahalanya sama dengan Embok Mariyem membayar sedekah Seribu Rupiyah (Rp.1000,-) dari uang sirkulasi modal jualan ketela godognya seharga Rp.40.000,- bahkan orang yang bersedekah (Sunat) 2,5 % hartanya maka derajat dia lebih luhur di atas mereka yang membayar zakat (wajib) sama-sama 2,5^% dari harta miliknya.
Pahala akan dikurangi jika niatnya atau tidak penuh Lillahi Ta’ala dan pahala akan dikurangi jika dalam membayar zakat itu dikurangi angkanya kurang dari 2,5% atau nilai serta harganya kurang dari wajibnya umpamanya jika menhyembelih korban atau memb ayar zakat hewan ternak itu dipilih yang cacat, sakit atau buntung dan sebagainya, yang pemiliknya sendiri tidak suka, maka pahalanya dikurangi. Allah berfirman;
وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (البقرة267)
Artinya: “Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”(S.2 Al-Baqarah 267).
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (ال عمران92)
Artinya: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”(s.3a92).
@ Puasa
Ibadah puasa merupakan ibadah yang sifatnya universal, seluruh hamba Allah mempunyai hak yang sama atas pahala dengan tidak pilih kasih, tua&muda, besar&kecil, laki-laki&perempuan, kaya&miskin, melarat&konglomerat, budak&tuan besar, seluruhnya sangat tergantung pada iman dan taqwanya kepada Allah, pahalanya akan diukur sangat ketat dengan iman dan taqwanya kepada Allah. Rasulullah Saw. bersabda dalam suatu hadis:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ (رواه مسلم 4651)*
Artinya: “Dari Abu Hurairah dia berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Sungguh Allah tidak melihat kepada gambar dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian”(HR Muslim CD no.4651).
Pada detik-detik terakhir, mungkin ada musibah yang dahsyat, sakit yang serius, susah dan sedih yang bertubi-tubi, ujian yang terlalu berat maka kita harus berusaha keras beramal menurut apa yang sedang dimiliki di tangan di saat itu, bahkan dengan modal yang sekalipun sangat sedikit seharga biji bayem. Rasulullah bersabda dalam suatu hadis:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ قَامَتْ عَلَى أَحَدِكُمُ الْقِيَامَةُ وَفِي يَدِهِ فَسْلَةٌ فَلْيَغْرِسْهَا (رواه احمد12435)
Artinya: “Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Jika seandainya kiamat datang kepada salah seorang kamu, sedang di tangan ada benih taburkanlah benih itu”(HR. Ahmad no. 12435).
عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّارَ فَتَعَوَّذَ مِنْهَا وَأَشَاحَ بِوَجْهِهِ ثُمَّ ذَكَرَ النَّارَ فَتَعَوَّذَ مِنْهَا وَأَشَاحَ بِوَجْهِهِ قَالَ شُعْبَةُ أَمَّا مَرَّتَيْنِ فَلَا أَشُكُّ ثُمَّ قَالَ اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ (رواه البخاري5564 ومسلم 1690)
Artinya: “Dari ‘Addi bin Hatim bahwa Nabi Saw. menerangkan azab neraka lalu beliau membaca Ta’awwudz dan beliau memalingkan wajah lalu menerangkan azab neraka lalu membaca Ta’awwudz dan beliau memalingkan wajah, sungguh dua kali aku tidak ragu, kemudian beliau bersabda: “Takutlah kamu kepada azab neraka itu walaupun hanya dengan satu biji kurma, jika kamu tidak memiliki apa-apa maka bacalah Kalimath Thoyyibah “( HR Bukhari no,5564 dan Muslim no.1690).
تقبل الله منا ومنكم تقبل يا كريم
(Semoga Allah menerima amal kita semua)
…………………….…………-=o0o=-………………………….………
(*) Hubungi kami di : http://imam-muchlas.blogspot.com
ketik kirim kepada: h.imam.muchlas @gmail.com

Melawan Teroris

09Jul/20 Tafsir Tematis Kontemporer

MELAWAN TERORIS

Al-Quran S.23 Al-Mu;minun 71
وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُم ْبِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ(71)(المؤمنون)
Artinya:
“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”(S.23 Al-Mu’minun 71).
Tema dan sari tilawah
1. Dalam dunia ilmu terkandung ajaran tentang benar dan salah
2. Dalam ilmu jiwa terkandung sifat-sifat jiwa, Instink atau nafsu-nafsu.
3. Nafsu itu ialah dorongan jiwa untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia secara baik dan makin baik sampai maksimal.
4. Dalam instink tercakup instink religios untuk menyembah Tuhan, jika instink religios ini diabaikan namanya melawan kebemaran.
5. Jika instink religios sudah dikalahkan oleh instink lainnya maka semua lahan hidup manusia akan hancur.
6. Allah sudah memberikan peringatan ini, tetapi manusia melawan.
Masalah dan analisa jawaban
1. Apa dan bagaimana batas yang benar dari yang salah itu? Jawaban sementara: Yang benar itu ialah apa yang dibenarkan secara universal oleh seluruh umat manusi, dimana saja dan kapanpun juga, jika tidak demikian maka benarnya berkurang atau memang tidak benar.
2. Apakah yang dimaksud dengan baik dan tidak baik secara maksimal itu? Jawaban sementara: Baik itu ialah sesuatu yang menyenangkan secara universal semua umat dimana saja dan kapanpun juga, jika tidak demikian namanya buruk sebab akan membawa kesengsaraan di dunia dan neraka di akhirat.
3. Bagaimanakah pandangan Islam terhadap Teroris itu? Jawaban sementara: Teror dan teroris itu bertentangan dengan kebenaran dan kebaikan dalam pandangan Allah yang Maha Benar dan Baik.
Pendalaman dan penelitian
BAB SATU
Mana yang benar mana yang salah
Masalah ke-1: Apa dan bagaimana batas yang benar dari yang salah itu? Jawaban sementara: Yang benar itu ialah apa yang dibenarkan secara universal oleh seluruh umat manusi, dimana saja dan kapanpun juga, jika tidak demikian maka benarnya berkurang atau memang tidak benar.
a.Ukuran benar dan tidak benar
Sejak jaman dahulu kala ahli pikir sudah membahas tentang apa yang dikatakan benar dan apa yang tidak benar itu. Para filosuf telah membuat rumusan bagaimana kita mencari yang benar yang hakiki, melalui beberapa teori:
@ Tingkat-tingkat dan skala prioritas Kebenaran
Sebagaimana terurai berkali-kali, disini diulang bahwa kebenaran ditinjau dari sumber datangnya pernyataan itu bertingkat-tingkat melalui skala prioritas dari yang paling bawah dalam arti yang paling lemah dikalahkan oleh kebenaran yang lebih tinggi atau yang lebih kuat karena lebih mendekati kebenaran yang hakiki, yaitu:
i Kebenaran indrawi
Info atau pernyataan yang datang dari hasil tangkapan pancaindera, dinilai benar jika dia sesuai dengan data faktual dan bila alat indera itu dalam keadaan sehat , bekerja dengan normal. Sehingga jika alat indera itu sakit atau kerjanya tidak normal, maka hasil penginderaan itu tidak dijamin kebenarannya.
ii. Teori ilmiah
Jika info hasil dari pengamatan panca indera diatas itu memang benar kemudian dikembangkan lagi melalui penelitian dengan menepati Ilmu Metodologi Penelitian Ilmiah sehingga teori ini berlaku umum atas semua kasus, bahkan sudah diuji dihadapkan kepada suatu majelis ilmiah misalnya di S-1, S-2, S-3, maka info atau pernyataan tersebut dinilai benar. Selanjutnya jika dikonfrontasikan terhadap kebenaran inderawi, maka Teori Ilmiah lebih kuat mengalahkan kebenaran hasil tangkapan yang sifatnya inderawi. Tetapi jika Ilmu Metodologi Penelitian Ilmiah atau Proses ujiannya tidak menepati sistem ilmiah, maka dia diragukan kebenarannya alias lemah kurang benar atau memang tidak benar.
iii.Filsafat
Definisi filsafat yang perlu kita pegang ialah definisi dari Sidi Ghazalba (1990:24) bahwa filsafat ialah usaha mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran tentang segala sesuatu yang dimasalahkan dengan berpikir secara radikal, sistematis dan universal. Oleh karena itu kebenaran filsafat tingkatnya lebih tinggi dan lebih kuat mengalahkan kebenaran teoritis ilmiah, asalkan kebenaran filsafat itu memang hasil dari kebenaran ilmiah lalu dikembangkan lagi benar-benar dilakukan dengan renungan yang sangat radikal, sistematis dan universal. Maksudnya sampai tuntas kepada ujung paling akhir, teratur, logis dan umum seluruh umat manusia, di semua tempat dan di segala waktu, menepati sistem filsafat dialektika, logika dan epistimilogi. Dengan demikian maka kebenaran filsafat lebih kuat mengalahkan kebenaran teori ilmiah lebih-lebih yang inderawi. (Menurut Hindro Priyono mantan Kepala BIN bahwa penumpasan Teroris harus dilakukan dengan data secara indrawi, ilmiah dan filosofis).
iv..Kebenaran wahyu
Bagi para pemeluk agama, maka ketiga kebenaran inderawi, teori ilmiah maupun filsafat itu dinilai sebagai hasil kerja otak manusia, sehingga pernilaian itu tidak lepas dari sifat manusia yang spekulatip, untung-untungan dan hipotetis artinya benar sementara selama belum ada koreksi, jika timbul koreksi atau pembatalan maka kebenaran inderawi, ilmiah dan filsafat tadi termasuk info yang benar tetapi tidak absolut, tidak mutlak. Oleh karena itulah maka kebenaran yang mutlak hanyalah kebenaran wahyu sebagai ilmu dari Allah Ta’ala yang mutlak serba Maha, Maha Tahu, Maha Benar mengalahkan kebenaran inderawi, teori ilmiah dan fisafat.
Untuk ini Allah berfirman di dalam Al-Qura>n, yaitu:
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ()وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (البقرة ( 147 -148)
Artinya: “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”(S.2 Al-Baqarah 147-148).
Kita sebagai umat Muh}ammad Saw. harus beriman kepada peringkat sumber hukum yang benar menurut ajaran Islam Al-Qura>n S.4 An-Nisa>‘ 59 dan hadis Mu’a>dz ibnu Jabal, maka tingkat-tingkat kebenaran hukum itu adalah sebagai berikut:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (النساء 59)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”(s.4 An-Nisa>‘ 59).
Rasulullah Swa. bersabda di dalam hadis berikut:
عَنْ رِجَالٍ مِنْ أَصْحَابِ مُعَاذٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ كَيْفَ تَقْضِي فَقَالَ أَقْضِي بِمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه الترمذي1249 وابوداود3119)*
Artinya: “ Dari orang-orang teman dekat Mu’a>dz memberitakan bahwa Rasulullah Saw. telah mengutus Mu’a>dz ke Yaman, maka beliau bertanya: “ Bagaimana engkau memutuskan perkara ?” Mu’a>dz menjawab: “Aku menetapkan sesuatu berdasarkan Al-Qura>n” Beliau bertanya: “Jika di dalam Al-Qura>n itu tidak diketemukan keputusannya?” Mu’a>dz menjawab: “Aku tetapkan berdasarkan Sunnah Rasulillah Saw.” Beliau bertanya: “Jika di dalam Sunnah Rasul Saw. tidak diketemukannya bagaimana?” Mu’a>dz menjawab: “Aku berijtihad dengan akalku”. Beliau bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada Mu’a>dz utusan Rasulullah Saw”(HR. Turmudzi> no.1249 dan Abu> Da>wud no.3119).
Dari semua catatan tersebut di atas maka ternyata kebenaran itu bertingkat-tingkat dari yang tertinggi sampai yang paling rendah maka kebenaran yang lebih tinggi mengalahkan kebenaran yang di bawahnya sebaliknya kebenaran yang tingkat rendah tidak dapat mengalahkan apa yang benar tingkat di atasnya berturut-turut sampai yang paling tinggi. Khusus bagi orang yang beriman, tingkat-tingkat kebenaran itu tersusun sebagai berikut:
i. Kitabullah Al-Qura>n, kebenarannya bersifat mutlak tidak terkalahkan
ii. Sunnah Rasul Saw. maka nabi dan rasul itu dijamin oleh Allah dia Ma’shu>m artinya suci dari kesalahan dan dosa, maka kebenarannya satu tingkat di bawah Kitabullah. Memang nabi dan rasul itu mendapat hidayah, penjagaan dan koreksi ketat dari Allah sendiri
iii. Ijtihad akal, ijtihad artinya betul-betul berpikir sangat mendalam, ketat sekali menjunjung tinggi hukum berpikir berusaha keras mencari kebenaran. Hasil ijtihad disini mencakup kitab-kitab fiqh bahkan semua buku-buku dari seluruh cabang disiplin ilmu dalam Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi (IPTEK) sampai kepada ilmu filsafat sekaligus.
Dari peringkat dan prioritas kebenaran yang pertama sampai terakhir terurai di atas, maka usaha untuk mencari ukuran tentang baik dan benar itu tidak lain kecuali mengikuti aturan Allah yang mempunyai sifat Absolut Maha, lebih-lebih mengenai soal-soal alam gaib soal apa yang ada dibalik alam yang serba inderawi ini tidak ada jalan lain kecuali harus mencari penjelasan dari wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla. Seluruh umat manusia wajib berpegang teguh kepada Al-Qura>n dan Sunnah Nabi
BAB DUA
Mana yang baik mana yang tidak baik
Masalak le-2:Apakah yang dimaksud dengan baik dan tidak baik itu? Pokoknya yang baik itu ialah sesuatu yang menyenangkan secara universal semua umat dimana saja dan kapanpun juga, jika tidak demikian namanya buruk sebab akan membawa kesengsaraan di dunia dan neraka di akhirat.
@ Ukuran baik atau buruk
Para ahli piker samapi filosuf semua mencari ukuran apa yang dimaksud dengan baik dan baik secara maksimal itu?
Dari jaman Yunani teori Epicuros, Jeremy Bentham, John Stuart Mill, sampai aliran rasionalis Islam Mu’tazilah bahkan Muh}ammad ‘Abduh dapat disimpulkan bahwa yang disebut baik itu ialah sesuatu yang membawa manusia kepada kelezatan dan kebahagiaan, sebaliknya yang disebut buruk itu ialah sesuatu yang membawa akibat yang tidak enak dan menyengsarakan manusia.
Adat (adat kebiasaan) berasal dari bahasa Arab yang juga disebut dengan “Al-‘Urfu” Para ulama dan ahli piker Ibnul Manzhu>r, Al-Ghazali>, Al-Jurja>ni>, Al-Yas>su>‘i>, Ar-Ra>ghib al-Asfiha>ni>, Az-Zamakhsyari>> semua memberikan kesimpulan bahwa istilah Adat atau “Al-‘Urfu” itu mengandung muatan unsur BAIK, artinya suatu tingkah laku yang sudah menjadi adat kebiasaan orang banyak, adat itu dilakukan karena dirasakan baik, artinya dia membawa manusia kepada kesenangan dan kelezatan.
Para pakar Hukum Adat mulai dari Moh. Koesnoe, Kusumadi Pujosewoyo, Muh}ammad Abu> Zahrah, Al-Khayya>th, van Vollenhoven, Ibnu ‘A>bidi>n, bahkan hadis riwayat Ah}mad ibnu H}anbal sampai kepada Al-Qura>n S.6 Al-An’a>m 199 menyinggung makna bahwa Adat kebiasaan itu mengandung unsur kebaikan atau faktor yang dipandang BAIK oleh orang banyak.
Manusia karena mempunyai akal dan perasaan hati maka timbullah bermacam-macam pendapat mengenai ukuran baik-buruk, yaitu sebagai berikut:: .
(1) Penganut teori Darwin mengunggulkan bahwa yang baik itu ikut yang kuat, yang berkuasa. Celakanya ialah timbulnya perebutan kekuasaan dan orang yang dipandang kuat ini dikalahkan oleh orang baru yang langkah tindakannya jauh berbeda dari yang dikalahkan tadi.
(2) Pengikut teori Sosiologi mengajukan pendapat bahwa yang baik itu ikut orang banyak. Hanya saja teori ini tidak bisa dipegangi sebab selalu berubah-ubah.
(3) Sebagian pemikir mengemukakan pendapat bahwa yang baik itu ialah apa yang timbul dari alam bawah sadar (subcinscious), sebab semua langkah kita itu timbul dari endapan pengalaman yang lewat.
(4) Di sisi lain ada orang yang berpendapat bahwa yang baik itu ialah apa yang sesuai dengan tempat, jaman dan nuansa kehidupan. Tersimpul dari aliran ini ialah bahwa nilai baik atau buruk ini kabur bahkan tidak ada aturan mana yang baik mana yang buruk, sebab tiap tempat dan waktu serta situasi selalu berbeda-beda.
(5) Suatu aliran lagi mengatakan bahwa yang baik itu ialah yang disukainya sebaliknya yang tidak baik itu ialah yang tidak disukai yaitu teori Like and dislike. Kesulitan akan datang karena masing-masing orang bertikai satu sama lain mana yang disukai mana yang dibenci, sehingga nilai baik dan buruk itu menjadi tidak ada kesepakatan.
(6) Aliran Utilitarianisme mengatakan bahwa yang baik itu ialah yang enak. John Stuart Mill (1873M) memperbaiki teori ini menyatakan bahwa yang terbaik ialah yang enak maksimal, yang memberi nikmat kepada orang sebanyak-banyaknya, nikmat lahir dan batin, The Greatest happiness of the greatest numbers, kelezatan jasmani maupun rohani dan bersifat universal.
(7) Madzhab teori idealis menyatakan bahwa baik dan buruk itu mengukurnya melalui 3 nilai, yaitu kebenaran, kebaikan dan keindahan. Namun bagaimanapun idealnya suatu ukuran, semua itu tetap bersumber dari akal manusa dan tidak ada satupun manusia di alam ini yang sempurna, sehingga semua nilai yang mereka ajukan inipun bersifat spekulatip untung-untungan dan hipotetis artinya nilai sementara yang sewaktu-waktu akan berobah atau menjadi salah..
@ Yang paling ideal yaitu bahwa yang baik itu ialah yang enak, lezat, menyenangkan, memuaskan mutlak universal membawa manusia kepada kelezatan yang tertinggi, kepuasan untuk semua orang, segala tempat dan seluruh jaman. Manusia tidak mungkin mengetahui manakah sesuatu yang memberikan kelezatan yang paling tinggi, yang juga dinikmati oleh semua orang, segala tempat dan seluruh jaman, yang Maha Mengetahui hanyalah Allah.
Oleh karena itulah maka menurut Al-Ghazali> yang baik itu ialah mengikuit ketentuan Allah, apa yang dipandang baik oleh Allah itulah yang baik dan sebaliknya yang buruk ialah yang dipandang buruk oleh Allah, sebab Allah itu Maha Mengetahui secara mutlak mana sesuatu yang akan membawa kepada kenikmatan yang hakiki bahagia untuk seluruh umat mausia secara universal siapa saja, dinamapun berada dan kapanpun juga bahkan di dunia sampai akhirat kelak. Allah berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ( 14)
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”(S.3 Ali ‘Imran 14).
Manusia memang memandang harta, tahta dan nafsu birahi yang memberi kelezatan sesaat itulah sebagai ukuran baik dan buruk, lebih enak lebih bail, yang tidak enak itu jelek. Mestinya baik dan buruk itu harusnya diukur menurut ukuran Allah Ta’ala (s2a177).
Analisa: Tokoh aliran yang paling rasional ahli pikir Islam, Mu’tazilah yaitu An-Nazhzha>m bahkan Muh}ammad ‘Abduh menyatakan bahwa akal manusia memang dapat mengetahui kewajiban memilih perbuatan yang baik dan benar yang membawa diri hidup yang bahagia, tetapi manusia tidak mampu mengetahui seluruh masalah yang lebih rinci mendetail mana sesuatu yang baik mana yang tidak baik, mana yang benar mana yang tidak benar, sehingga menurut para ahli pikir, manusia ketika tidak mengetahui sesuatu itu baik atau tidak, benara atau salah, dia harus berlindung di bawah wahyu dan mencari petunjuk dari Allah yang Maha Mengetahui.
Allah Ta’ala memang berkehendak agar supaya manusia dapat hidup dan hidup terus, hidup yang lebih baik lagi, makin lama makin baik, hidup yang selamat, jauh dari penderitaan, selamat dari kesengsaraan, hidup sejahtera serba kecukupan segala kebutuhan hidup secara universal, aman sentosa, damai bahagia untuk seluruh umat manusia, di mana saja dan kapanpun juga, kekal abadi, dunia akhirat maka Allah memberi wahyu sebagai petunjuk hidup supaya diikuti dan ditaati oleh manusia.
Allah itu Mutlak Maha Mengetahui mencakup apa saja yang dikerjakan oleh orang seorang maupun masyarakat, sebaliknya manusia dan masyarakat tidak mengetahui akibat dari perbuatan atau adat kelakuam mereka apakah dia akan membawa diri kepada hidup yang selamat sejahtera, bahagia lahir batin untuk semua orang semua bangsa segala tempat abadi untuk selama-lamanya atay tidak Maka dari itu Allah mengirim nabi dan rasul utusan-Nya guna membimbing umat manusia untuk mengikuti petunjuk Tuhan ke arah hidup yang selamat, sejahtera bahagia dunia akahirat.
BAB TIGA
Islam menentang Teror dan Teroris
Masalah ke-3: Bagaimanakah pandangan Islam terhadap Teroris itu? Jawaban sementara: Teror dan teroris itu bertentangan dengan kebenaran dan kebaikan menurut pandangan Allah yang Maha Benar dan Baik.
Teror adalah suatu kondisi yang sangat miris menakutkan yang menimbulkan perasaan luar biasa datangnya bahaya yang mungkin terjadi. Teroris ialah pelaku yang membuat teror itu.
Dapat diduga bahwa pelaku pembuat terror ini melkukan perbuatan terror karena didorong oleh kenyataan bahwa usaha keinginannya tidak mungkin tercapai sebab ada pihak yang melawan atau menghadangnya yang mempunyai daya kemampuan yang terlalu jauh sehingga tidak mungkin keinginannya itu dilakukannya secara ilmiah, baik dan benar. Tetapi disebabkan karena keinginan atau keyakinan hatinya itu sangat kuat maka si pelaku mengambil jalan yang hanya diaku benar oleh dirinya atau pihaknya sendiri.
Disebabkan karena jaringan komunikasi telah didominasi oleh lawan-lawan Islam maka hampir semua jalur komunikasi dan mass-media apa saja beramai-ramai menyebarkan berita bahwa Islam itu adalah teroris. Padahal menurut penelitian yang jujur teroris itu dilakukan oleh kaum di luar Islam, sebagaimana semua negara anti Amerika menyatakan bahwa Amerika dan sekutrunya adalah negara teroris telah memerangi negara lain dan menyebarkan tuduhan bahwa teroris ialah mereka yang melawan serangan Amerika dan sekutunya itu.
Fuller seorang peneliti di Barat melalui sample sebanyak 498 data serangan teror tahun 2006 dia menyatakan sbb:
1. Sebanyak 424 kali dilakukan oleh kelompok separatis,
2. Sejumlah 55 kali dilakuakan oleh kaum ekstremis kiri,
3. 18 kali dilakukan oleh kekuatan teror lainnya,
4. Hanya satu teror yang dilakukan oleh kelompok Islamis.
Tetapi, karena Islam telah dijadikan agama tertuduh, akibat ulah sekelompok kecil pemeluknya, maka segala macam keganasan yang terjadi di berbagai negara langsung saja-dikaitkan-dengan-Islam.
Pandangan Islam terhadap terror dan teroris
Teror dan teroris itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam.
Teror adalah suatu kondisi yang sangat menakutkan dan menimbulkan perasaan miris akan bahaya yang mungkin terjadi sedangkan Teroris ialah pelaku yang membuat teror itu.
Teror dan teroris itu bertentangan dengan ajaran Islam, dalam berbagai bidang, yaitu:
1. Memilih dalil yang disukai dan menolak dalil yang lain,
2. Bertentangan dengan jaminan Islam atas Hak Asasi Manusia
3. Bertentangan dengan Hukum Perang dalam Islam,
4. Bertentangan dengan Hukum Qishash,
5. Bunuh Diri itu bertentangan dengan Nash Al-Quran
6. Tidak sesuai dengan Hukum Jihad fi Sabilillah
Ad 1 Memisah-misahkan dalil dari kaitannya.
Pelaku terror itu mengunggulkan dalil yang disukai dan meolak dalil yang lain Contohnya:
@يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ(التحريم9)
“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali”(S.66 At-Tahrim 9).
@ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِين َ(النحل125)
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”(S,15 An-Nahl 125).
S.66 At-Tahrim 9 mengandung perintah memerangi orang kafir dan orang munafik dengan sangat leras. Tetapi S.16 An-Mahl 125 memerintahkan kita untuk berdakwah dengan sangat bijak, dengan cara yang menyenangkan dan harus dengan modal yang serba lebih sehingga dapat mengalahkan lawan.
Memilih dalil yang disukai dan menolak dalil lain dapat terjebak meniru perbuatan kaum Ahli Kitab, Allak nerfirman”
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ(85 )
“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”(S.2 Al-Baqarah85).
Kita wajib mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh, tidak tanggung-tanggung serta tidak pilih-pilih dalil untuk dipegang teguh dan mengabaikan dalil yang lain, sesuai dengan firman Allah berikut:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ( البقرة 208)
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”(/S,2 Al-Baqaram 208).
Jadi kita semua harus berusaha sungguh-sungguh mempelajari landasan untuk seluruh gerak dan tindakan kita bahkan dengan wawasan yang luas segala asas dan dalil Al-Quran-Hadis maka kita akan menjadi orang yang bijak dengan sikap yang menyenangkan semua pihak sehingga lawan akan salut menerima Islam dengan senang hati.

Ad 2 Hak Asasi Manusia (HAM)
Abu> Zahrah dalam kitab Ushu>l Fiqh (1958:289) menyatakan bahwa tujuan syari,at Islam (Maqashidu sy-Syari’ak) itu ada tiga pokok utama, yaitu:
1.Menciptakan tiap pribadi sebagai sumber amal soleh
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ(النور55)
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”(S.23 An-Nur 55).
2.Keadilan yang merata seluruh umat, sesuai dengan firman Allah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ(الماءدة 8)
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan}(S/5 Al-Maidah 8). Lihat juga s17a70-s16a90-s49a13, 2a228
3.Masyarakat yang menikmati maslahah yang hakiki, yaitu terjaminnnya 5 macam kebutuhan hidup secara universal dan pengayoman akan hak asasinya (HAM).
Kebutuhan manusia yang universal menurut para Fuqaha` tercakup dalam firman Allah:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ ( الانباء107)
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”(S.21 Al-Anbiya` 107).
Kel;ima macam kebutuhan itu ialah jamianan dan perlindungan atas hak-hak berikut:
i. Jaminan hidup dan hidup yang lebih baik lagi
ii.Jaminan hidupnya syari’at Tuhan
iii.Jaminan hak atas harta kekayaan
iv. Jaminan atas hak pengembangan akal dan kebebasan berpikir
v. Jaminan hak atas pengembangan jenis dan keturunan.
Asy-Syathibi dalam Kitabnya Muwafaqat (tth:2\8) menyatakan bahwa jaminan terpenuhinya tujuan syari’at Islam tersebut dalam pelaksanaannya melalui tiga peringkat, yaitu:
i. Sangat mendesak (Adh-Dharu>riya>t), yaitu kebutuhan hidup yang benar-benar sangat diperlukan, jika tidak terpenuhi akan membayakan hidupnya
ii. Diperlukan (Al-H}a>jiya>t). yaitu kebutuhan hidup yang melengkapi kebutuhan pokok.
iii. Penyemourba (At-Tah}si>niya>t), yaitu kebutuhan hidup yang sifatnya meningkat ke taraf kehidupan yang maik menjadi lebih baik lebih sempurna.

Ad. 3 HUKUM PERANG
Hukum perang dalam nash Al-Quran dan hadis ditentukan sebagai berikut:
~Tidak mendahului dan tidak boleh melampaui batas
(1)وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (البقرة 190)
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”(S.2 Al-Baqarah 190).
(2) وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ (النحل 126)
“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar”(S.16 An-Nahl 126).
(3) ذَلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوقِبَ بِهِ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ(الحج60)
“Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya lagi, pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pema`af lagi Maha Pengampun)S.22 Al-Hajji 60)
5. وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ (الشوري40)
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa mema`afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”(S.42 Asy-Syura 40).
21334 عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ (1)مَنْ قَتَلَ صَغِيرًا (2)أَوْ كَبِيرًا(3) أَوْ أَحْرَقَ نَخْلًا(4) أَوْ قَطَعَ شَجَرَةً مُثْمِرَةً(5) أَوْ ذَبَحَ شَاةً لِإِهَابِهَا لَمْ يَرْجِعْ كَفَافًا (رواه احمد)*
“Dari Tsauban maula Rasulullah Saw bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa membunuh anak, orang sudah tua, mrmbakar pohon kurma, memotong pohon yang sedang berbuah atau menyembelih kambing milik orang lain maka dia pulang tidak akan cukup tidaka lebih”(HR Ahmad no.21334).
@ Perangi sampai tuntas
(5) فَإِذا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّى إِذَا أَثْخَنْتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّى تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ (محمد4)
“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka”(S.47
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ(التحريم9)
“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali”(S.66 At-Tahrim 9).
@ Dilarang membunuh orang perempuan dan anak-anak
2792 عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا قَالَ وُجِدَتِ امْرَأَةٌ مَقْتُولَةً فِي بَعْضِ مَغَازِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَتْلِ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ (رواه البخاري2792 ومسلم 3279)*
“Dari Ibnu ‘Umar r.a.katanya: “Dalam beberapa peperangan Rasulullah Saw tercatat ada wanita yang mati maka beliau melarang membunuh wanita dan anak-anak”(HR Bukhari 2762 dan Muslim 3279).
@. Dilarang memotong pohon-pohonan keculai dengan ijin yang di atas/
37276 عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّهم عَنْهمَا قَالَ حَرَّقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَخْلَ بَنِي النَّضِيرِ وَقَطَعَ وَهِيَ الْبُوَيْرَةُ فَنَزَلَتْ ( مَا قَطَعْتُمْ مِنْ لِينَةٍ أَوْ تَرَكْتُمُوهَا قَائِمَةً عَلَى أُصُولِهَا فَبِإِذْنِ اللَّهِ ) (رواه البخاري (
مَا قَطَعْتُمْ مِنْ لِينَةٍ أَوْ تَرَكْتُمُوهَا قَائِمَةً عَلَى أُصُولِهَا فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيُخْزِيَ الْفَاسِقِينَ ( الحشر5)
“Dari Ibnu ‘Umar-r.a bahwa Rasulullah Saw membakar pohon kurma kaum Banin Nadhir di Buwairah dan memotong batangnya maka turun Al-Quran S.59 Al-Hasyr 5(HR Bukhari no.2727).
"”Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik”(S.59 Al-Hasyr 5).

Ad 4. Hukum Bunuh diri
Bunuh diri itu dilarang keras dalam Islam, disebutkan dalam hadis:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا (رواهالبخاري 5333 ومسلم 158)
:”Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Saw bersabda: "Barang siapa terjun dari gunung bunuh diri maka besuk di neraka Jahanam akan terjun denikian kekal diabadikan selama-lamanya, barang siapa membunuh diri dengan barang siapa meminum racun maka racunnya itu di tangannya di neraka Jahanam kekal diabadikan selama-lamanya dan barang siapa bunuh diri dengan sepotong besi maka besinya itu di tangannya ditusuk-tusukkan atas perutnya di neraka jahanam kekal diabadikan selama-lamanya”(HR Bukhari 5333 dan Muslim 158)/

Ad 5 Hukum Qishash
Barang siapa melakukan delik pembunuhan, dihukum bunuh secara adil dan sangat jeli, Allah berfirman dalam Al-Quran:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا(92) وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا( البقرة 92-93)
“Dan tidak layak bagi seorang mu'min membunuh seorang mu'min (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan
barangsiapa membunuh seorang mu'min karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah.
Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mu'min, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin.
Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin
. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”(S.4 An=Nisa` 92-93).
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَى بِالْأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ (178)
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh;(1) orang merdeka dengan orang merdeka,(2) hamba dengan hamba dan (3)wanita dengan wanita.
Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar (diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula).
Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih”(S.2 Al-Baqarah 178)
@ Tentang orang-orang yang mati syahid
Tentang mati syahid para ulama membedakan mati syahid yang paling terpuji ialah mati syahid di medan perang, kemudian ada beberapa orang yang matinya disamakan dengan mati syahid dalam perang sabilyaitu orang-orang yang matinya disebabkan karena sebab-sebab khusus, karena sakit, kecelakaan atau karena membela hak yang benar, yaitu:
(1) 2617 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ (1) الْمَطْعُونُ (2)وَالْمَبْطُونُ(3) وَالْغَرِقُ (4)وَصَاحِبُ الْهَدْمِ (5)وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ (رواه البخاري)*
“Dari Abu Hurairah- r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Mati syahid itu ada 5 macam, terserang wabah penyakit (pes), terserang penyakit perut, terserang bencana alam, mati dimedan perang sabil”(HR Bukhari no.2617) Dalam Bukhari no.3143 tercatat mati tenggelam, kebakaran, gila, ibu mati sebab melahirkan.Di Bukhari no.2300 tercatat:mati membela hartanya 4025 tercatat mati karena dizalimi orang. Di Turmudzi 341 tercatat mati karena membela diri, membela keluarga,membela agama. Semua ini dinamakan mati syahid
Disamping bertentangan dengan hokum-hukum di atas terror dan teroris juga sangat bertentangan dengan hokum moral, bahwa yang dinamakan baik itu ialah sesuatu yang menyenangkan orang lain, di mana saja dan kapanpun juga. Maka siapa yang membuat orang lain menjadi tidak enak namanya tidak baik lebih menyusahkan, lebih menyakitkan orang namanya sangat jelek dan jelek sekali lebih-lebih menimbulkan korban meninggal yang cukup banyak. Na’dzu billah bagaimana jika korban yang mati itu sampai 200 orang atau lebi bagaiman Hukum Qishash-nya????
…………………….…………-=o0o=-………………………….………
(*) Hubungi kami di : http://imam-muchlas.blogspot.com
ketik kirim kepada: h.imam.muchlas @gmail.com

Sabtu, 25 Juli 2009

Gampang Sekali

Pengantar
Allah telah membekali para nabi dan rasul dengan mukjizat, yaitu suatu kejadian yang luar biasa yang tidak mungkin diperbuat oleh makhluk manusia. Mukjizat diwujudkan Allah melalui diri nabi dan rasul sebagai bukti dirinya itu menjadi utusan Allah.
Adapun manusia yang bukan nabi bukan rasul ada kemungkinan mempunyai kemampuan berbuat sesuatu yang luar biasa seperti mukjizat. Tetapi benar tidaknya perbuatan luar biasa itu dari Allah kita wajib berpegang kepada sumbernya yaitu jika diberitahukan oleh Allah kepada kita secara tegas difirmankan Allah dalam kitab suci Al-Quran atau melalui Rasulullah maka kebenarannya dijamin oleh Allah.
Suatu perbuatan yang luar biasa yang diperbuat oleh manusia selain nabi atau rasul yang tidak dicatat di dalam Al-Quran atau tidak dijamin oleh Allah maka perbuatan itu tidak dapat dipercaya kebenarannya bahkan mungkin dari syaitan musuh-musuh Allah.
Segala sesuatu adalah ciptaan Allah khususnya sesuatu yang menurut ilmu manuasia dilihat sebagai luar biasa, maka bagi Allah adalah gampang sekali. Allah berfirman dalam Al-Quran:
Al-Quran S.19 Maryam 19-22 dan S. 19 Maryam 7-9
يَازَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا(7)قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا()قَالَ كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا()(مريم8-9)
“Zakariya berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua"(8)


Tuhan berfirman: "Demikianlah". Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali"(9))S.19 Maryam 8-9)
قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا(()قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا()قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ ءَايَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا()فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا()(مريم 19-22)
“Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci".Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!" Jibril berkata: "Demikianlah . Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan." Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh”(S.19 Maryam 19-22).
Tema dan sari tilawah
I. Surat Maryam 7-9
1. Nabi Zakariya ketika usia tua mengaduh tidak mempunyai anak keturunan dan isterinya tidak menurunkan anak.
2. N. Zakariya berdo’a dalam nuansa yang sangat sunyi sepi sekali
3. N.Zakariya berdo’a memohon agar Allah menganugerahi dia seorang pewaris dirinya yang akan meneruskan tugas dakwah agama Allah.
4, Do’anya dikabulkan maka Allah menganugerahkan anak bernama Yahya, belum pernah ada nama itu sebelumnya.
5. Kejadian yang ajaib ini bagi Allah adalah mudah saja.
II. Surat 19 Maryam 18-22
1. Maryam putri ‘Imran yang suci waktu sendirian kedatangan seorang lelaki.

2. Maryam tidak suka ada orang laki-laki yang mendekatimya.
3. Ternyata laki-laki itu malaikat utusan Allah yang mengabarkan bahwa Maryam akan hamil dam melahirkan anak bayi yang suci.
4. Maryam menyatakan tidak mungkin akan hamil, sebab tidak pernah dia disentuh oleh seseorang manapun juga,
5. Tamu itu menyatakan bahwa keajaiban itu diperbuat Allah dengan mudah saja
6. Kelahiran anak tidak melalui hubungan seorang perempuan dengan lelaki itu juga merupakan ayat dan rahmat Allah.
Masalah dan analisa jawaban
Seorang Nabi Yahya yang sudah sangat tua dan isteri yang mandul bisa mengandung dan melahirkan Yahya, demikian juga Maryam menjadi hamil dan melahirkan Nabi ‘Isa merupakan suatu kejadian yang luar biasa aneh bin ajaib. Kejadian ini menimbulkan beberapa pertanyaan, yaitu:
1. Apa bedanya ilmu gaib dengan ilmu ilmiyah? Ilmu gaib itu ilmu yang tidak tunduk kepada Ilmu Metodologi Penelitian Ilmiah, sedang Ilmu Ilmiah ialah ilmu yang lahannya bersifat indrawi sehingga dapat diteliti melalui Ilmu Metodologi Penelitian Ilmiah.
2. Bagaimana isi dan tingkatan Ilmu Gaib itu? Isi Ilmu Gaib itu ialah ilmu yang dimiliki oleh makhluk gaib dan makhluk yang bisa masuk ke alam gaib. Peringkat Ilmu Gaib ada dua tingkat yang pertama tingkat rendah dimiliki oleh para penghuni alam gaib dan ke-dua ilmu Allah.
3. Apa bedanya Ilmu Gaib dengan Mukjizat? Ilmu Gaib dapat dipelajari oleh pelaku khusus sedangkan Mukjizat mutlak tidak dapat dipelajari oleh siapapun juga, sebab Mukjizat itu Ilmu dan Qudrat Allah.
Pendalaman fan penelitian


BAB SATU
Ilmu Gaib dan Ilmu Indrawi
Masalah ke-1: Apa bedanya ilmu gaib dengan ilmu ilmiyah? Ilmu gaib itu ilmu yang tidak tunduk kepada Ilmu Metodologi Penelitian Ilmiah, sedang Ilmu Ilmiah ialah ilmu yang lahannya bersifat indrawi sehingga dapat diteliti melalui Ilmu Metodologi Penelitian Ilmiah.
a. Ilmu ilmiah
Segala ilmu pengetahuan jika diperoleh melalui metodologi penelitian ilmiah maka hasilnya menjadi pengetahuan ilmiah. Terciptanya pengetahuan ilmiah diperoleh melalui beberapa proses:
i. Pengamatam indrawi artinya dapat dilikat dengan pancaindra. ii.Eksperimen artinya setelah dicoba berkali-kali
iii.Generalisasi yaitu kesimpulan dari banyak-banyak keadaan
iv.Verifikasi maksudnya sidah diuji oleh para pakar yang hasilnya cocok antara teori dengan kenyataan.
Ciri-ciri pengetahuan ilmiah ialah terbuka bisa dibuktikan oleh orang lain dan memang cocok benar, datanya obyektif. Obyektif maksudnya ialah teras dari rasa sentimen tidak terikat oleh keinginan suka dan tidak suka, netral dari pernilaian pihak-pihak mana saja.
Obyek yang diteliti ialah data, yaitu wujud yang dapat disaksikan dengan indra lahir, sehingga wujud tadi dapat diambil gambarnya melalui kamera tustel, dapat direkam suaranya, dapat diraba dengan anggota tubuh, dapat dirasakan dengan alat indra atau syaraf perasaan.
Dari penelitian ilmiah akan dapat menghasilkan rumusan atau pedoman untuk mengatasi masalah, meramalkan dan mengawasi proses penyelesaian masalah yang tercakup dalam IPTEK dan menjadi bagian salah satu cabang disiplin ilmu dari IPTEK.
Suatu riset atau penelitian itu dilakukan karena adanya pertanyaan yang harus dicari jawabannya.


@ Tingkat-tingkat ilmu pengetahuan
Para pakar membagi ilmu pengetahuan menjadi 4 tingkat, yaitu: 1) Pengetahuan. 2)Teori, 3) Filsafat. 4) Agama.
1. Pengetahuan ialah ilmu yang diperoleh hanya melalui panca indra lahir. Kebenaran pengetahuan ini sangat terikat oleh kondisi alat indra dan tata kerja alat itu, sehingga jika alat indra rusak atau tidak bekerja dengan benar misalnya sakit atau ada gangguan maka hasil penyerapan indra itu menjadi tidak benar alias salah
2. Teori, jika pengetahuan hasil penyerapan oleh infra itu benar lalu dikembangkan melalui Ilmu Metodologi Penelitian Ilmiah dan sudah diuji oleh ahlinya maka dia dapat menghasilkan teori yang dapat diterapkan atas semua kasus yang memenuhi syarat dari teori itu dan kebenarannya dapat diterima selama belum ada teori baru yang membatlakna teori ini.
3. Filsafat, jikalau teori tersebut diperdalam secara teratur, sistematis, obyektif, radikal, universal akan menghasilkan filsafat yang kebenannya dapat berlangsung sangat lama.
Nomer 1, 2 dan 3 du atas ini karena sumbernya dari akal manusia maka kebenarannya tidak abadi tetapi masih spekulatif-untung-untungan dan hipotetis diniali benar selama belum dikalahkan oleh ilmu yang baru.
4. Agama dari Wahyu dari Tuhan, ialah ilmu Allah kebenarannya mutlak, abadi berlaku atas seluruh alam mana saja di dunia sampai akhirat.
b. Ilmu gaib
Ilmu gaib ialah ilmu yang diperoleh secara rahasia, tidak masuk akal, tidak dapat dipelajari oleh orang biasa, tidak bisa diperjual belikan, tidak dapat diuji kebenarannya dan tidak dapat diajukan ke meja hijau-pengadilan. Dan untuk mencari ilmu gaib itu caranya ialah dengan sembunyi-sembunyi di tempat yang sunyi, tidak ada saksi, tertutup tidak boleh orang lain mengetahuinya, tidak bisa dijual atau dibeli, tidak berlaku sama atas orang lain, tidak dapat direkam gambar atau suaranya.
Contoh ilmu gaib misalnya ilmu melihat memedi, gendruwo, wedon, ilu-ilu, banaspati, thethekan, santhet, pelet, sihir, kuntilanak, guna-guna, jampi-jampi. Dalam saat yang sama ditempat yang sama maka dua orang yang satu bisa menyaksikan gendruwo yang satu tidak dapat melihat. Untuk gampangnya ilmu gaib itu adalah ilmunya syaitan, sedangkan yang dapat memiliki ilmu gaib itu ialah jin, syaitan dan makhuk halus lainnya. Ilmu gaib menghasilkan keadaan yang luar biasa bertentangan dengan ilmu ilmiah dan tidak masuk akal. Dan ilmu gaib itu mungkin luasnya mengalahkan ilmu ilmiah, sebab tidak mengikuti teori logika akal.
BAB DUA
Masalah ke-2: Bagaimana isi dan tingkatan Ilmu Gaib itu? Isi Ilmu Gaib yang dimiliki oleh makhluk penghuni alam gaib dan makhluk yang bisa masuk kedalam alam gaib. Peringkat Ilmu Gaib ada dua tingkat yang pertama tingkat rendah dimiliki oleh para penghuni alam gaib dan ke-dua ilmu Allah.
@Tinjauan filosofis
Kembali kepada masalah soal alam yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera maupun akal, yang juga dapat disebut dengan metafisika. Menurut Kamus Oxford bahwa Metaphysica ialah Abstract talk artinya pembicaraan mengenai soal yang sifatnya abstrak alias gaib. Para pakar ahli pikir memberikan pengertian bahwa metafisika ialah ilmu tentang hakikat segala sesuatu.
Sayyid Hosein Nasr dalam Ensiklopedi Filsasfat Islam (2003:1090) mengatakan bahwa metafisika ialah: Apa-apa yang di atas alam, apa-apa yang di belakang alam atau filsafat alam ketuhanan. Dapat ditambahkan lagi bahwa memurut mereka tujuan tertinggi manusia ialah metafisika.
Hasbullah Bakry mencatat bahwa metafisika itu berasal dari bahasa Yunani Meta artinya ialah “sebaliknya, sesudah atau selain”, Kata-kata fisika artinya alam nyata. Maka metafisika ialah apa-apa yang berada dibalik alam nyata. Maka Metafisika maksudnya ialah Ilmu yang menyelidiki apakah hakikat dibalik alam nyata ini yang juga mengandung makna ilmu yang menyelidiki hakikat segala sesuatu yang mencakup apa yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera ataupun akal. Kemudian menurut Hasbullah Bakry metafisika itu ada dua bagian, yaitu ontologi dan teologi yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Ontologi
Ontologi ialah suatu ilmu bagaimana kita memahami hakikat dari segala yang ada ini, yang terdiri dari materi dan rohani. Ilmu fisika hanya mempersoalkan apa yang dapat ditangkap oleh panca indera saja, sedangkan apa yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera atau akal dibicarakan oleh ilmu metafsisika.
Dalam memandang dua kenyataan materi dan rohani ini maka timbul 4 macam aliran pikiran, yaitu:
a) Dualisme ialah suatu aliran yang percaya bahwa dalam alam semesta ini ada dua hakikat, yaitu dunia materi yang dinamakannya “dunia ruang” dan dunia rohani yang mereka namakan “dunia kesadaran”, kedua-duanya sama-sama abadi dan azali demikian pendapat .Descartes (1650M). Di sisi lain Aristoteles (322M) menamakan dunia ruang itu materi sedangkan yang rohani dia namakannya forma. Menurut Al-Quran apa yang mereka percaya sebagai dualisme dalam arti luas adalah makhluk ciptaan Allah, seperti yang terurai di dalam ayat berikut:
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (الذاريات 49)
Artinya: “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah”(S.51 Adz-Dzariyat 49).
Faham yang berlawanan dengan aliran dualisme itu alah faham Monisme, yaitu bahwa hakikat apa yang ada ini hanya satu saja. Faham Monisme terbagi dua, yaitu Materialisme dan Idealisme.. Kaum Materialisme mengatakan bahwa hakikat dari semua yang ada ini adalah materi, sedangkan aliran Idealisme atau Spiritualisme mengatakan bahwa hakikat yang sebenarnya dari apa yang ada ini adalah rohani.
Ad.2. Materialisme
Para ilmuwan menyamakan faham Materialisme dengan Naturalisme karena mereka cenderung memusatkan perhatiannya kepada alam yang bersifat materi saja yaitu alam dunia ini; Thales (545SM) berpendapat bahwa asal usul alam itu dari air; Anaximandros (545SM) mengatakan bahwa asalnya dari apeiron yang sifatnya tak terbatas; Anaximenes (528SM) mengatakan asalnya dari udara; Demokritos (360SM) mengatakan asal usulnya dari atom, tidak ada lain di alam ini kecuali atom dan ruang kosong. Jelas mereka tidak percaya kepada Tuhan.
Para ulama menuduh kaum yang tidak percaya kepada adanya Tuhan Maha Pencipta dan Maha Pemelihara alam ini dan hanya percaya kepada otomatisnya proses jalannya alam adalah kaum Historis-Materialisme mirip dengan apa yang dituduhkan oleh Al-Quran kepada masyarakat Arab Jahiliyah dahulu yang disebut-sebut di dalam Al-Quran berikut:
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ (ألجاثية 24)
Artinya; “Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”(S.45 Al-Jatsiyah 24).
Ad 3...Idealisme atau Spiritualisme
Idealisme ialah aliran faham alam ini serba idea serba cita-cita dan aliran Idelaime juga dinamakan Spiritualisme; sedangkan spiritualisme ialah aliran yang percaya bahwa alam ini serba roh. Menurut aliran ini materi itu adalah penjilmaan dari rohani, sedangkan rohani itu nilainya lebih tinggi dari pada materi, karena materi itu hanya bayangan saja dari rohani. Menurut aliran idealisme kebudayaan itu perwujudan dari cita-cita sedangkan cita-cita itu adalah Rohani. Sasaran pikiran aliran Idealisme mencakup akal, kesadaran, cita-cita, jiwa atau suksma.
Ajaran Idealisme ini awalnya dikemukakan oleh Plato yang mengatakan bahwa hakikat yang sebenarnya dari semua yang ada ini adalah alam pikiran atau idea, sedangkan alam nyata yang menempati ruang ini hanyalah bayangan saja dari alam idea.
Ad 4.Agnosticisme
Aliran Agnosticisme adalah suatu aliran yang mengingkari kemampuan manusia untuk mengetahui hakikat materi ataupun hakikat rohani. Tokoh aliran Agnosticisme ialah Heidegger dan Jaspers yang berpendapat bahwa yang mutlak atau transendent itu tidak ada sama sekali.
B. TEOLOGI
Teologi ialah suatu faham ketuhanan yang tumbuh berpangkal melulu dari peristiwa kejadian alam saja, maka dari itu teologi ini dapat dinamakan Teologi Naturalis. Namun demikian sebagian dari merekapun juga mengakui adanya Sang Pencipta dan Pengatur alam, sehingga aliran ini juga dapat disebut dengan Theodiceia. Mereka ini mengakui adanya Tuhan berdasarkan akal melulu..
Seperti yang pernah digagas oleh Anaximandros bahwa asal usul alam semesta ini dari Apeiron yaitu sesuatu yang tidak mempunyai batas dan tidak terhingga. Senada dengan ini Herakleitos berpendapat bahwa alam semesta ini ada yang mengatur secara tetap sistematis, rapi dan terus-menerus yaitu Hukum Dunia namanya Logos. Logos sendiri artinya ialah pikiran yang benar dan dari bunyi logos berkembang menjadi Logika atau Logis. Menurut mereka Logos itu adalah “Hukum Dunia” dia mengatur dunia dengan sangat tertib.
Al-Quran mengatakan bahwa seluruh alam semesta ini mengucapkan tasbih artinya me-Maha Suci-kan Allah, hanya saja manusia tidak mengetahui cara mereka bertasbih. Menurut para ulama cara makhluk alam semesta bertasbih kepada Allah itu berwujud ketaatannya melakukan tugas masing-masing dengan sangat tertib teratur rapi sistematis otomatis, menetapi dan menepati angka ukuran, posisi, gerak kecepatan, daya, kemampuan, reaksi dan segala sifat materi sejak awal peciptaan bumi dan langit dahulu sampai sekarang ini. Allah berfirman:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ (النور 41)
Artinya: “Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”(S.24 An-Nur 41).

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (الاسراء 44)
Artinya: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”(S.17 Al-Isra` 44).
Hasbullah Bakry (1986:62) mengidentikkan Hukum Logos para filsuf di atas ini sangat mirip dengan Sunnatullah atau Hukum Allah, hanya sayangnya para ahli pikir tersebut tidak berhasil menemukan Tuhan yang menciptakan Logos mereka terhenti hanya merenungkan bekas-bekas atau peristiwa perubahannya saja. Selanjutnya Teologi Naturalisme ini dibagi dua, yaitu: Theisme dan Pantheisme. Anaxagoras berpendapat bahwa kodrat atau kekuasaan yang menggerakkan alam semesta ini datang dari luar, maka faham ini dinamakan Theisme. Sedangkan Demokritos berpendapat bahwa kodrat-kekuatan yang menggerakkan alam ini ada didalam alam itu sendiri, maka faham ini dnamakan Pantheisme, lalu berkembang sebagai berikut:


a) Theisme
Theisme ialah suatu aliran yang berpendapat bahwa kekuatan yang menggerakkan alam ini datang dari luar alam dan mereka menamakan–nya Tuhan. Tuhan inilah yang menggerakkan dan memelihara alam dengan sangat teratur. Sayang sekali para ahli pikir Theisme ini berhenti hanya pada pengakuan adanya Tuhan. Bahkan pengakuan itupun tidak jelas dan tidak seragam bagaimana sifat-sifat sesuatu yang mereka duga sebagai Tuhan itu, sehingga keterangannya saling berbeda menurut pikiran mereka masing-masing, misalnya Logos teori Herakleitos, Cinta teori dari Empedokles, Nus teori dari Anaxagoras dan Idea Tertinggi dari Plato serta Prima Causa teori dari Aristoteles tidak ada kesamaannya. Lebih dari pengakuan itu mereka tidak mampu meneruskan pemikirannya dan berhenti sampai disitu, sehingga Theisme ini tidak mengandung ajaran ibadah dan hukum agama, paling banter aliran ini hanya berspekulasi tentang adanya teori tentang etika yang juga saling berbeda rincian maupun global-umunnya.
b) Pantheisme
Pantheisme ialah suatu aliran pendapat bahwa kodrat kekuasaan yang menggerakkan alam ini berada di dalam alam itu sendiri. Faham Pantheisme ini mengandung beberapa macam teori, yaitu
1) Atomistik dari Xenophanes diteruskan oleh Demokritos mereka berpendapat bahwa alam ini tidak lain kecuali atom yang bergerak dan berkembang secara teratur sistematis.
2) Aliran Stoa berpendapat bahwa segala sesuatu di alam ini berwujud Jiwa dan Raga tidak mungkin jiwa saja tidak mungkin raga sendirian maka kesatuan jiwa dan raga itu dinamakan Pneuma dan Peneuma adalah Tuhan
3) Aliran Neo Platonisme berpendapat bahwa Tuhan dan alam merupakan satu kesatuan, dalam pengertian bahwa segala sesuatu merupakan limpahan atau emanasi dari Tuhan dan emanasi pertama berwujud roh alam, kemudian roh alam atau jiwa alam melimpahkan sesuatu berwujud dunia jasmani mirip teori idea Plato dan teori logos dari Herakleitos..
4) Aliran Natura-naturas teori Spinoza berpendapat bahwa yang menciptakan dan yang diciptakan itu adalah “sama dan satu”.
Politheisme itu sangat mirip dengan faham Pantheisme, hanya saja Politheisme berpendapat bahwa sebagian dari alam dapat menjadi Tuhan, sedangkan Pantheisme menyatakan bahwa alam ini adalah Tuhan tetapi orang tidak merasa dirinya Tuhan.
Hasbullah Bakry (1986:69) mengaitkan faham Politheisme itu dengan ajaran Trinitas bahwa salah satu oknom dari Trinitas itu ialah Yesus, maka Yesus itu manusia sekaligus Tuhan adalah jelas Pantheisme-Politheistis artinya banyak Tuhan menjadi satu dengan alam dan berada di dalam alam. Secara historis ajaran Trinitas ini berasal dari ajaran Stoa yang diusung oleh Paulus ke dalam agama Nasrani sedangkan teori penebusan dosa ajaran Paulus itu berasal dari filsafat Pythagoras.
Berangkat dari catatan Hasbullah Bakry bahwa Metafisika ialah apa yang dibalik alam nyata dan menurut HM.Rasyidi (1984:20) metafisika itu ialah apa yang dibelakang alam. Maka untuk memahami hakikat apa yang dibelakang alam dunia ini tidak lain harus melalui Al-Khaliq yaitu Dzat yang menciptakan alam nyata dan alam gaib atau yang menciptakan fisika dan metafisika.
Terhadap semua teori dan dugaan-dugaan para filosuf itu perlu kita membaca dugaan dan tulisan mereka itu dengan kaca mata Al-Quran, Allah berfirman sebagai berikut:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ (الانعام 116)
Artinya: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”(S.6 Al-An’am 116).

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ(147)وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(148)(البقرة)
Artinya: “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”(S.2 Al-Baqarah 147-148).
Dari peringkat dan prioritas kebenaran yang pertama sampai terakhir di atas, maka usaha untuk mengetahui alam gaib, soal-soal metafisika, apa yang ada dibalik alam nyata ini tidak ada jalan lain kecuali harus meminta penjelasan dari wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla. Lebih-lebih mengenai soal tentang Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat dan Takdir jelas kita semua wajib berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunnah Rasul Saw. Allah berfitman dalam Al-Quran:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (الانعام 59)
Artinya: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”(s.6 Al-An’am 59).
Barang siapa mengaku diri mempunyai ilmu gaib dan mempertontonkan diri dapat melakukan sesuatu yang luar biasa maka akan sangat membahayakan diri karena iman dan Islamnya dapat menipis sampai habis bahkan menjadi musyrik karena menyombong dan takabur serta melakukan dosa yang paling besar tidak akan memperoleh ampunan Allah, haram masuk surga. Oleh karena itu akan lebih selamat jika kita mempelajari ilmu ilmiah tidak memasuki alam gaib dan ilmu gaib.
BAB TIGA
Mukjizai atau bukan mukjizat
Masalah ke-3: Apa bedanya Ilmu Gaib dengan Mukjizat? Ilmu Gaib dapat dipelajari oleh orang-orang tertentu khusus sedangkan Mukjizat mutlak tidak dapat dipelajari oleh siapapun juga, sebab Mukjizat itu Ilmu Allah.
Ilmu gaib ialah ilmu yang ujung-ujungnya berasal dari penghuni alam gaib, jika ilmu dari syaiton maka isinya serba salah dan bohong sebab syaiton kerjanya ialah mengajak manusia kepada kesesatan, meuuju kesengsaraan dan azab Allah neraka jahanam melawan Allah .
Jika ilmu gaib ini berasal dari malaikat yang asalnya dari Allah, maka kebenarannya bersifat mutlak abadi universal. Salah satu ilmu gaib dari malaikat dari Allah ialah Mukjizat yang diterima oleh para nabi dan rasul utusan Allah. Demikian juga ilmu yang diterima oleh manusia yang khusus dipilih oleh Allah yang termaktub dalam firman Allah dalam Al-Quran atau melalui Nabi dalam hadis mutawatir setingkat dengan Al-Quran, misalnya Maryam perawan yang suci itu melahirkan Nabi ‘Isa dan Luqman.
@ Gampang sekali
Allah itu mempunyai ilmu serba Maha dan Mutlak Maha, maka Allah itu ilmunya terlalu jauh di atas ilmu makhluk manusia, sehingga jika manusia membuat sesuatu akan menjumpai berbagai macam masalah dan kesulitan maka Allah dalam menciptakan segala sesuatu itu begitu mudah dan gampang sekali. Contoh dan catatan para ulama dalam hal ini ialah sebagai berikut:
~ Al-Quran S.19 Maryam 9: Nabi Zakariya umurnya sudah terlalu tua dan isteri diduga mandul tidak akan mempunyai anak, tetapi jika Allah mengehndaki maka Allah cukup mengucapkan firman ”KUN” naka terciptalah apa yang dikehendaki Allah itu dengan sangat mudah dan gampang sekali dan ini Allah sendiri yang menyatakannnya.
~ Al-Quran S.19 Maryam 21: Maryam seorang gadis perawan yang suci tanpa hubungan dengan orang laki-laki dapat hamil dan melahirkan bayi Nabi ‘Isa, maka Allah cukup mengucapkan firman-Nya “KUN” maka jadilah Maryam mengandung dan melahirkan Nabi ‘Isa.
@Tafsir Ar-Razi (10h285) dalam membahas Al-Quran s19a19-22 mencatat bahwa dalam ayat ini malaikat itu menampakkan diri sebagai laki-laki agar supaya Maryam tidak takut, tetapi bahkan dia takut dan minta bukti bahwa tamu itu adalah malaikatقَالَ إِنَّمَا أَنَا
رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا (مريم 19)
"Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci"(S.18 Maryam 19).
Maka disinilah catatan bahwa Maryam memperoleh karomah. Lebih taajub lagi ialah bahwa dia akan mengandung anak tidak melalui perkawinan tanpa perantara laki-laki dan dijawab bahwa Allah menciptaan segala sesuatu itu tanpa alat atau bahan sebelumnya yaitu sbb:
قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا () قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آَيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا (مرلم 20-21)
“Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!" Jibril berkata: "Demikianlah . Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”(S.19 Maryam 20-21).
Disebutkan dalam Al-Quran S.3 Ali ‘Imran 47 bahwa denukian memang Allah menghendakinya. Untuk ini cukup Allah berfirman “KUN” maka terwujudlah kehendak Allah itu.
Allah itu Maha Kuasa menciptakan manusia tidak dengan bahan atau alat dan disebutkan dalam ayat-ayat itu bahwa Bayi ‘Isa nanti akan menjadi ayat-ayat Allah sekaligus menjadi rahmat.
Ar-Razi mengaitkan proses itu dengan ayat Al-Quran S.66 At-Tahrim 12, S.15 Al-Hijru 28 dan S.21 Al-Anbiya`91 bahwa Allah menghembuskan roh ‘Isa kepada Maryam. Sebagian ulama menyatakan bahwa yang menghembuskan nyawa itu ialah Jibril.
Ibnul Qayyim menyatakan bahwa Al-Quran mengaitkan lafal Roh kepada Tuhan dalam s66a12, s15a28 atau s21a91 maka Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa sesutau yang dikaitkan kepada Allah selain sifat-sifat Allah maka hukumnya adalah makhluk dan tidak ada makna menjadi “Oknum Tuhan” Contohnya ialah “Baitullah” (Rumah Allah), maka rumah atau Ka’bah itu bukan oknum Tuhan yang harus disembah. Para jamaah haji dinamakan “Dhuyufur Rahma” (Tamu-tamu Allah) artinya jamaah haji yang berjuta-juta itu tidak menjadi oknum Tuhan yang harus disembah. Demikian juga lafal Ruh dalam 3 ayat di atas sama sekali tidak mengandung makna roh itu menjadi oknum Tuhan maka Nabi ‘Isa dan malaikat Jibril bukanlah menjadi oknum Tuhan lalu harus disembah sama dengan Allah. Lebih tegas lagi ialah bahwa Jibril itu bukan Roh Kudus dan Nabi ‘Isa itu bukan sepertiga dari Tritunggal Tuhan dan Allah itu serba Maha Mutlak Maha Esa.
Ar-Razi mengutip riwayat dari Ats-Tsa’labi bahwa yang mengetahui kehamilan Maryam pertama kali ialah Yusuf seorang anak paman Maryam. Yusuf memperingatkan bahwa Allah Maha Kuasa menciptakan Adam dan Hawa tanpa hubungan lelaki dengan wanita.
@Tafsir Adhwa`ul Bayan (3h449) mengaitkan masalah itu dengan ayat-ayat s19a19 dengan s3a45-47 bahwa bayi dalam kandungan Maryam itu namanya ‘Isa kelak akan menjadi orang besar, dan ini bagi Allah gampang sekali.
إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَامَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ()وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ()قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ()وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ())ال عمران 45-48)
“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih `Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),
dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh."
Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia.
Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil”(S.3 Ali ‘Imran 45-48).
@ Mikjizat
Mukjizat ialah sesuatu yang luar biasa aneh bin ajaib yang diperbuat oleh seorang nabi atau rasul sebagai bukti nahwa dia adalah nabi atau rasul utusan Allah. Mukjizat itu sepnuhnya diciptalam oleh Allah tidak dapat diminta tidak dapat diusahakan oleh siapapun se;ain dari Allah. Allah menciptakan sesuatu yang dinamakan mukjizat itu dengan mudah dan gampang sekali cukup dengan kalimat Takwiniyah “KUN” maka apa yang dikehendaki Allah ini terwujud.
Termaktub di dalam Al-Quran bahwa para nabi telah mendapat mukjizat untuk nenperkuat dakwah risalah mereka, tercatat dalam Al-Quran di beberapa ayat berikut:
وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى(69)فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سُجَّدًا قَالُوا ءَامَنَّا بِرَبِّ هَارُونَ وَمُوسَى(70)(طه 69-70)
“Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang".Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata: "Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa"(S.20 Thaha 69-70).
وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَى(77)فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ بِجُنُودِهِ فَغَشِيَهُمْ مِنَ الْيَمِّ مَا غَشِيَهُمْ(78)(طه78)
“Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: "Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam) Maka Fir`aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka"(S.20 Thaha 77-78).
وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ قَالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ(15)(القصص 15)
“Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir`aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya)”(S.28 Al-Qashash 15).
@@وَرَسُولًا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (ال عمران 49)
“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu`jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman"(S.3 Ali ‘Imran 49).
@قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا ءَالِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ()قُلْنَا يَانَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ()وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ (الانبياء 69)
“Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi"(S.21 Al-Anbiya` 69-70).
Manusia selain nabi dan rasul tidak mungkin mendapat mukjizat, sebab nabi dan rasul sudah lewat yang terakhir ialah Khatamul Anbiya wal Mursalin Muhammad Saw. Untuk manusia biasa ada kemungkinan Allah memberi pertolongan yang namanya Karomah atau Kasyaf bukan mukjizat.
@ Karomah
@ Kitab Mafahimul Islamiyah dari Wazaratul Auqaf Mesir (1h260) mencatat masalah Al-Karomah, yaitu:
Al-Karomah artinya kemuliaan, Al-Mukarram artinya orang yang mulia lebih dari orang lain.
Menurut istilah Karomah itu hal yang luar biasa di luar kebiasaan yang ditampakkan oleh Allah pada diri seorang hamba yang mengikuti Sunnah Rasul, dibesarkan dalam kehidupan syari’at Islam, tumbuh dari iman yang suci, yang juga merupakan amal soleh.
Ada dua aliran pendapat mengenai Karomah ini: Menurut ulama Ahli Sunnah, Karomah itu mungkin dapat terjadi secara logika, bisa terjadi dalam kehidupan di dunia maupun setelah mati. Alasannya ialah Al-Quran s19 Maryam 19-22, S.19 Maryam 9-12 (Pokok bahasan di atas), S.3 Ali ‘Imran 37 dan S.18 Al-Kahfi 25 serta S.27 An-Naml 39.
كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَامَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ( ال عمران 37)
" Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab"ٍ(S.3 Ali ‘Imran 37)
وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا(الكهف 25)
" Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)”(S.18 Al-Kahfi 25).
قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا ءَاتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ(39)قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا ءَاتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ (النمل 39-40)
“Berkata `Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya". Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip"(S.27 An-Naml 39-40).
Kasyaf ialah suatu ilmu atau kemampuan karena anugerah dari Allah kepada hamba yang dicintai Allah sehingga secara umum keadaan itu dikatakan luar biasa tidak masuk akal
@Tafsir Al-Alusi (7h1) dalam menafsirkan s7a201 mencatat bahwa siapa meyakini rahasia takdir Allah maka dia akan selamat dari musibah ketika digoda setan.
@Tafsir Fat hul Qadir (3h266) menyatakan bahwa jika manusia meyakini takdir Allah akan terjadi maka nasib baik atau buruk dia akan merasa ringan-gampang.
@ Tafsir Ar-Razi (4h441) menyatakan bahwa siapa yang meyakini rahasia takdir pasti dia akan merasa gampang menghadapi musibah, sebab seluruh masalah itu tergantung kepada sebab-sebab yang berasal dari Allah, jika gagal yang diharapkan maka dia tidak mempunyai perasaan yang negative.
Dalam j3h115 Ar-Razi mengaitkan Al-Quran s2a186 dengan hadis Turmudzi 3531 mencatat bahwa do’a kita itu akan dikabulkan Allah selama kita meyakini sifat-sifat Allah, sehingga semua gerak-geriknya selalu mencari ridho dan disesuaikan dengan kehendak Allah, jika persis seperti kehendak Allah maka pasti do’a itu terkabul. Maka do’a itu ada beberapa arah, yaitu ada yang berisi tauhid, taubat atau ibadah.
Bahkan jika Allah sudah ridho bukan hanya akan mengabulkan do’a tetapi malah Allah akan memanjakan hamba yang sudah melakukan Taqarrub dengan amalan dan ibadah pengabdian kepada Allah lebih tekun sangat tekun lebih dari hamba Allah yang lain, ibarat Allah sudah jatuh cinta kepada kekasihnya, maka secara leterlijk arti lafal janji Allah itu ialah Allah menjadi pendengarannya, Allah menjadi matanya, Allah menjadi tangannya, Allah menjadi kakinya dan seterusnya . Allah menjajikan cinta-Nya ini tercatat dalam hadis Qudsi riwayat Bukhari no.6021 bweikut,
Allah berfirman dalam hadis Qudsi melalui sabda Rasulullah Saw. yaitu:
6021 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ (رواه البخاري)
Artinya: “Dari Abu Hurairah dia berkata: “Rasulullah bersabda: “Sungguh Allah berfirman: “Barang siapa memusuhi kekasih-Ku maka benar-benar Aku umumkan perang kepadanya. Ada hamba-Ku yang taqarrub-mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang menyenangkan Aku lebh dari apa yang Aku tentukan untuk dia. Ada hamba-Ku yang tidak henti-hentinya taqarrub-mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunat, sehingga Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintai dia, maka Aku menjadi pendengarannya dia mendengar dengan pendengaran itu, Aku menjadi pengelihatannya dia melihat dengan pengelihatan itu, aku menjadi tangannya dia berbuat dengan tangan itu, Aku menjadi kakinya, dia berjalan dengan kaki itu. Sungguh jika dia memohon kepada-Ku pasti Aku kabulkan, jika dia memohonan perlindungan-Ku maka dia pasti Aku lindungi”(HR Bukhari no.6021).
Jika boleh difahamkan barangkali hamba yang taqarrub kepada Allah hampir menyamai para nabi dan rasul, misalnya seperti Nabi Musa ketika berkelahi dengan kaumnya Fira’aun si musuh ini ditempeleng oleh Nabi Musa maka seketika itu mati tercatat dalam Al-Quran S.28 Qashash 15. Dalam hal ini Nabi Musa memperoleh mukjizat dari Allah, maka jika manusia biasa mungkin namanya Karomah atau Kasyaf.
Bagi kita mencari karomah atau kasyaf kiranya terlalu sulit, tetapi mencari cinta kasih Allah barang kali lebih memungkinkan bisa, asal memenuhi makna hadis shahih Bukhari no.6021 di atas, yaitu taqarrub kepada Allah lebih dari ukuran yang difardhukan oleh Allah kepada kita
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
Artinya: “Ada hamba-Ku yang taqarrub-mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang menyenangkan Aku lebh dari apa yang Aku tentukan untuk dia. Ada hamba-Ku yang tidak henti-hentinya taqarrub-mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunat, sehingga Aku mencintai dia,…………
Yang terakhir ini banyak para hamba yang mendapat cinta kasih Allah, sehingga do’anya dikabulkan, berbagai macam kesulitan dapat dipecahkan jalan keluarnya, sebagaimana dilaporkan setiap hari Selasa Rabu jam 4.3o-5.3o pagi di TPI di Masjid Darun Nida`. Contohnya seperti seseorang yang membeli mobil kredit masih kurang 3 tahun, sekarang tidak mampu membayar, maka oleh Ust. Yusuf Mansur bahkan disuruh harus berani berhutang banyak-banyak dan 90% nya disedekahkan, sebagai Taqarrub dia maka Allah akan mengembalikan hutang dia itu sepuluh kali lipat jumlah yang sudah disedekahkannya itu dan ini dibuktikan oleh para tamu peserta pengajian Ust. Yusuf Mansur.
Baik melalui mukjizat maupun melalui anugerah Karomah atau Kasyaf, maka bagi Allah semua ini gampang sekali padahal menurut ukuran akal manusia adalah luar biasa aneh bin ajaib, makhluk manusia maupun jin dan setan tidak mungkin dapat melakukannya.
=========================o0o=====================

Pengunjung Ke-

About Me

Label

  • TAFSIR TEMATIS (3)
Template by KangNoval & Abdul Munir | blog Blogger Templates